![]() |
Perempuan PGRI Didorong Jadi Penggerak Sekolah Aman dan Nyaman di Lombok Barat. |
MANDALIKAPOST.com - Perempuan guru dan kepala sekolah didorong mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dorongan tersebut mengemuka dalam Seminar Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak bagi Perempuan PGRI yang diselenggarakan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lombok Barat bersama INOVASI NTB di Aula Kantor Bupati Lombok Barat, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “ Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak Bagi Perempuan PGRI Untuk Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN)” itu diikuti 150 perempuan anggota PGRI dari jenjang TK, SD, SMP hingga SMA/SMK se-Kabupaten Lombok Barat.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Barat H. Saeful Ahkam mengapresiasi kolaborasi PGRI dan INOVASI NTB dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Menurut Saeful Ahkam, pembahasan mengenai kesetaraan gender perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Kesetaraan gender, kata dia, tidak semestinya dimaknai sebagai upaya untuk menempatkan salah satu pihak lebih tinggi daripada pihak lainnya.
Ia menyinggung perubahan paradigma mengenai kesetaraan gender yang berkembang dalam perjalanan sejarah, termasuk perjuangan perempuan memperoleh ruang dalam kehidupan sosial dan politik.
Perempuan memiliki peran strategis
Saeful Ahkam menilai perempuan memiliki kekuatan dan kemampuan yang besar dalam menjalankan berbagai peran di masyarakat.
Ia mencontohkan banyak perempuan yang bekerja di pasar hingga perempuan yang menjadi kepala keluarga.
“Perempuan diberikan kekuatan yang luar biasa. Banyak perempuan menjadi kepala keluarga,” kata Saeful Ahkam.
Menurut dia, terdapat kompetensi tertentu yang menjadi kekuatan perempuan dan tidak dapat dipertukarkan. Karena itu, peningkatan kualifikasi dan kompetensi perempuan menjadi bagian penting dalam memperkuat peran mereka.
Dalam konteks pendidikan, Saeful Ahkam menekankan posisi ibu sebagai pendidik pertama bagi anak.
“Setiap ibu menjadi sekolah pertama anak-anak,” ujarnya.
Menurut dia, aspek keibuan juga dapat menjadi kekuatan dalam menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi anak, termasuk ketika diterapkan dalam lingkungan satuan pendidikan.
Ia kemudian mengajak perempuan PGRI berada di garis depan dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.
“Ayolah, suluh budaya aman dan nyaman. Perempuan harus terdepan untuk mewujudkan budaya sekolah aman dan nyaman,” katanya.
Kesetaraan gender bukan hanya soal perempuan
![]() |
Perempuan PGRI Didorong Jadi Penggerak Sekolah Aman dan Nyaman di Lombok Barat. |
Sementara itu, Manager INOVASI NTB Jamarudin menegaskan bahwa kesetaraan gender tidak semata-mata identik dengan emansipasi perempuan.
Menurut dia, ketika seorang perempuan menjadi kepala sekolah, pembahasan kesetaraan gender tidak berarti hanya berbicara mengenai kepentingan perempuan.
“Kalau hari ini kepala sekolah perempuan, bukan berarti melulu berbicara perempuan,” katanya.
Ia mengatakan masih terdapat pandangan yang memosisikan perempuan sebagai pihak yang lemah. Karena itu, kesetaraan gender perlu dipahami sebagai pemberian ruang dan kesempatan yang adil tanpa menekan salah satu pihak.
“Kesetaraan itu tidak melihat pada jenis kelamin, tidak boleh menekan satu dengan yang lain,” ujarnya.
Jamarudin juga memberikan apresiasi kepada PGRI Kabupaten Lombok Barat yang berinisiatif menyelenggarakan seminar tersebut.
Menurut dia, kegiatan itu sejalan dengan fokus INOVASI NTB dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
Jamarudin menjelaskan, INOVASI NTB memiliki sejumlah fokus yang berkaitan dengan penguatan pendidikan, di antaranya kurikulum dan asesmen, praktik pembelajaran di dalam kelas, kepemimpinan pembelajaran, kesetaraan gender dan perlindungan anak, serta pendidikan perubahan iklim.
Ia mengatakan kurikulum yang tidak disiapkan dengan baik dapat berimplikasi terhadap proses pembelajaran.
Karena itu, INOVASI juga memberikan perhatian pada praktik pembelajaran di kelas dan kepemimpinan pembelajaran. Dalam hal ini, kepala sekolah menjadi bagian penting dalam kepemimpinan pembelajaran.
Adapun fokus kesetaraan gender dan perlindungan anak menjadi salah satu landasan yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan seminar tersebut.
Jamurudin juga menyebut pendidikan perubahan iklim sebagai isu yang menjadi perhatian di tingkat nasional dan internasional.
Program Pelita di Lombok Barat
Di Kabupaten Lombok Barat, INOVASI telah melakukan proses pendampingan secara intensif. Salah satu program yang lahir dalam proses tersebut adalah Program Pelita, termasuk alat asesmen aksi Pelita.
Program tersebut antara lain berkaitan dengan asesmen kemampuan literasi dan numerasi serta upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi seluruh anak.
“Program Pelita mewujudkan satuan pendidikan yang kondusif untuk semua anak,” katanya.
Menurut dia, seminar mengenai kesetaraan gender dan perlindungan anak menjadi penting karena kepala sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya sekolah.
“Seminar ini sangat penting karena yang terjadi di sekolah 70 persen ada di tangan kepala sekolah,” ujarnya.
Jamarudin menekankan bahwa budaya aman dan nyaman di satuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh keteladanan kepala sekolah.
Terlebih pada jenjang sekolah dasar, anak-anak masih berada dalam tahap meniru perilaku orang dewasa di lingkungan sekitarnya.
“Anak SD masih pada tahap meniru. Jadikan kepala sekolah sebagai teladan,” katanya.
Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Lombok Barat Dr. H. Akhmad Sujai, S.Pd., M.Pd. mengatakan sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga ruang bagi anak untuk tumbuh, berinteraksi, membangun karakter, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan.
Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, inklusif, ramah anak, bebas dari kekerasan, serta memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh warga sekolah.
Menurut Akhmad Sujai, peran perempuan PGRI sangat strategis. Perempuan tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pemimpin, penggerak perubahan, pelindung anak, dan teladan dalam membangun budaya sekolah yang positif.
Ia berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Anak harus datang ke sekolah dengan perasaan senang, diterima, dihargai, dan dilindungi,” demikian pesan yang disampaikan dalam laporan kegiatan tersebut.
PGRI Lombok Barat mendorong agar pengetahuan yang diperoleh dalam seminar diterjemahkan menjadi perubahan nyata di masing-masing satuan pendidikan.
Kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kemampuan kepala sekolah dan guru perempuan dalam mencegah serta merespons berbagai bentuk kekerasan terhadap anak sekaligus mendorong terwujudnya Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Seminar yang diikuti 150 perempuan anggota PGRI tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, INOVASI Perwakilan NTB, serta perguruan tinggi.
Bagi PGRI Lombok Barat, mewujudkan sekolah aman dan nyaman bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kegiatan. Hal itu membutuhkan komitmen, keteladanan, konsistensi, dan kolaborasi seluruh pihak.
“Ketika kita melindungi seorang anak, kita sedang menjaga masa depan bangsa,” demikian pesan PGRI Lombok Barat dalam kegiatan tersebut.


