Oleh: Lalu Fadli Said
![]() |
| Pendakwah: Lalu Fadli Said, seorang mubaligh Muhammadiyah. (Foto: Istimewa/MP). |
Bagi Muhammadiyah, jawabannya terletak pada penguatan akar ideologi. Langkah reflektif inilah yang coba dihadirkan oleh mubaligh Muhammadiyah, Lalu Fadli Said, melalui bedah gagasan berkala yang bersumber dari buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah.
Langkah menyadur dan membagikan sari pati pemikiran ini bukan sekadar aktivitas literasi biasa. Ini adalah sebuah ikhtiar ideologis untuk menyapa kembali Keluarga Besar Muhammadiyah (KBM). Menurut Lalu Fadli Said, menu khusus yang disajikan secara bertahap ini memiliki misi yang jelas, yaitu "agar Keluarga Besar Muhammadiyah semakin tercerahkan serta lebih dekat dengan Muhammadiyah sebagai kader biologis dan ideologis."
Pernyataan tersebut membawa pesan otentik yang mendalam. Menjadi warga Muhammadiyah secara "biologis" karena faktor keturunan atau lingkungan saja tidak lagi cukup. Diperlukan transformasi menjadi kader "ideologis" mereka yang paham, meyakini, dan memperjuangkan nilai-nilai gerakannya secara sadar.
Fondasi Tauhid dan Hukum Semesta
Membedah isi pemikiran yang disorot, orientasi gerakan Muhammadiyah sejatinya bermuara pada pemurnian tauhid dan kemaslahatan sosial. Kehidupan yang selaras dengan nilai Islam dimulai dari pengakuan sukarela yang tertuang dalam doa.
“Aku ridha Allah SWT sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulku.”
Dari kesadaran spiritual individu ini, lahirlah kesadaran sosial. Manusia pada hakikatnya tidak bisa hidup sendiri. Berdasarkan catatan reflektif Lalu Fadli Said, "Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah atau (hukum kodrat iradat) Allah atas kehidupan manusia di dunia ini."
Namun, bermasyarakat saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan tatanan nilai yang kuat. Ketimpangan sosial dan moral seringkali terjadi ketika manusia melupakan hukum Tuhan.
Oleh karena itu, ulasan tersebut menegaskan sebuah formula ideal bagi bangsa: "Masyarakat yang sejahtera, aman dan damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya."
Islam sebagai Solusi Zaman
Menjunjung tinggi hukum Allah bukan berarti bersikap kaku atau eksklusif. Dalam perspektif yang dihadirkan, Islam ditekankan sebagai agama universal yang dibawa secara estafet dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW untuk memanusiakan manusia. Islam diturunkan bukan untuk mengekang, melainkan menjadi kompas utama kehidupan manusia agar selamat dari jerat hawa nafsu destruktif.
Bagi warga Muhammadiyah, memegang teguh prinsip ini adalah sebuah kewajiban mutlak. Menempatkan hukum Allah di atas kepentingan atau hukum apa pun menjadi bukti nyata dari tauhid yang murni.
Melalui penyaduran berkala ini, Lalu Fadli Said sebenarnya sedang mengajak kita semua untuk pulang ke rumah ideologis Muhammadiyah. Dengan ruang diskusi yang dibuka lebar, sang mubaligh menegaskan komitmennya yang rendah hati dengan menyatakan, "Selalu siap menunggu kritik dan saran yang membangun demi kebaikan dan perbaikan kita bersama."
Sikap terbuka ini adalah cerminan dari watak Muhammadiyah yang berkemajuan teguh dalam prinsip ideologi, namun lentur dan adaptif dalam ruang dialog demi kemaslahatan bersama. Gerakan literasi bertahap ini patut dinanti, sebab dari sanalah rahim Muhammadiyah akan terus melahirkan kader-kader yang tidak hanya tercerahkan secara intelektual, tetapi juga kokoh secara ideologis.
Penyandur: Lalu Fadli Said*

