Fotografer Harus Memiliki Konsep Bukan Sekedar Jepret

Rosyidin
Selasa, Oktober 25, 2022 | 21.45 WIB Last Updated 2022-10-25T14:02:42Z
Fotografer: Peserta Jambore Fotografer NTB 2022 melihat hasil foto jepretannya saat mengikuti lomba foto yang digelar oleh panitia. (Dok. Istimewa)

MANDALIKAPOST.com - Seringkali orang beranggapan bahwa mengambil sebuah foto merupakan hal yang sangat mudah, padahal dalam kenyataanya banyak sekali aspek yang harus dipelajari untuk dapat menghasilkan sebuah foto yang bagus. Bukan hanya sekedar pencet tombol jadilah sebuah foto yang bagus.

Apa itu fotografi, pengertian fotografi dikutif dari berbagai sumber. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) fotografi diartikan sebagai seni dan penghasilan gambar dan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan.

Sedangkan menurut Wikipedia, fotografi berasal dari Bahasa Inggris yaitu "photography" yang mana berasal dari Bahasa Yunani yaitu "photos" artinya cahaya dan ‘Grafo’ yang artinya menulis atau melukis.

Sehingga secara umum fotografi dapat diartikan sebagai proses melukis atau menulis dengan menggunakan media cahaya.

Sementara itu menurut Ansel Adams, fotografi adalah sebagai media berekspresi dan komunikasi yang kuat, menawarkan berbagai persepsi, interpretasi, dan ekseskusi yang tak terbatas.

Namun belakangan ini, banyak yang menganggap bahwa mengambil foto itu hanya sekedar pencet tombol lalu jadilah sebuah foto yang bagus.

Berdasarkan pengertian fotografi di atas bisa disimpulkan bahwa fotografi merupakan aktivitas mengambil gambar melalui kamera untuk menghasilkan karya seni dan bisa dinikmati baik diri sendiri atau publik.

Maka dari itu, fotografi memiliki banyak teknik yang bisa membantu dalam menghasilkan berbagai karya yang membuat orang tertarik untuk melihatnya.

Untuk menjadi fotografer tentunya tidak hanya bermodalkan peralatan yang ‘wah’ dalam arti jenis kamera dan lensa yang lengkap.

Salah satu kunci yang sangat penting bagi fotografer adalah menguasai teknik-teknik fotografi. Banyak sekali teknik fotografi yang akan menambah variasi dan keindahan foto sehingga menarik dan bagus.

Itulah salah satu tujuan dari jambore fotografer NTB 2022 diselenggarakan oleh Komunitas Lombok Landscaper (KLL), berlangsung di Sada 360 Camping 22-23 Oktober 2022 dua hari yang lalu.

Dalam giat tersebut, ratusan fotografer dari berbagai daerah ikut jadi peserta baik dari Lombok, Sumbawa, Bima, Jatim, Jakarta, Bandung dan daerah lainnya di Indonesia.

Untuk diketahui sejumelah mentor juga hadir memeriahkan acara tersebut sambil berbagi ilmu kepada para peserta jambore.
Sebut saja ketiga mentor itu yakni Arbain Rambey, Andi Kusnadi dan Martha Suherman.

Arbain Rambey memaparkan, saat berbagi pengalaman kepada para peserta jambore. Menjadi seorang fotografer tidak harus mempunyai alat (Kamera) yang mahal, dan semangat berbagi itu jangan di itung dengan uang.

"Semangat berbagai itu nular semua lah. Jangan semuanya dihitung dengan uang, karena fotografi itu membahagiakan," pungkasnya.

Kalau orang suka sesuatu, lanjut Arabin tau alasannya benar-benar suka. Ada orang yang senang nyanyi, senang masak, senang bersepeda dan masih banyak lagi orang tidak tau alasannya mengapa dia senang.

"Ya jawabannya suka-suka aja, senang-senang saja melakukan itu. Sekali lagi kalau anda sekarang sudah cinta sama fotografi, sudah cinta jangan banyak pikir," ujar Arbain.

Humoria: Para mentor pose bersama di lokasi jambore, (Foto: Rosyidin/MP).

"Pasang surut ia, itu gunanya berhimpun dalam kelompok. entah itu Lombok Landscaper dan yang lainnya, Itu membahagiakan," iumbuhnya.

Di Indonesia, kata wartawan senior ini lebih lanjut landscapenya dari dulu selalu punya peminat. Tetapi sekarang yang paling kuat itu kelompok makro, makro itu solid.

"Jangan kalah dengan anak-anak lain. Artinya gini kalau anak-anak landscaper, anak-anak model. Kok kalah gitu, jangan kecil hati ya keber dong jangan mau kalah," katanya, untuk memotivasi para peserta jambore.

Sekali lagi ia mengingatkan, bahwa ikut komunitas itu harus konsisten jangan keluar masuk. Dari 2003 hingga sekarang di komunitas itu berganti-ganti orangnya.

"Padahal kalau benar, fotografi itu bisa jadi muara kita dalam segala hal. Berbahagialah jadi amatir ya, mau beli gak pikir. Kalau profesional itu itung-itungan nanti balik modal kapan dan sebagainya kan," ujarnya.

Kemudian ia menganalogikan menjembatani antara fotografer amatir dan yang profesional. Pilot tidak harus punya pesawat terbang, sopir tidak harus punya mobil, sama fotografi tidak harus punya kamera.

"Jadi kalau ada yang nggak punya alat, pesan saya adalah jangan berhenti karena alat. Jangan berhenti karena alat ya," tegas Arbain.

"Dan berbahagialah kalian masuk dunia fotografi, saya masuk dunia fotografi tidak sengaja. Karir saya di fotografi dari nol langsung jadi Redaktur foto KOMPAS," ucapnya.

Intinya adalah, sambung Arabain fotografi itu dinikmati. Jadi jika kalah jangan minder, lain kali dikejar kerena belum tentu mereka aja yang menang dalam lomba.

Ikut lomba foto adalah, satu latihan kepekaan dan melatih yang menjadi tolak ukur kemampuan dalam bidang fotografi. Dan ikut komunitas adalah memacu diri untuk lebih bersemangat lagi.

"Jadi nikmati, jangan bikin prustasi dan jangan ambisi berlebihan itu saja. Don't wory by happy," tandasnya.

Sementara itu, Martha Suherman menambahkan bahawa fotografi bukan sekadar bikin foto, bikin visual atau mendokumentasikan sesuatu.

Karena setiap orang itu punya caranya sendiri-sendiri menikmati fotografi, sama kayak orang makan bakso beda-beda seleranya, ada yang suka sambelnya banyak, ada yang suka bakmi dan ada pakai pangsit.

"Na itu, cara menikmati fotografi itu beda-bisa," katanya.

Kalau membuat foto itu, lanjut perempuan akrab disapa Ce Martha gak cuman sekedar datang ke satu tempat foto pulang selesai.Karena pada saat kita membuat sebuah foto, sebaiknya kita punya tujuan.

"Jadi setiap orang saya yakin, punya tujuan yang berbeda-beda untuk membuat sebuah foto," tuturnya.

Untuk itu, Ce Martha menghimbau ke para peserta jambore untuk terus mencari reprensi agar foto yang dihasilkan itu benar-benar bagus dan hasilnya memuaskan.

"Coba deh teman-teman bikin personal project sendiri yang menyiapkan semuanya. Coba latih diri kita menyiapkan  konten apa yang ingin kita bikin, kudanya maunya warna apa, modelnya bajunya kayak gimana dan lokasinya seperti apa," ujarnya.

"Nah itu yang kita lakukan persiapan-persiapan kaya gitu," imbuhnya Martha.

Martha mengaku sedih dengan teman-temannya di Jakarta, yang nota bene punya kamera mahal-mahal tapi pada saat motret mereka tidak tahu caranya pakainya.

Huoria: Panitia Jambore Fotografer NTB 2022 pose bersama para mentor, (Dok. Istimewa).

Karena mereka tahu hanya tinggal pencet tombol chater, sedangkan fotografi itu tidak hanya cuma itu. Harus menguasai kamera yang dimiliki dari segala fasilitas yang ada dalam menu kamera itu sendiri.

"Kita juga harus bicara dengan lantang, bahwa ini adalah pemikiran saya, ini adalah ide saya. Saya ingin menyampaikan sesuatu, bahkan samapi ada target ahirnya pingin ikut pameran dan pingin punya buku hasil karya saya," katanya, bersemangat memotivasi para peserta jambore diselimuti dinginnya malam waktu itu.

Sebuah foto itu, sambung Ce Martha yang membrending diri jadi fotografer komersil saat ini. Bahwa yang memang terkonsep, punya ide tertentu kadang-kadang butuh eport untuk mengeksekusi semuanya.

"Sebenarnya, sebelum kita membuat sebuah foto ada baiknya kita lakuin persiapan yang mateng. Event untuk project sendiri," ujar Martha.

Itu semua persiapan prei produksannya, jangan pergi ke suatu tempat jika tidak memiliki konsep persiapan yang sesuai dibutuhkan.

"Sayang kan, maksud saya latihan diawal nggak apa-apa. Tapi kan kita harus ada up ceeling (Naik level)," ucapnya.

Fotografi itu saling berkaitan dengan segmen yang lain. Karena ada urusan ekonomi, UMKM dan pariwisatanya. Semuanya itu berkaitan dengan bisnis, dan ia mengakui sejak menggunakan brend tersebut, juga dia belajar non fotografi.

"Ahirnya aku belajar marketing, berkenalan dengan industri yang berbeda. Jadi itulah fotografi, fotografi bukan sekedar lensa dan triport gitu," tuturnya.

Teknis fotografi, cukup dikuasai sesuai kebutuhannya saja. Kembali Ce Martha berpesan kepada para peserta jambore, untuk terus mencoba dan berpikir cara membuat ide, membuat sebuah konsep agar bisa bercerita tentang banyak hal.

"Bagaimana cara mengemas fotografi itu dengan sekil anda yang lain. Menurut saaya, andil kita dalam membuat buku itu sebenarnya sangat simpl untuk menjalankan apa yang menjadi tujuan kita berfotografi," tutup Ce Martha.








Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Fotografer Harus Memiliki Konsep Bukan Sekedar Jepret

Trending Now