Iklan

Potensi Tsunami Besar dan Mitos Ratu Kidul yang Merekam Sejarah Silam

MandalikaPost.com
Kamis, November 19, 2020 | 13:33 WIB Last Updated 2020-11-19T06:35:06Z
Nyi Roro Kidul atau Rato Kidul dalam Mitologi Jawa. (Ilustrasi)

MATARAM - Penelitian terbaru dari ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap potensi tsunami setinggi 20 meter, bisa terjadi di sepanjang kawasan laut Selatan yang menyimpan potensi gempa bumi dengan kekuatan hingga di atas 8 Magnitudo.


Ternyata, sejak dahulu kala, tsunami besar juga sudah terjadi di selatan Pulau Jawa. Peristiwanya diyakini terekam dalam mitos Ratu Kidul.


Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto adalah orang yang menemukan hal ini.


Eko memadukan catatan geologi dengan karya sastra Jawa masa lalu untuk menemukan catatan mengenai peristiwa tsunami besar di era silam.


"Kesimpulan saya, mitos Ratu Kidul muncul berkaitan dengan peristiwa gempa dan tsunami 400 tahun lalu," kata Eko.


Mulanya, Eko meneliti dua sampel lapisan tanah di Pangandaran, Jawa Barat, pada 2006. Dari hasil uji ilmiah ditemukan, lapisan itu menunjukkan adanya tsunami pada 400 tahun lalu.


"Seandainya itu benar ada tsunami raksasa di masa lalu, maka yang terpikir adalah peradaban apa yang mengalami peristwa itu. Peristiwa sejarah apa yang berkaitan dengan peristiwa itu," kata Eko.


Asumsi Eko melayang ke empat abad silam. Saat itu adalah momentum berdirinya Kerajaan Mataram Islam.


"Jika benar ada tsunami besar di masa itu, pastilah peristiwa itu tercatat dalam kebudayaan," kata dia.


Jarak antara Pangandaran dan Yogyakarta (lokasi Mataram Islam) memang sangat jauh. Namun, kata Eko, zona subduksi di selatan Jawa tidak pendek, melainkan merentang dari Selat Sunda hingga kepulauan Nusa Tenggara. Panjangnya lebih dari 1.890 km.


"Dengan panjang segitu, diasumsikan bila runtuh bersamaan maka bisa menghasilkan gempa skala 9,6. Itu skenario terburuk. Kalau itu terjadi, maka tsunami besar akan terjadi," kata Eko.


Di sisi lain, Robert McCaffrey lewat karyanya 'Global frequency of magnitude 9 earthquakes' dalam jurnal Geology edisi 36 tahun 2008 memberikan penjelasan mengenai tsunami masa lalu.


"McCfrey menyatakan ada perhitungan perulangan gempa setiap 675 tahun. Tapi kejadian perulangan ini tidak selalu tetap sama. Kalau saya asumsikan, maka setidaknya dari sekarang sampai 675 tahun yang lalu ada satu kejadian gempa dan tsunami," kata Eko.


Mitos Ratu Kidul


Mitos Ratu Kidul berkaitan dengan narasi legendaris soal pendiri Kesultanan Mataram, Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati (1584-1601).


Babad Tanah Jawi disikapinya bukan murni sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai produk politik. Di dalamnya, ada kisah yang menjadi landasan legitimasi politik, bahwa Sutawijaya adalah orang yang sah untuk menjadi raja.


Narasi itu seolah menepis kenyataan bahwa Sutawijaya bukan darah biru, melainkan anak angkat Raja Pajang Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Dengan narasi itu, masyarakat Jawa bagian selatan yang agraris (petani) menjadi yakin akan kepemimpinan rajanya. Di masa modern, mitos-mitos masih sering digunakan sebagai landasan legitimasi politik, misalnya capres X, cagub Y, atau calon bupati Z adalah keturunan raja-raja di masa silam.


"Babad Tanah Jawa bagi saya adalah wujud kecerdasan politik, sosial, dan budaya," kata Eko.


Meski demikian, meski sifatnya bukan 100% sejarah, kisah-kisah mitologis itu menuntun Eko ke arah yang lebih jauh. Mitos itu menyimpan peristiwa penting di masa lalu, yakni tsunami 400 tahun lalu.


Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Sutawijaya meminta bantuan Ratu Kidul untuk membangun kerajaan Mataram yang berbasis di Alas Mentaok, di masa selanjutnya berubah menjadi Kota Gede, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


Dalam waktu yang bersamaan, rekan Sutawijaya bernama Ki Juru Martani juga meminta bantuan penguasa Merapi untuk membangun kerajaan Mataram. Praktis, legitimasi mitologis didapat dari Samudera sekaligus Gunung Berapi.


Petunjuk mengenai adanya tsunami di masa lalu ditemukan dalam Serat Sri Nata, sebagai bagian dari Babad Tanah Jawi.


"Penjelasan di Serat Srinata sangat clear. Seolah-olah, itu seperti cerita kesaksian dari korban selamat tsunami Aceh. Sangat deskriptif," kata Eko.


Begini kutipan dari Serat Sri Nata, dikutip dari situs LIPI:


Kilat thathit abarungan
Panjunegur swara kagiri-giri
Narka yen kiyamat iku
Toya minggah ngawiyat
Apan kadya amor mina toyanipun

Semana datan winarna
Ratu kidul duk miyarsi

Lagya sare kanthi denta
Kagegeran manehe Sang Sung Dewi
Dene naga samya mlayu
Arsa minggah perdata
Ratu Kidul alon denira amuwus
Selawas sun durung mulat
Samodra pan dadi kisik

Dene panase kang toya
Anglir agni klangkung panasing warih
Mina sedaya pan lampus
Baya ari kiyamat.


Terjemahan Bahasa Indonesia:

Kilat dan halilintar bersamaan
Gemuruh suaranya menakutkan
Mengira bahwa itu adalah kiamat
Air naik ke angkasa
Bahkan, seperti bercampur dengan ikan airnya.

Pada saat itu tidak dikisahkan
Ratu Kidul saat mendengarnya
Sedang tidur beralaskan gading
Kacau hati Sang Dewi
Bahkan naga pun semua lari
Ingin naik untuk berkelahi(?)
Ratu Kidul perlahan berkata:
"Selama ini aku belum pernah menyaksikan,
Samudra menjadi pesisir [pantai].

Bahkan panasnya air, bagaikan api,
sangatlah panas airnya
Semua ikan mati
Mungkin hari kiamat ini.


Eko berpendapat segala peristiwa besar pastilah tercatat, namun bentuk catatannya berbeda-beda. Alam pasti mencatat peristiwa tsunami, catatannya berada pada lapisan geologis di tanah.


Manusia juga mencatatnya, yakni di tulisan dan non-tulisan. Masyarakat Jawa mencatatnya dalam bentuk produk budaya tertentu, yakni mitos Ratu Kidul.


"Di bait terakhir itu dikatakan, Ratu Kidul bersaksi tidak pernah melihat peristiwa semacam ini, yakni air laut surut dan naik ke angkasa bercampur dengan ikan. Ini seolah-olah deskripsi tsunami," kata Eko yang menyebut pendekatan semacam ini sebagai geomitologi.


Eko sendiri mengaku menerima pertanyaan-pertanyaan yang meragukan keabsahan pendapatnya. Bagaimanapun juga, sains dan mitos berbeda.


Namun bagi Eko, sains yang berhenti dipertanyakan dan hanya diyakini sebagai kebenaran, maka sains bakal menjadi mitos juga. Namun mitos bila ditelaah dengan metodologi ilmiah, maka bakal ada kandungan sains dalam mitos itu.


"Sebuah mitos, ketika kemudian dihadirkan di atas meja bedah sains dan dibuka asal-usulnya, mitos itu akan berubah menjadi sains," kata dia.


Hanya Pendapat atau Interpretasi


Sementara itu, Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Margana menyebut potensi tsunami yang dikaitkan dengan motilogi Ratu Kidul itu hanya sebagai pendapat atau interpretasi.


"Itu kan interpretasi saja, semua orang boleh berinterpretasi. Kan orang LIPI ini tidak memberikan data persisnya kapan itu ada tsunami di pantai selatan Yogya," kata Sri Margana.


Menurutnya, dalam Babad Tanah Jawi, cerita Ratu Kidul adalah sebuah simbol legitimasi kekuasaan. Legitimasi itu terkait syarat untuk menjadi raja, termasuk adanya cerita pertemuan dan perkawinan antara Senopati dan Ratu Kidul.


"Kalau di naskah Jawa, Babad Tanah Jawi itu, cerita Ratu Kidul itu untuk legitimasi kekuasaan. Jadi Sutowijoyo itu hanya keturunan seorang petani, Ki Ageng Pemanahan itu orang desa, dari dinasti petani. Sementara untuk menjadi raja, menurut kepercayaan orang Jawa dia harus trah ing kusumo rembesing madu artinya seorang harus berdarah bangsawan atau seorang intelektual atau pujangga atau ulama. Selain itu tidak bisa, tidak legitimate," ujarnya.


Oleh karena itu, sebagai bentuk legitimasi maka Panembahan Senopati harus menguasai kekuatan besar. Yang mana menurut pandangan orang Jawa, sumber kekuatan besar itu berasal dari dua sumber yakni sumber yang tampak dan tak tampak.


"Jadi untuk salah satu untuk melegitimasi kekuasaannya adalah dengan cara menguasai sebuah kekuatan yang besar. Nah, kekuatan besar itu adalah kalau orang Jawa itu punya dua pandangan, yang tampak dan tak tampak. Nah, yang tak tampak itu seperti dunia batin dan spiritual, supranatural termasuk tokoh-tokoh figuratif seperti Ratu Kidul," ujarnya.


Sehingga, kata Margana, meskipun Senopati tidak berdarah bangsawan dia telah mendapat dukungan dari Ratu Kidul yang dipercaya sebagai penguasa laut selatan yang memiliki kekuatan gaib yang besar. Hal itu ditunjukkan ketika Senopati dan pasukan Mataram berperang melawan Kerajaan Pajang, di mana saat itu dia dibantu oleh Ratu Kidul.


Ratu Laut Selatan. (Ilustrasi)


Cerita ini dibangun berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa khususnya di pesisir selatan yang percaya bawa Ratu Kidul adalah penguasa laut selatan. Dalam cerita tersebut, Ratu Kidul dipercaya memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan umat manusia dengan ombak besar dari laut selatan.


"Jadi sebelum Senopati menjadi raja memang mitos Ratu Kidul sudah lama dikenal sehingga kemudian dia sebagai penguasa laut selatan. Jadi di babad diceritakan kalau dia berhasil menikahi Ratu Kidul, itu kan berarti dia didukung oleh kekuatan besar untuk menjadi raja, jadi dia berkuasa tidak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia batin, supranatural dan sebagainya, itu salah satu upaya untuk melegitimasi kekuasaan, Senopati," lanjut Margana.


Ketika ditanya soal kandungan makna dari penggalan narasi di Babad Tanah Jawi mendeskripsikan kejadian tsunami besar di pesisir selatan Jawa pada awal berdirinya Mataram Islam, Margana menyebut hal itu sebagai simbolisme.


"Tsunami fenomena lama di Indonesia, sebetulnya ada interpretasi lain mengenai itu. Bahasa Ratu Kidul itu sebetulnya simbolisme," katanya.


"Jadi Babad Tanah Jawi Senopati bertemu dan menikah dengan penguasa laut selatan,"kataya.


Menurutnya, ini simbolisme bahwa ada sebuah kekuatan besar yang membantu Senopati dalam mendirikan Mataram, kekuatan besar itu siapa? Kekuatan besar itu adalah penguasa laut selatan.


Kajian Budaya


Budayawan Solo, BRM Bambang Irawan menganggap sah saja jika isi serat yang mengisahkan mitologi Ratu Kidul itu diinterpretasikan sebagai tsunami. Namun, dia menyebut serat itu ditulis dari sudut pandang penguasa sang Ratu Selatan, Ratu Kidul.


"Bisa saja diinterpretasikan seperti itu. Tetapi itu kan yang menceritakan Ratu Kidul, bukan manusia. Mungkin itu kejadian di lautan, sampai laut kering," kata BRM Bambang Irawan.


Bambang lalu mengutip Serat Wedhatama Piningit yang juga menceritakan kejadian alam. Dalam serat tersebut, kata dia, menyebut Pulau Jawa akan terbelah dua.

"Saya anggap masuk akal. Kalau lihat sesar gempa sejak abad 18 sampai kemarin gempa Yogyakarta itu kan sesarnya ke utara, Bantul sampai Jepara. Itu dilihat dari geologi," ujar Bambang.


Meski begitu, Bambang tetap meminta masyarakat selalu menggunakan data dari sains tentang prediksi kejadian alam. Sehingga data yang didapatkan bakal lebih akurat.


"Menurut saya, cerita dalam babad atau serat itu tetap harus dicocokkan dengan sains. Lewat ramalan satelit, kalau perlu pakai referensi yang lebih canggih agar mendapatkan data akurat," terangnya.


Berbagai Sumber 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Potensi Tsunami Besar dan Mitos Ratu Kidul yang Merekam Sejarah Silam

Trending Now

Iklan

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, 

pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online