![]() |
| clean up: Pengelola Bukit Pergasingan melakukan bersih-bersih sampah, (Foto: Rosyidin/MP). |
Ketua Pengelola Bukit Pergasingan, Royal Sembahulun, mengungkapkan bahwa dampak penerapan sistem ini sangat terasa pada kebersihan kawasan. Kegiatan pembersihan (clean up) yang sebelumnya harus rutin dilakukan satu hingga dua kali seminggu, kini hanya perlu dilakukan seperlunya untuk membersihkan sisa sampah yang tertiup angin.
"Alhamdulillah ternyata responnya sangat positif. Artinya, selama ini kita hanya clean up satu kali, itu pun sampahnya sangat sedikit sekali. Padahal sebelumnya kita setiap minggu, bahkan seminggu dua kali melakukan clean up," ujar Royal saat ditemui di Sembalun, Sabtu (24/9).
Royal menegaskan, skema deposit sampah yang diterapkan bukan berfokus pada denda atau mencari keuntungan finansial, melainkan demi edukasi dan perlindungan lingkungan secara rinci. Sebelum naik, tas dan ransel para pendaki diperiksa untuk mencatat barang-barang yang berpotensi menjadi sampah.
Pihak pengelola menetapkan jaminan berupa deposit sebesar Rp10.000 per item barang bawaan. Namun, bagi wisatawan yang ingin menghemat biaya deposit, pengelola menyediakan fasilitas wadah isi ulang (tumbler) serta merekomendasikan repacking barang sebelum mendaki. Uang deposit tersebut dipastikan akan dikembalikan utuh 100% saat pendaki turun membawa kembali seluruh sampah sesuai catatan ceklis.
"Strategi ini bukan semata-mata kita untuk mencari keuntungan. Kita justru sangat bangga ketika pendaki membawa sampahnya full turun sehingga uang depositnya pun kita kembalikan utuh," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi potensi sampah hilang akibat gangguan satwa, pihak pengelola juga mewajibkan para pendaki mengikuti sesi pengarahan (briefing) sebelum melakukan pendakian.
"Sebelum naik itu kita berikan mereka informasi (briefing) bahwa sampahnya harus disimpan dahulu di dalam tas biar tidak diambil monyet," tambah Royal.
Melihat keberhasilan skema ini, pengelola berharap sistem ceklis dan deposit sampah dapat diadopsi dan direplikasi oleh pengelola bukit-bukit pendakian lainnya di kawasan Sembalun demi menjaga kelestarian ekosistem secara menyeluruh.
![]() |
| Deposit Sampah: Pengunjung ceklis sampah di loket pendaftaran pintu masuk Bukit Pergasingan, (Foto: Rosyidin/MP). |
Hadi mengaku tidak merasa terbebani dengan adanya uang deposit. Menurutnya, skema ini merupakan solusi konkret atas isu darurat sampah yang sempat ramai diperbincangkan di kawasan wisata pendakian.
"Kalau menurut saya pribadi sih ini bagus dan harus tetap ditekankan. Uang deposit kan tidak hilang, kalau ada bukti sampahnya kita bawa turun sesuai data saat naik, uangnya juga kembali. Menurut saya pribadi sangat efektif," tutur Hadi.
Apalagi, Hadi melihat sendiri kondisi di jalur pendakian Bukit Pergasingan saat ini sudah jauh lebih bersih dan teratur dibanding sebelumnya.
"Alhamdulillah tadi pagi saya tiktokan jalurnya bersih. Banyak teman-teman yang bawa sampahnya turun juga," jelasnya.
Pendakian ke Bukit Pergasingan ini dimanfaatkan Hadi dan istrinya sebagai sarana latihan fisik serta persiapan sebelum menaklukkan Gunung Rinjani melalui program Seven Summits Sembalun.
Ia pun berharap bukit-bukit wisata lainnya di Lombok dan NTB dapat menerapkan sistem serupa agar daya tarik alam NTB tetap terjaga dan makin diminati wisatawan mancanegara maupun lokal.
"Alangkah baiknya kalau bukit lain juga mencontoh sistim pengelolaan seperti ini, Deposit sampah. Jadi sama-sama saling menjag. Kita menikmati alamnya, jangan sampai mengotorinya apalagi sampai kita tinggalkan sampah kita," tutup Hadi.


