Dinilai Untungkan Asing, Nelayan Lombok Tolak Rencana Ekspor Benih Lobster

MandalikaPost.com
Selasa, Oktober 17, 2023 | 23.01 WIB Last Updated 2023-10-21T12:20:06Z
Deretan keramba jaring apung milik petani budidaya Lobster di Dusun Telong Elong, Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, NTB.

MANDALIKAPOST.com - Pemerintah berencana untuk membuka kembali ekspor benih bening lobster untuk budidaya di luar negeri akan dibarengi dengan pengembangan budidaya lobster di dalam negeri. Namun, sejumlah kalangan menilai langkah pemerintah itu bakal memukul budidaya lobster di Tanah Air dan sebaliknya menguntungkan usaha budidaya lobster di luar negeri.


Wacana dibukanya kembali ekspor benih lobster ini, ditolak nelayan dan petani budidaya lobster di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).



Di kampung sentra budidaya lobster, Dusun Telong Elong, Desa Jerowaru, Lombok Timur misalnya. Para nelayan dan petani budidaya khawatir harga benih lobster untuk budidaya lokal bisa melambung tinggi jika ekspor benih yang saat ini dilarang, kembali dibuka.


"Kalau ekspor lobster konsumsi dengan ukuran di atas 150 gram ya tidak masalah. Tapi kalau ekspor benih bening lobster (BBL) jelas kami tolak. Sebab bisa jadi langka dan susah cari benih dan harganya pasti meroket," kata Murdayan (40), nelayan yang juga petani budidaya lobster di Dusun Telong - Elong, Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.


Dayan mengatakan, budidaya lobster dengan pola keramba jaring apung (KJA) saat ini sudah berjalan baik di Telong Elong. Para petani budidaya juga bisa merasakan nilai tambah yang cukup baik menyusul stabilnya harga panen yang berkisar Rp480 ribu - Rp550 ribu per kilogram.


Ketersediaan BBL untuk benih budidaya lobster juga sangat terjaga sejak ekspor BBL dilarang pemerintah. Saat ini harga benih losbter berkisar Rp3.000 sampai Rp3.500 per ekor, sudah sangat ideal untuk kebutuhan benih budidaya.


"Dulu waktu masih boleh ekspor BBL itu kan petani budidaya disini juga kesulitan mendapatkan benih karena benih dikirim ke luar. Harganya juga sangat tinggi dulu, bisa sampai Rp9000 sampai Rp11 ribu per ekor. Kami khawatir kalau ekspor BBL dibuka kembali, kami kesulitan benih dan harga benih jadi melambung lagi seperti dulu," katanya.


BACA JUGA : "Gubuk Derita" Pembawa Bahagia di Kampung Lobster Telong Elong Lombok Timur


Hal serupa dikatakan eksportir lobster konsumsi, Lalu Tantowi Jauhari. Menurut dia, eskpor BBL hanya menguntungkan budidaya lobster negara lain, seperti Vietnam. Padahal hingga saat ini, produk lobster Indonesia, terutama Lombok masih sulit mendapatkan branding yang baik di pasaran global.


Tantowi mengatakan, sejauh ini lobster yang diekspor ke asia tenggara masih terbranding sebagai lobster Vietnam dan atau Australia. Padahal lobster itu dari Lombok, Indonesia.


"Pengalaman kami sebagai eksportir seperti itu. Lobster kita oleh buyer dijual kembali dengan branding negara lain seperti Vietnam dan Australia. Harusnya pemerintah membantu intervensi dulu soal branding ini, bukannya malah membuka keran eksoor BBL," ujarnya.


Tantowi khawatir, ekspor BBL hanya bakal menguntungkan budidaya di luar negeri seperti Vietnam. Sehingga kemudian untuk lobster konsumsi di pasar global justru lobster Vietnam yang mendapat branding, padahal benihnya dari Indonesia.


"Kami harap pemerintah bisa mempertimbangkan hal ini sebelum membuka ekspor BBL kembali," tegasnya.



Dikutip dari situs brief.id, Draf Rancangan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Penangkapan, Pembudidayaan, dan Pengelolaan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus spp) kini memasuki tahapan konsultasi publik.


Revisi aturan itu di antaranya membuka kembali keran ekspor benih bening lobster lewat skema kerja sama investasi. Sebelumnya, ekspor benih lobster dilarang.


Aturan buka-tutup ekspor benih bening lobster telah beberapa kali dilakukan. Dari catatan, pemerintah pernah menutup keran ekspor benih bening lobster pada 2015-2019, lalu membukanya lagi pada 2020. Pada 2021, ekspor benih bening lobster ditutup dan tahun ini izin ekspor berpeluang dibuka lagi. Lobster merupakan satu dari lima komoditas unggulan perikanan budidaya yang diusung pemerintah dalam program kerja berbasis ekonomi biru.


Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim mengemukakan, pemerintah sebaiknya menahan diri untuk tidak tergoda ekspor benih bening lobster yang dibungkus narasi investasi asing untuk budidaya lobster di dalam negeri.


Pemerintah perlu fokus pada pengkajian stok benih bening lobster dan bekerja sama dengan para pembudidaya lokal di setiap provinsi untuk usaha pembibitan dan pembesaran lobster.


”Manfaat ekonomi dan lingkungan dari budidaya lobster di dalam negeri jauh lebih bisa dirasakan oleh pembudidaya ketimbang benih bening lobster diangkut ke Singapura, Vietnam, dan Tiongkok,” katanya.


Halim menambahkan, dibukanya keran ekspor benih bening lobster hanya akan menguntungkan investor asing. Transfer teknologi oleh investor asing diragukan bakal terwujud. Dari aspek hilirisasi, program pembibitan dan pembesaran benih bening lobster di dalam negeri terancam terhenti karena ada migrasi massal pembudidaya ke penangkap benih bening lobster.


”Ujungnya, eksploitasi benih bening lobster akan semakin marak dan kita kehilangan stok benih,” ujarnya.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dinilai Untungkan Asing, Nelayan Lombok Tolak Rencana Ekspor Benih Lobster

Trending Now