Kisah "King Polo" dari Apitaik: Bocah yang Dulu Menangis Ingin Main Bola, Kini Jadi Idola Lapangan Hijau

Rosyidin S
Rabu, Januari 14, 2026 | 21.29 WIB Last Updated 2026-01-14T15:14:49Z
Bintang Tarkam: Sosok Supriyandi alias King Polo saat memperkuat squad Restu Bumi FC di Sembalun, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Nama Supriyandi, atau yang lebih akrab disapa King Polo, kini tengah menjadi buah bibir di kancah sepak bola tarkam hingga liga regional di Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya.


Namun, di balik kelincahan dan gaya mainnya yang "tengil" di lapangan, tersimpan cerita perjuangan seorang bocah dari Desa Apitaik yang murni tumbuh dari bakat alam.


H. Muhammad Amin, kerabat dekat sekaligus saksi hidup perjalanan karier King Polo, menceritakan bahwa kecintaan pemuda kelahiran 1999 itu terhadap bola sudah terlihat sejak dini. Bahkan, Polo kecil sering menangis tersedu-sedu jika tidak diajak bermain bola oleh para seniornya.


Bakat Alam dan Kerja Keras


Uniknya, Polo tidak pernah mengenyam pendidikan formal di Sekolah Sepak Bola (SSB). Keahliannya mengolah si kulit bundar didapatkan secara otodidak melalui pengamatan.


"Uniknya Polo ini, kalau lihat di YouTube, dia langsung bisa memeragakannya. Bisa dikatakan bakat alam. Dia tidak punya pelatih khusus, tapi gerakannya meniru pemain dunia yang dia tonton," ungkap H. Muhammad Amin saat ditemui dikediaman Polo, Rabu (14/01).


Kegigihan Polo bahkan sempat membuatnya jatuh sakit saat masih duduk di bangku SD. Amin mengenang bagaimana Polo sering lupa makan dan istirahat demi berlatih di lapangan desa usai pulang sekolah.


"Waktu SD, teman-temannya pulang makan, dia malah lari ke lapangan masih pakai seragam sekolah. Sampai seminggu begitu, dia langsung sakit panas. Dokter sampai bingung, ternyata karena dia kelebihan olahraga di tengah hari bolong," tambahnya.


Karakter "Tengil" yang Dirindukan Penonton


Di lapangan, King Polo dikenal dengan gaya main yang provokatif namun menghibur. Karakter inilah yang membuatnya menjadi magnet bagi penonton. Kehadirannya di turnamen tarkam selalu dinanti, bahkan oleh para pedagang asongan yang mencari rezeki di pinggir lapangan.


"Anaknya memang tengil di lapangan, tapi aslinya baik. Justru kalau dia main 'tengil' itu, permainannya keluar semua. Penonton senang, panitia senang. Bahkan pedagang kacang saja sampai menandai dan menanyakan jadwal main Polo karena pasti ramai penonton kalau ada dia," tutur Amin sembari tertawa.


Karier Polo terus melejit mulai dari klub lokal Pordab (Persatuan Sepak Bola Dasan Bagek), hingga merambah ke klub-klub besar seperti Banyu Mulek FC, Restu Bumi, hingga bermain di Jakarta Selatan dan meraih gelar Best Player.

Bintang lapangan Hijau, King Polo/Polo Brembe, (Foto: Rosyidin/MP).

Dukungan Pemerintah Desa dan Regenerasi


Keberhasilan King Polo membawa dampak positif bagi citra Desa Apitaik. Sekretaris Desa Apitaik, Mashuri, menyatakan rasa bangganya atas pencapaian putra daerah tersebut. Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) kini berkomitmen untuk memfasilitasi bibit-bibit muda lainnya agar bisa mengikuti jejak Polo.


"Kami dari pihak Pemdes sangat mengapresiasi keberhasilan Polo. Ini membawa dampak positif bagi Desa Apitaik. Melalui Karang Taruna, kami mulai membuka turnamen dan berharap ada regenerasi. Kami juga berencana melakukan perluasan fasilitas lapangan sesuai permintaan pemuda," jelas Mashuri.


Mashuri berharap, ke depan akan ada kolaborasi antara pemerintah desa, pengusaha, dan pelatih profesional untuk membina talenta-talenta muda secara berkelanjutan.


"Kita bangga punya talenta sepak bola seperti Polo. Harapannya, sepak bola bisa menjadi ikon Desa Apitaik," pungkasnya.


Profil Singkat:

 * Nama Asli: Supriyandi

 * Nama Panggung: King Polo (Terinspirasi dari komedian Polo Srimulat dan pemain Italia, Paolo Maldini)

 * Asal: Desa Apitaik, Lombok Timur

 * Tahun Lahir: 1999

 * Klub Asal: Pordab (Persatuan Sepak Bola Dasan Bagek).


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kisah "King Polo" dari Apitaik: Bocah yang Dulu Menangis Ingin Main Bola, Kini Jadi Idola Lapangan Hijau

Trending Now