![]() |
| Nur Aulia |
MANDALIKPOST.com-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memastikan suplai air bersih akan mengalir ke kawasan destinasi wisata Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara. Kepastian ini disampaikan Dispararekraf setelah lobi-lobi yang berhasil dilakukan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal ke Pemerintah Pusat.
"insyaAllah sore ini atau besok air mengalir kembali di gili trawangan," Kata Dinas Disparekraf NTB Ahmad Nur Aulia ketika dikonfirmasi Radar Lombok, Kamis (10/9).
Aulia sapaan akrab Kepala Disparekraf NTB itu mengungkapkan bahwa Pemkab Lombok Utara telah mengeluarkan diskresi dengan meminta TCN segera membuka keran air. Pemprov NTB juga memberikan dukungan melalui rekomendasi. Meskipun diakui pelaksanaannya masih terkendala persoalan regulasi yang dinilai berpotensi tumpang tindih.
"Jadi pada hari ini Pak Kapolda juga hadir di lokasi di Gili Trawangan Meyakinkan bahwa silahkan TCN beroperasi,"katanya
Eks Kepala Disnakkeswan NTB itu mengatakan Pemprov bersama Pemkab Lombok Utara dan sejumlah instansi vertikal telah membentuk tim terpadu untuk mengawal persoalan air bersih Gili Trawanga termasuk proses perizinan PT. TCN.
"Sudah. Dalam rapat koordinasi Forkopimda, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, serta beberapa instansi vertikal, termasuk kepolisian dan kejaksaan, akan tergabung dalam tim terpadu untuk mengawal proses ini, termasuk proses perizinan dan sebagainya," ujarnya.
Aulia mengakui persoalan air di Gili Trawangan menjadi salah satu ancaman terhadap pencapaian target kunjungan wisata NTB. Pemkab KLU disebut pesimistis target kunjungan wisata dapat tercapai jika persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.
"Ini kan masalah air. Masalah utamanya memang air. Kita masih menunggu kebijakan dari pusat, termasuk diskresi," katanya.
Tak bisa dipungkiri persoalan air ini telah berdampak terhadap pelaku usaha pariwisata di Gili Trawangan. Sejumlah hotel dan restoran dilaporkan terancam mengalami kerugian, bahkan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) juga membayangi apabila persoalan air tidak segera diselesaikan.
"Ini masalah air dan merupakan infrastruktur dasar dari sebuah layanan. Pasti memberikan dampak. Itu juga menjadi perhatian kita. Kalau dari perspektif pariwisata, kita berharap air bisa segera dibuka," katanya.
Aulia mengungkapkan penyelesaian persoalan air bersih di Gili Trawangan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kebijakan sementara. Regulasi yang menjadi dasar pengelolaan air di Gili Trawangan harus diperjelas agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
"Air merupakan kebutuhan utama dan kebutuhan dasar. Dari perspektif pariwisata, ini harus segera dialirkan. Itu makanya saya memberikan perhatian bagaimana pihak-pihak yang memiliki kewenangan di sektor-sektor ini juga bisa membantu agar kondisi kembali pulih seperti sebelumnya," tegasnya.
Persoalan itu lanjutnya, juga telah dibawa ke tingkat pemerintah pusat. Bahkan telah dilakukan pertemuan yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Kementerian Kehutanan.
"Sudah. Makanya, kemarin ada pertemuan di Menko Infrastruktur bersama Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kementerian Kehutanan. Ada konservasi laut, konservasi hutan, dan perspektif lingkungan di sana," ujarnya.
Dia berharap seluruh pihak dapat segera menemukan titik temu antara kebutuhan infrastruktur dasar untuk pariwisata dan ketentuan regulasi yang berlaku.
"Gili Trawangan merupakan destinasi yang bukan hanya bersifat nasional, tetapi sudah internasional. Tentunya, ini harus menjadi perhatian bersama untuk memenuhi infrastruktur dasar berupa air karena akan berdampak terhadap sektor pariwisata," tandasnya.
Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Sahlan M. Saleh, menambahkan promosi pariwisata tetap berjalan ditengah persoalan air bersih di Gili Trawangah. BPPD NTB mendorong wisatawan untuk tidak hanya berkunjung ke Gili Trawangan, tetapi juga menjelajahi berbagai destinasi di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
"Bukan kepentingan bisnis, tapi kepentingan rakyat Indonesia. Saya tidak ingin berbicara pesimisnya, tetapi saya ingin mendorong agar supaya Giri Terawangan ini cepat terselesaikan,” katanya.
Sahlan mengaku setiap hari pasti ada wisatawan yang membatalkan paket wisata ke Gili Trawangan. Meski begitu, ada juga beberapa wisatawan yang nekat berkunjung ke kawasan wisata prioritas di Lombok Utara itu.
“Kita belum total berapa jumlahnya. Tapi jelas setiap hari tetap ada yang minta cancel dari situasi seperti ini,” katanya.

