![]() |
| Akademisi: Bedah disertasi doktoral Sekada Lombok Timur, H.M Juaini Taofik, (Foto:Rosyidin/MP). |
Diskusi ini menyoroti model baru dalam penanganan stunting yang selama ini dinilai terjebak dalam pusaran administratif.
Disertasi bertajuk "Model Implementasi Kebijakan Penurunan Stunting di Kabupaten Lombok Timur" ini lahir sebagai respons atas fenomena stagnasi data. Meski intervensi anggaran dan birokrasi telah dilakukan secara masif, Lombok Timur tercatat masih berada di peringkat 9 dari 10 kabupaten/kota di NTB dalam penanganan stunting.
Melampaui Prosedur Administratif
Dalam paparannya, H. Muhammad Juaini Taofik mengungkapkan bahwa kelemahan mendasar selama ini adalah kebijakan yang kuat di atas kertas, namun lemah pada dampak nyata (outcome) di tingkat keluarga.
"Kita sudah punya regulasi, anggaran, dan struktur birokrasi, tapi faktanya stunting masih tinggi. Ada gap antara kebijakan di atas kertas dengan perilaku masyarakat di lapangan," ujar Sekda Juaini di hadapan para panelis dan jurnalis.
Ia menegaskan bahwa penanganan stunting tidak boleh hanya bersifat musiman atau bergantung pada siklus anggaran tahunan.
"Bagaimana bisa turun kalau kita hanya bicara stunting saat ada anggaran? Setelah 31 Desember, apakah kita berhenti bicara stunting? Itulah pentingnya keberlanjutan," tegasnya.
Riset Partisipatif: Tinggal Bersama Keluarga Berisiko
Keunikan riset ini terletak pada metodologinya. Juaini melakukan riset partisipatif dengan tinggal langsung bersama keluarga berisiko stunting di wilayah Masbagik dan Kembang Kuning untuk memvalidasi temuannya.
Ia menemukan bahwa hambatan terbesar bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan stigma dan persepsi sosial yang keliru.
"Saya tanya kenapa ibu tidak menyusui anaknya? Jawabannya 'begitu saja'. Ternyata praktik-praktik lama yang kurang tepat masih ada di rumah-rumah penduduk kita. Inilah yang harus diintervensi melalui pendekatan budaya," jelasnya.
Model SIPETAS: Mengawinkan Teori dan Kearifan Lokal
Sebagai solusi, Juaini memperkenalkan model SIPETAS (Sinergi Peran Tokoh Lokal dalam Akselerasi Penurunan Stunting). Model ini mengintegrasikan teori implementasi George C. Edward III yang meliputi sumber daya, birokrasi, disposisi, dan komunikasi dengan variabel tambahan berupa Modal Sosial dan Kearifan Lokal.
Model SIPETAS memiliki empat pilar utama:
Sinergi Tokoh Lokal: Menempatkan Tuan Guru, tokoh adat, dan komunitas sebagai aktor utama, bukan sekadar pelengkap.
Komunikasi Berbasis Budaya: Mengatasi resistensi masyarakat melalui pendekatan persuasif dan agamis.
Keberlanjutan Tanpa Anggaran: Menanamkan kesadaran perilaku agar program tetap berjalan meski anggaran daerah terbatas.
Adaptif & Kontekstual: Menyesuaikan pola penanganan antara karakteristik wilayah perkotaan dan perdesaan.
"Faktor terbesar adalah variabel komunikasi. Boleh kita tidak punya uang atau struktur yang kuat di bawah, tapi kalau komunikasi kita bagus melalui tokoh agama dan media, itu bisa mengalahkan segalanya," tambah Juaini.
Tanggapan Panelis: Menjembatani "Normal Baru dan Nilai Lama"
Diskusi ini menghadirkan panelis kompeten seperti Dr. Amrullah (Staf Ahli Gubernur NTB), Saparwadi (Aktivis), serta tokoh agama dan peneliti sosial. Para panelis sepakat bahwa di daerah seperti Lombok, kepatuhan masyarakat terhadap tokoh informal (Tuan Guru) seringkali lebih tinggi dibandingkan birokrasi formal.
Model SIPETAS dinilai mampu menjawab tantangan "Normal Baru vs Nilai Lama", di mana pesan-pesan kesehatan modern disalurkan melalui corong kearifan lokal yang lebih diterima masyarakat.
Harapan untuk RPJMD
Disertasi ini dijadwalkan akan diuji dalam Sidang Terbuka Program Doktoral di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Jumat, 9 Januari 2026 mendatang.
Sekda Juaini berharap temuan ini dapat diadopsi sebagai kerangka operasional resmi dalam dokumen perencanaan daerah (RPJMD) Lombok Timur.
"Ibarat air yang menetes setiap saat bisa membuat batu berlubang. Harapan kita, menangani stunting ini tidak perlu buru-buru atau sekadar mengejar target angka, yang penting perilakunya sudah berubah dan tokoh masyarakat sudah pro aktif," pungkasnya.

