Disertasi Model Partisipatif Tekan Stunting di Lombok Timur, Akademisi Dorong Implementasi Berbasis Tokoh Lokal dan Budaya

Rosyidin S
Rabu, Januari 07, 2026 | 08.19 WIB Last Updated 2026-01-07T01:11:35Z
Diskusi: Diskursus bedah disertasi pencegahan stunting melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Upaya penanganan stunting di Lombok Timur dinilai membutuhkan pendekatan baru yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berbasis budaya lokal. Hal tersebut mengemuka dalam forum akademik yang membedah disertasi calon doktor Sekertaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik yang meneliti model kolaboratif pencegahan stunting dengan melibatkan tokoh lokal, tokoh agama, dan masyarakat adat.

Sejumlah akademisi, praktisi, dan jurnalis Lombok Timur yang hadir menilai riset tersebut memiliki signifikansi kuat, baik secara ilmiah maupun implementatif, terutama untuk diterapkan sebagai kebijakan daerah.

Salah seorang akademisi yang pernah menjadi penguji doktoral di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Amrullah menegaskan bahwa dalam ujian disertasi, terdapat tiga aspek utama yang selalu menjadi perhatian penguji.

“Yang pertama adalah signifikansi penelitian, kenapa riset ini penting dilakukan. Kedua adalah novelty atau keterbaruan, apa bedanya dengan penelitian sebelumnya. Dan yang ketiga adalah objektif atau tujuan penelitian yang harus jelas dan terukur,” ujarnya. Selasa malam (6/1/26).

Ia menilai topik stunting yang diangkat tergolong “seksi” dan relevan, terlebih hasil riset telah diterima di jurnal bereputasi internasional (Q1).

“Reviewer melihat hasil model ini sangat menjanjikan karena bisa diimplementasikan dan direplikasi di daerah lain. Ini nilai plus yang jarang dimiliki penelitian kebijakan,” tambahnya.

Menurutnya, penguasaan metodologi menjadi kunci utama dalam mempertahankan kebaruan riset.
“Metode harus dijelaskan dengan sangat jernih. Kenapa memilih metode tertentu sebagai basis model, apa keunggulannya, dan bagaimana metode itu memunculkan novelty. Di situlah kekuatan disertasi ini,” jelasnya.

Pendekatan Budaya Dinilai Lebih Efektif

Sementara itu, Ustadz Safarwadi, tokoh masyarakat Lombok Timur, menyoroti kuatnya aspek implementasi dalam penelitian tersebut. Ia menilai pendekatan berbasis tokoh lokal mampu menggeser paradigma birokratis yang selama ini dianggap kurang efektif.

“Stunting ini bukan hanya soal kesehatan atau gizi. Ini soal ekonomi, pendidikan, dan perilaku masyarakat. Karena itu, pendekatannya tidak bisa hanya birokrasi, tapi harus menyentuh budaya dan karakter sosial masyarakat,” katanya.

Ia menilai keterlibatan tokoh agama dan tokoh adat menjadi kunci keberhasilan perubahan perilaku di tingkat akar rumput.

“Masyarakat kita sangat tergantung siapa yang berbicara. Ketika tokoh lokal dilibatkan, pesan kesehatan berubah menjadi nasihat budaya yang lebih mudah diterima,” ujarnya.

Safarwadi optimistis, jika model ini diterapkan secara konsisten, penurunan angka stunting bisa lebih signifikan.

“Selama ini penurunan rata-rata hanya sekitar 2 persen. Kalau pendekatannya berbasis budaya dan partisipatif, saya yakin bisa mencapai 5 persen,” tegasnya.

Kritik Peran Tokoh Agama dan Evaluasi Program

Pandangan kritis juga datang dari tokoh adat dan pengamat sosial yang hadir dalam forum tersebut. Ia menyoroti peran sebagian tokoh agama yang dinilai belum maksimal dalam isu sosial.

“Selama ini ceramah kita hanya berkutat soal surga dan neraka, tapi lupa membahas ‘neraka kehidupan’ yang dihadapi masyarakat, seperti stunting dan gizi buruk,” ungkap Lalu Kamil.

Ia juga menyinggung rendahnya kesadaran menyusui pada sebagian ibu muda akibat faktor psikologis dan budaya.

“Ada seorang istri yang enggan menyusui karena takut bentuk tubuhnya berubah. Ini fakta sosial yang harus dijawab dengan pendekatan agama dan budaya,” katanya.

Selain itu, ia mengkritik minimnya monitoring dan evaluasi program penanganan stunting di Lombok Timur.

“Ada 7 desa yang masuk kategori rawan, tapi program penanganan stanting dan gizi buruk hampir tidak terlihat keberhasilan dari program Desa. Jangan sampai muncul stigma bahwa angka stunting sengaja dipelihara,” tegasnya.

Dorongan Jadi Kebijakan Daerah

Forum tersebut menyimpulkan bahwa model partisipatif yang ditawarkan dalam disertasi calon doktor ini layak dijadikan rujukan kebijakan daerah. Dengan karakter yang fleksibel, adaptif, dan kontekstual, model ini dinilai mampu menjawab kompleksitas persoalan stunting di Lombok Timur.

“Ini bukan sekadar riset akademik, tapi model kebijakan yang siap diimplementasikan. Tinggal kemauan pemerintah untuk mereplikasi dan menyesuaikan dengan kondisi lokal,” pungkas salah satu peserta diskusi.

Dengan berbagai masukan, kritik, dan apresiasi tersebut, disertasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi menjadi pijakan nyata dalam upaya menekan angka stunting di Lombok Timur secara berkelanjutan.                          
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Disertasi Model Partisipatif Tekan Stunting di Lombok Timur, Akademisi Dorong Implementasi Berbasis Tokoh Lokal dan Budaya

Trending Now