*Oleh: Lalu Fadli Said
![]() |
| Penyandur: Lalu Fadli Said, salah satu mubaligh Muhammadiyah, (Foto: Istimewa/MP). |
Refleksi mendalam mengenai posisi strategis ini kembali mengemuka, membedah sejauh mana peran kader dalam menjaga api ideologi organisasi demi kemaslahatan NKRI.
Melalui bedah gagasan yang tertuang dalam buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah, publik kembali diingatkan bahwa platform gerakan Islam ini memiliki kesadaran sejarah dan rasa tanggung jawab yang utuh terhadap eksistensi bangsa. Muhammadiyah tidak menempatkan agama dan negara dalam kutub yang saling berhadapan, melainkan sebagai dua elemen yang saling menguatkan.
Penyadur buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah sekaligus seorang Mubaligh Muhammadiyah, Lalu Fadli Said, menegaskan bahwa pemahaman ideologis ini sangat krusial agar Keluarga Besar Muhammadiyah (KBM) tidak kehilangan arah dalam melangkah.
"Menu khusus yang disajikan secara bertahap dari hari ke hari ini sarat akan bahan baku ilmu. Tujuannya jelas, agar Keluarga Besar Muhammadiyah semakin tercerahkan serta lebih dekat dengan Muhammadiyah, baik sebagai kader biologis maupun kader ideologis," ujar Lalu Fadli Said.
Secara historis dan konseptual, Muhammadiyah meyakini bahwa perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah jalan lurus untuk menyumbangkan dharma bakti terbaik bagi Indonesia.
Pancasila dan UUD 1945 tidak dipandang sebagai perangkat formalitas semata, melainkan fondasi kokoh yang siap diisi dan diwujudkan secara konkret melalui nilai-nilai luhur universal Islam.
Lebih lanjut, Lalu Fadli Said memaparkan bagaimana nilai-nilai teologis tersebut bertransformasi menjadi sikap politik dan sosial yang nyata dalam mendukung jalannya pemerintahan.
"Dalam pengertian yang demikian, Muhammadiyah berkomitmen penuh berjuang membantu pemerintah dalam perjuangan nasional. Fokus kita adalah membangun dan memelihara negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai Allah SWT," tambahnya.
Secara struktural, pondasi ideologis ini bukanlah angan-angan kosong. Gagasan besar mengenai integrasi Islam dan kebangsaan tersebut telah dikristalisasikan secara yuridis ke dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, tepatnya pada Pasal 4 dan Pasal 6.
Kejelasan regulasi internal ini menegaskan bahwa asas Islam yang dianut bermuara pada satu tujuan mulia: mewujudkan masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara lahiriah, tetapi juga bahagia secara batiniah.
Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, konsistensi penyebaran ideologi ini tentu memerlukan keterbukaan dialog dan evaluasi yang dinamis. Menutup paparannya, Lalu Fadli Said menekankan pentingnya dialektika yang sehat dalam merawat gerakan ini ke depan.
"Nantikan pesan berikutnya. Kami selalu siap menunggu kritik dan saran yang membangun demi kebaikan dan perbaikan kita bersama," pungkasnya.
Pada akhirnya, membaca kembali peta jalan ideologi Muhammadiyah adalah upaya merawat ingatan kolektif. Bahwa menjadi kader Muhammadiyah yang kaffah berarti menjadi motor penggerak kemajuan bangsa yang teguh memegang prinsip tauhid, sekaligus adaptif dan kontributif terhadap kemaslahatan tanah air.
Penyadur buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah: Lalu Fadli Said,*

