Tradisi Selamatan Laut di Pantai Sugian, Ritual Rasa Syukur, dan Jeda Konservasi Tiga Hari

Rosyidin S
Minggu, Agustus 02, 2026 | 20.51 WIB Last Updated 2026-08-02T12:52:11Z
Selamatan: Ritual selamatan laut pantai Sugian, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Masyarakat pesisir di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar ritual adat tahunan Selamatan Laut di kawasan Pantai Sugian. Tradisi turun-temurun yang dilaksanakan dua tahun sekali setiap awal bulan Agustus ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur para nelayan atas melimpahnya rezeki laut, tetapi juga menyimpan nilai kearifan lokal dalam menjaga kelestarian ekosistem maritim.


Ada yang unik dan berbeda pada pelaksanaan Selamatan Laut yang ke-10 kali ini. Jika pada gelaran sebelum-sebelumnya dilarung kepala kerbau, kali ini panitia dan tokoh masyarakat melarung kepala sapi ke tengah laut, di antara perairan Gili Sulat dan Gili Lawang. Titik pasti pelarungan ditentukan langsung oleh Sandro (tokoh adat setempat) melalui petunjuk spiritual.


Ketua Panitia Selamatan Laut, Lalu Mustiadi, menjelaskan bahwa penentuan lokasi pelarungan maupun perubahan hewan kurban tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti tradisi dan petunjuk tokoh adat.


"Awalnya kami selalu menggunakan kepala kerbau. Namun, tahun ini khusus kita pakai kepala sapi karena ada salah satu tokoh kami yang mendapat petunjuk melalui mimpi untuk menggunakan kepala sapi. Untuk lokasi pelarungan pun tidak bisa sembarangan ditentukan oleh panitia, melainkan sepenuhnya ditentukan oleh Sandro atau kepala adat," ujar Lalu Mustiadi.


Prosesi pelarungan berlangsung meriah meski dilakukan dengan penuh kesederhanaan. Sekitar 50 sampan nelayan yang dihias umbul-umbul mengiringi perahu utama dan mengelilingi titik pelarungan sebanyak tiga kali putaran.


Di balik kemeriahan dan nilai spiritualnya, Lalu Mustiadi menegaskan bahwa ajaran para leluhur dalam tradisi ini memuat pesan ekologis yang sangat kuat melalui ajakan konservasi laut.


"Setelah acara ritual ini selesai, ada nilai konservasinya yang sangat penting. Selama tiga hari ke depan, terhitung sejak hari Minggu hingga Rabu, sama sekali tidak boleh ada aktivitas di laut, termasuk memancing. Lingkungan laut diberi waktu untuk beristirahat. Nilai-nilai konservasi inilah yang diajarkan oleh orang-orang tua kita dulu dan terus kita laksanakan sampai hari ini,"* tegasnya.


Tradisi unik masyarakat Sambelia ini mendapat perhatian penuh dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Wirayang, menilai bahwa potensi kebudayaan lokal seperti Selamatan Laut di Pantai Sugian memiliki daya tarik tinggi untuk dikembangkan menjadi paket wisata budaya dan bahari unggulan.


"Harapan kita ke depan, event budaya seperti ini bisa dipasarkan lebih luas untuk mempromosikan keindahan Pantai Sugian. Tidak hanya mengundang wisatawan lokal, tetapi juga mancanegara. Prosesi unik seperti ini sangat potensial untuk dikemas menjadi paket wisata budaya yang menarik," ungkap Wirayang.


Ia menambahkan bahwa esensi dari ritual larung ini merupakan wujud syukur kolektif atas keselamatan dan rezeki yang diterima masyarakat nelayan sepanjang tahun.


"Prosesi membuang kepala sapi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, kesehatan, rezeki, serta keselamatan yang diberikan kepada para nelayan saat melaut," pungkasnya.


Melalui sinergi antara pelestarian adat, kesadaran konservasi lingkungan, dan pengembangan sektor pariwisata, tradisi Selamatan Laut di Sambelia diharapkan terus lestari serta memberi dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat pesisir Lombok Timur.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tradisi Selamatan Laut di Pantai Sugian, Ritual Rasa Syukur, dan Jeda Konservasi Tiga Hari