Menakar Andil Ideologis Muhammadiyah dalam Bingkai Kebangsaan

Rosyidin S
Senin, Juli 13, 2026 | 19.20 WIB Last Updated 2026-07-13T11:20:46Z

*Oleh: Lalu Fadli Said 

Penyandur: Lalu Fadli Said, salah satu mubaligh Muhammadiyah, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com - Muhammadiyah bukan sekadar ormas keagamaan yang lahir, tumbuh, lalu berjalan statis mengikuti arus zaman. Lebih dari satu abad perjalanannya di tanah air, organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini telah membuktikan diri sebagai pilar strategis yang merekatkan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan.


Refleksi mendalam mengenai posisi strategis ini kembali mengemuka, membedah sejauh mana peran kader dalam menjaga api ideologi organisasi demi kemaslahatan NKRI.


Melalui bedah gagasan yang tertuang dalam buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah, publik kembali diingatkan bahwa platform gerakan Islam ini memiliki kesadaran sejarah dan rasa tanggung jawab yang utuh terhadap eksistensi bangsa. Muhammadiyah tidak menempatkan agama dan negara dalam kutub yang saling berhadapan, melainkan sebagai dua elemen yang saling menguatkan.


Penyadur buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah sekaligus seorang Mubaligh Muhammadiyah, Lalu Fadli Said, menegaskan bahwa pemahaman ideologis ini sangat krusial agar Keluarga Besar Muhammadiyah (KBM) tidak kehilangan arah dalam melangkah.


"Menu khusus yang disajikan secara bertahap dari hari ke hari ini sarat akan bahan baku ilmu. Tujuannya jelas, agar Keluarga Besar Muhammadiyah semakin tercerahkan serta lebih dekat dengan Muhammadiyah, baik sebagai kader biologis maupun kader ideologis," ujar Lalu Fadli Said.


Secara historis dan konseptual, Muhammadiyah meyakini bahwa perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah jalan lurus untuk menyumbangkan dharma bakti terbaik bagi Indonesia.


Pancasila dan UUD 1945 tidak dipandang sebagai perangkat formalitas semata, melainkan fondasi kokoh yang siap diisi dan diwujudkan secara konkret melalui nilai-nilai luhur universal Islam.


Lebih lanjut, Lalu Fadli Said memaparkan bagaimana nilai-nilai teologis tersebut bertransformasi menjadi sikap politik dan sosial yang nyata dalam mendukung jalannya pemerintahan.


"Dalam pengertian yang demikian, Muhammadiyah berkomitmen penuh berjuang membantu pemerintah dalam perjuangan nasional. Fokus kita adalah membangun dan memelihara negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai Allah SWT," tambahnya.


Secara struktural, pondasi ideologis ini bukanlah angan-angan kosong. Gagasan besar mengenai integrasi Islam dan kebangsaan tersebut telah dikristalisasikan secara yuridis ke dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, tepatnya pada Pasal 4 dan Pasal 6.


Kejelasan regulasi internal ini menegaskan bahwa asas Islam yang dianut bermuara pada satu tujuan mulia: mewujudkan masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara lahiriah, tetapi juga bahagia secara batiniah.


Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, konsistensi penyebaran ideologi ini tentu memerlukan keterbukaan dialog dan evaluasi yang dinamis. Menutup paparannya, Lalu Fadli Said menekankan pentingnya dialektika yang sehat dalam merawat gerakan ini ke depan.


"Nantikan pesan berikutnya. Kami selalu siap menunggu kritik dan saran yang membangun demi kebaikan dan perbaikan kita bersama," pungkasnya.


Pada akhirnya, membaca kembali peta jalan ideologi Muhammadiyah adalah upaya merawat ingatan kolektif. Bahwa menjadi kader Muhammadiyah yang kaffah berarti menjadi motor penggerak kemajuan bangsa yang teguh memegang prinsip tauhid, sekaligus adaptif dan kontributif terhadap kemaslahatan tanah air.


Penyadur buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah: Lalu Fadli Said,*


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menakar Andil Ideologis Muhammadiyah dalam Bingkai Kebangsaan

Trending Now