Minim Event dan Perhatian Pemerintah, Potensi Atlet Trail Run di Lombok Masih Tersembunyi

Rosyidin S
Sabtu, September 19, 2026 | 19.15 WIB Last Updated 2026-09-19T11:44:16Z
Atlit: Pelari asal Mataram, Martini saat ditemui di Sembalun, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com — Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok, memiliki bentang alam bukit dan jalur perbukitan yang sangat potensial untuk olahraga lari lintas alam (trail run). Buatkan hanya itu, termasuk bentangan pantai juga tidak kalah menarik untuk dijajaki pelari.


Kendati demikian, minimnya penyelenggaraan event serta kurangnya perhatian dari pemerintah daerah dinilai menjadi penahan utama berkembangnya potensi atlet-atlet lokal di kancah nasional maupun internasional.


Kondisi tersebut disuarakan oleh Martini, seorang pelari trail sekaligus fitness trainer asal Mataram yang juga mendirikan komunitas Lombok Trail Runner. Menurutnya, Lombok tidak pernah kekurangan talenta maupun trek latihan yang memadai, melainkan wadah kompetisi yang konsisten.


"Banyak atlet berpotensi di Lombok, terutama untuk trail run, tapi mereka kurang ter-expose. Masalah utamanya karena kurangnya event yang kita gelar di sini. Padahal bukit-bukit kita sangat bagus untuk tempat training maupun lokasi event," ujar Martini saat ditemui di Sembalun, salah satu peserta Sembalun Mountain Maraton, Sabtu (19/9).


Martini membandingkan kondisi di Lombok dengan daerah lain seperti Jawa dan Bali yang rutin menghelat belasan agenda lari setiap tahunnya. Di Lombok, ajang lari lintas alam skala besar yang konsisten dikenal masyarakat sejauh ini baru Rinjani 100. Hal tersebut membuat ruang bagi para atlet lokal untuk dilirik oleh sponsor-sponsor merek ternama menjadi sangat terbatas.


"Kalau di Jawa atau Bali event-nya banyak. Atlet lokal di sana bisa langsung terangkat dan dilirik sponsor karena banyak ajang yang digelar. Sementara di Lombok, merek ternama seperti Hoka dan Koros kurang melirik karena belum banyak inovasi dan kreativitas untuk bikin event lari sendiri di Lombok," katanya.


Ia juga menyoroti peran pemerintah daerah yang dirasa belum optimal dalam memberikan dukungan nyata, baik untuk penyelenggaraan kegiatan olahraga maupun pembinaan atlet berprestasi. Menurut Martini, perhatian terhadap sektor ini masih sering terabaikan akibat perbedaan fokus prioritas pemangku kebijakan.


"Harusnya pemerintah bisa mensupport event yang ada dan mendukung atletnya. Kadang ada atlet lokal yang juara, tapi perhatian dari tingkat desa Samapi daerah saja masih kurang. Kita sebagai pelaku olahraga memang harus terus mengingatkan dan nge-push pemerintah supaya lebih peduli pada pengembangan SDM dan atlet berprestasi," tegas pelari yang mulai fokus pada trail run sejak masa pandemi tersebut.


Di tengah keterbatasan itu, hadirnya ajang baru seperti Sembalun Mountain Marathon Festival diharapkan mampu menjadi angin segar sekaligus pemicu lahirnya agenda-agenda lari baru di berbagai titik wilayah Lombok, mulai dari Sembalun (Lombok Timur) Gunungsari (Lombok Barat), Lombok Tengah, hingga Lombok Utara.


"Saya harap ke depannya event-event seperti ini bisa jauh lebih besar lagi. Selagi ada ruang untuk membina dan mengangkat potensi lokal, saya pasti dukung penuh 100 persen," pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Minim Event dan Perhatian Pemerintah, Potensi Atlet Trail Run di Lombok Masih Tersembunyi

Trending Now