Iklan BNS

Berwisata Spiritual di Arca Joko Dolog Surabaya, Mengenal Energi Para Raja

MandalikaPost.com
Jumat, Desember 25 | 14.55 WIB
ARCA JOKO DOLOG. Seorang pengunjung di depan Arca Joko Dolog, sebuah situs Benda Cagar Budaya di Kota Surabaya.


SURABAYA - Berwisata sejarah di Kota Surabaya memang banyak pilihan. Selain ada museum dan bangunan bersejarah warisan pemerintah kolonial Belanda, Surabaya juga punya koleksi benda-benda purbakala yang masih terjaga sampai sekarang. Di antaranya ada arca Joko Dolog, peninggalan Kerajaan Singosari yang kini menjadi Benda Cagar Budaya yang dikelola Pemkot Surabaya dan Pemprov, Jawa Timur.


Terletak di pusat Kota Surabaya, kompleks Arca Joko Dolog hanya selemparan batu dari taman Apsari, sebuah taman di seberang kantor Gubernur Jawa Timur.


Plang kompleks situs Arca Joko Dolog, Surabaya.


Teduh dinaungi dua pohon beringin yang besar dan rindang, kompleks Arca Joko Dolog menjadi oase tersendiri di tengah teriknya Kota Surabaya.


Tidak banyak orang yang tahu dan tidak banyak wisatawan yang datang ke lokasi yang berada di tengah kota ini. Padahal lokasi ini begitu bersejarah karena banyak menyimpan relik dari era peradaban kerajaan Singosari di abad ke 12.


Beberapa orang pengunjung terlibat obrolan santai di kompleks Arca Joko Dolog, Jumat siang (25/12). Ditemani beberapa cangkir kopi, obrolan seputar pandemi Covid-19 hingga masalah spiritual dan klenik.


Anggota Komunitas Prabu Kertanegara, yang turut merawat Arca Joko Dolog, Wewe Iswandi menjelaskan, arca Joko Dolog merupakan perwujudan dari Prabu Kertanegara, Raja Singosari yang terakhir.


"Arca ini dibuat untuk menghormati Kertanegara, putra Wisnu Wardhana sebagai Raja Singosari pada masa itu. Prabu Kertanegara terkenal karena kebijaksanaannya dan pengetahuannya yang luas dalam bidang hukum dan agama," kata Wewe.


Deretan artefak peninggalan kerajaan Singosari di situs Cagar Budaya Arca Joko Dolog, Surabaya.

Arca Joko Dolog berbentuk patung Buddha. Ini dipercaya sebagai perwujudan Raja Kertanegara Putra Wisnu Wardhana, seorang raja terkenal dari Kerajaan Singosari.


Patung ini dibuat tahun 1211 Saka atau 1289 Masehi di makam Wurarare yang merupakan rumah Mpu Baradah di desa Kedungwulan, Jawa Timur. 


Kertanegara Putra Wisnu Wardhana  terkenal akan kebijakasanaannya dalam memimpin kerajaan di tahun 1176 Saka atau 1254 M. Keinginan Kertanegara untuk mempersatukan nusantara di zamannya, serta pengetahuan yang luas terhadap hukum dan ketaatannya pada agama Buddha, dianggap sudah berada di titik Jina Mahasobya (Buddha Agung).


Sehingga, dibuatlah patung tersebut untuk mengenang Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara Wikrama Dharmatunggadewa. Bahkan konon pembuatan patung tersebut untuk mengakhiri kutukan dari Mpu Baradadah akibat perbuatan keji Ken Arok (Sri Rajasa Sang Amurwabhumi) - pendiri dinasti Rajasa yang tidak lain masih keturunan langsung dari Kertanegara.


Suasana di kompleks Arca Joko Dolog, Surabaya.

Hingga di suatu masa, patung Buddha tersebut terkubur oleh tanah dan debu akibat faktor alam di jamannya. Dan ditemukan di daerah Kandang Gajah wilayah desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto - Jawa Timur pada tahun 1817 M serta diangkat dan diletakan dihalaman rumah residen Belanda, Baron A.M. Th. De Salls di Kota Surabaya. 


Arca Joko Dolog ini dulunya hendak dibawa ke Belanda untuk diabadikan di koleksi Museum Leiden. Tapi karena kapal muatannya penuh, arca ini pun ditinggalkan begitu saja oleh pemerintah Belanda.


Situs bersejarah ini masih terawat hingga saat ini. Banyak komunitas spiritual yang turut menjaga dan memelihara kompleks benda bersejarah ini. Salah satunya Komunitas Prabu Kertanegara.


Di bagian altar depan arca Joko Dolog, pengunjung bisa melakukan ritual menghormati energi Kertanegara. 


Pada bagian lapik atau dudukan Arca Joko Dolog terdapat prasasti berupa sajak yang ditulis menggunakan aksara Jawa kuno, dan berbahasa Sansekerta.


Papan peringatan di kompleks situs Cagar Budaya Arca Joko dolog, Surabaya. 

Anggota Komunitas Prabu Kertanegara,  Wewe Iswandi mengatakan, hingga kini belum ada satu ahli sejarah pun yang dapat membaca tulisan pada dudukan arca Joko Dolog secara utuh. Kalaupun terbaca hanya sepenggal saja.


Nama panggilan Joko Dolog sendiri menurut Wewe berasal dari budaya ludruk di Surabaya.


"Dulu dalam ludruk ada kisah Joko Dolog yang sangat fenomenal, dan arca ini saat ditemukan tak jauh dari pohon dolog. Jadilah arca ini dikenal dengan sebutan Joko Dolog," kisahnya.


Di komplek situs peninggalan sejarah ini selain arca utama Joko Dolog, terdapat pula arca-arca yang lebih kecil di sepanjang jalan masuk. Serta sebuah tempayan air sebagai tempat air suci yang terletak di bagian sebelah kiri gapura.


Artefak-artefak itu didatangkan dari Gunung Penanggungan, Trowulan.


"Kalau artefak yang di sekitar Arca Joko Dolog tidak ada kaitannya dengan arca utama karena memang hanya tambahan saja, sebagai pelengkap koleksi disini," imbuhnya.


Gerbang gapura kompleks situs Cagar Budaya Arca Joko Dolog, Surabaya.

Tempat wisata sejarah ini banyak dikunjungi oleh masyarakat yang ingin melihat lebih dekat Arca Joko Dolog. Sebagian besar komunitas spiritual juga datang ke kompleks Arca Joko Dolog untuk berkontempelasi dan juga bersilaturahmi antar sesama pengiat spiritual.


Salah seorang pengunjung, Eka Doni mengatakan, energi spiritual di Arca Joko Dolog cukup besar dan beraura positif.


Banyak yang datang untuk mempelajari sejarah kerajaan nusantara kuno, sekaligus menikmati keteduhan energi spirutual di tempat ini.


"Ini juga menjadi keunikan di Surabaya. Di pusat Kota yang ramai dan mewah, masih terjaga lestari Arca Joko Dolog ini," kata Doni.


Anda yang berwisata ke Kota Surabaya, bisa menjadikan Arca Joko Dolog sebagai salah satu lokasi yang bisa dikunjungi. Sayang untuk dilewatkan.


Sejarah Arca Joko Dolog


Catatan sejarah di situs Cagar Budaya Arca joko Dolog, Surabaya.

Dilansir dari laman Wikipedia,  Arca Joko Dolog merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Jalan Taman Apsari, Surabaya. Pada mulanya, Arca Joko Dolog ditemukan di Desa Kandang Gajah, Trowulan, tetapi arca tersebut kemudian dipindahkan ke Surabaya oleh Residen de Salls. 


Namun, terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa Arca Joko Dolog bukan berasal dari Desa Kandang Gajah, Trowulan, melainkan berasal dari Candi Jawi. Pendapat tersebut menyatakan bahwa Arca Joko Dolog merupakan Arca Aksobhya yang menghilang dari Candi Jawi karena candi tersebut pernah tersambar petir. 


Arca Joko Dolog merupakan peninggalan dari Kerajaan Singosari, dan merupakan perwujudan dari raja terakhir Kerajaan Singosari, yakni Raja Kertanegara. 


Arca Joko Dolog dipahat oleh seseorang yang bernama Nada, dan pembuatannya dilakukan sekitar tiga tahun sebelum Raja Kertanegara meninggal karena dibunuh oleh tentara Jayakatwang. Arca Joko Dolog memiliki panjang 166 cm, lebar 138 cm, serta tebal 105 cm. 


Arca Joko Dolog digambarkan dengan kepala gundul serta dibuat dengan posisi duduk dan bersikap Bhumisparsa mudra, yang melambangkan memanggil bumi sebagai saksi, dimana tangan kiri berada di atas pangkuan, sedangkan tangan kanan menelungkup di atas lutut. 


Pada alas sandar Arca Joko Dolog terdapat prasasti dengan bahasa Sanskerta yang berisi 19 bait yang mengandung lima makna sejarah yang berkembang pada masa itu, yakni mengenai perebutan kekuasaan terhadap pembagian tanah Jawa menjadi Jenggala dan Panjalu, yang mana akhirnya keduanya dapat disatukan kembali oleh Raja Wisnu Wardhana. 


Prasasti pada Arca Joko Dolog juga bertuliskan angka 1211 (1289 M), yang mana tahun tersebut merupakan tahun dibuatnya Arca Joko Dolog. Selain itu, prasasti tersebut juga berisi tentang pembagian kerajaan Airlangga serta penobatan Raja Kertanegara sebagai Buddha.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Berwisata Spiritual di Arca Joko Dolog Surabaya, Mengenal Energi Para Raja

Trending Now

Iklan