Mataram Perlu Mencontoh Mesir Kuno dalam Menata Kota

MandalikaPost.com
Kamis, Oktober 22, 2020 | 18.02 WIB Last Updated 2020-10-22T10:03:14Z
Ketua REI NTB Heri Susanto dalam diskusi publik Tata Kota bersama KAMMI NTB di Mataram.

MATARAM -  Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pengurus Daerah Mataram menggelar diskusi bertema Tata Ruang Kota Mataram, Kamis, 22 Oktober 2020 di Mataram.


Diskusi menghadirkan pembicara Ketua DPD REI NTB, Heri Susanto. Cak Heri sapaan akrabnya menjelaskan ilmu tentang tata ruang adalah ilmu yang primitif. Ilmu tersebut telah ada sejak lama bahkan sejak zaman Babilonia.


"Tata ruang ilmu paling primitif yang kita tahu. Seorang kepala daerah jika tidak memiliki kemampuan tata ruang saya yakin daerahnya tidak tertata bahkan kumuh. Ketika kita baca kota Babilonia sudah tertata, bagaimana Firaun di Mesir sudah tertata kotanya," katanya.



Heri juga menjelaskan di Arab, tata ruang dikaitkan dengan keimanan. Sehingga semua jalan di sana tertata dengan rapi. Jika tidak tertata maka akan menjadi sebuah simbol rendahnya keimanan seseorang.


"Tata ruang ilmu yang berhubungan dengan keimanan. Di Arab tidak ada jalan yang jelek, karena itu menandakan imannya rendah. Sebuah hadis mengatakan jika seekor keledai jatuh di lubang gara-gara tidak diperbaiki jalan maka akan mendapat dosa," jelasnya.


Kota Mataram diharapkan dapat mengambil contoh bagaimana menata kota seperti zaman kuno Babilonia maupun Mesir kuno. Bagaimana cara masyarakat kuno mampu menata kota dengan teknologi yang sangat sederhana.


Kaitan dengan Kota Mataram, jelang Pilkada ini masyarakat diminta betul-betul memilih figur calon yang memiliki kemampuan tata ruang yang baik. Itu untuk mengatasi kesemrawutan pembangunan dan banyaknya rumah kumuh di kota.


"Kita kaitkan dengan kepala daerah, latar belakang visi-misi mereka. Apakah kepala daerah memiliki visi yang jelas. Kehebatan pemerintah ketika mampu buat tata ruang yang bertahan lama," ujarnya.


Heri juga mencontohkan Dubai. Bagaimana Dubai bisa menyerap banyak investor, karena Dubai memiliki tata ruang yang dapat bertahan hingga 150 ke depan.


"Kenapa Dubai banyak investor, karena memiliki tata ruang sampai 150 tahun kemudian," tuturnya.


Ketua DPD REI menjelaskan pada tahun 2017 atau 2018 pernah ramai LP2B atau Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan. UU tersebut diturunkan menjadi Perda untuk menyelamatkan lahan pertanian abadi. 


"Niatnya mulia, jika ditempatkan di suatu wilayah sangat tepat karena jarang orang menghuni wilayah tersebut. Pelaksanaannya justru dipukul rata untuk semua daerah, akhirnya kota Mataram memiliki beban harus memiliki sawah di atas 1.000 hektare. Tapi justru sisa 800 artinya ada pelanggaran," ungkapnya.


"Pertanyaannya apa iya di Mataram memiliki sawah. Segala sesuatu harus proporsional," katanya.


Seperti diketahui tata ruang di Kota Mataram saat ini masih belum konsisten. Kawasan yang dijadikan lokasi perkantoran justru berdiri gerai fast food. Begitu juga kawasan pendidikan yang bercampur dengan kawasan ekonomi hingga perkantoran.


Begitu juga dengan masih banyaknya bangunan-bangunan yang bereda dekat dengan bantaran sungai yang justru membuat kesan kumuh Mataram semakin terlihat.


Dalam closing statemennya, Ketua REI NTB Heri Susanto menegaskan, untuk Kepala Daerah Kota Mataram ke depan, tidak dibutuhkan orang yang hebat. Tetapi cukup orang yang peduli dan paham tentang tata ruang Kota.


"Yang bisa menata Kota dan punya visi misi jelas untuk jangka panjang. Untuk anak cucu kita," tegasnya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mataram Perlu Mencontoh Mesir Kuno dalam Menata Kota

Trending Now