![]() |
| Tinjau: Menteri Kanada bersama rombongan melihat langsung keberhasilan program BERANI II di Lotim, (Foto: Istimewa/MP). |
Rombongan dipimpin langsung Menteri Negara Bidang Pembangunan Internasional Kanada, Randeep Singh Sarai, yang hadir didampingi Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton, serta perwakilan tiga agensi besar PBB, yakni UNFPA, UNICEF, dan UN Women.
Kunjungan ini bertujuan meninjau dampak nyata pelaksanaan Program BERANI II (Better Sexual and Reproductive Health and Rights for All in Indonesia), sebuah program yang didanai Pemerintah Kanada dan berfokus pada perlindungan perempuan dan anak, termasuk pencegahan pernikahan anak serta penghapusan praktik Pemotongan atau Perlukaan Genitalia Perempuan (P2GP) atau sunat perempuan.
Dalam dialog bersama warga dan pemangku kepentingan desa, terungkap capaian signifikan. Di saat angka pernikahan anak secara nasional masih berada di **5,90 persen pada 2024, lima desa di Pulau Lombok justru berhasil mencatatkan nol kasus pernikahan anak.
“Pernikahan anak nol di desa ini. Ini adalah langkah yang sangat krusial. Ketika perempuan tetap bersekolah, mereka memiliki peluang ekonomi dan masa depan yang jauh lebih baik,” puji Menteri Randeep Singh Sarai di hadapan warga Desa Aik Dewa.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial dapat dicapai melalui pendekatan berbasis komunitas, meski menyasar isu-isu yang selama ini dianggap sensitif dan tabu.
Direktur LPSDM, Ririn Hayudiani menjelaskan bahwa transformasi tersebut lahir dari kesadaran di tingkat akar rumput. Jika sebelumnya isu kesetaraan gender kerap dianggap bertentangan dengan adat dan budaya, kini situasinya mulai berubah.
“Dulu, isu kesetaraan gender sering kali dianggap membentur norma adat. Namun sekarang, cara pandang patriarki mulai bergeser ke arah yang lebih setara, terutama di tingkat keluarga,” ujar Ririn.
Perubahan serupa juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Nendi, perwakilan Lembaga Sosial Desa (LSD), menilai program ini telah memperkuat posisi perempuan, khususnya kaum ibu, untuk berani menyuarakan hak-haknya.
“Kami melihat ibu-ibu sekarang lebih berani speak up terhadap segala bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik maupun ekonomi,” ungkapnya.
Capaian Program BERANI II di Lombok Timur (2024–2025):
Edukasi Masif: Pengetahuan kesehatan reproduksi menjangkau 31.800 remaja di sekolah dan pesantren.
Kesehatan Ibu: Angka kematian ibu di Lombok Timur berada di bawah rata-rata nasional, tercatat hanya 20 kasus hingga 2024.
Regulasi Desa: Terbit 34 rencana aksi kebijakan, termasuk 19 peraturan di tingkat desa dan dusun.
Standar Nasional: Praktik penghapusan sunat perempuan dari Lombok Timur resmi masuk dalam RPJMN 2025–2029.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur, **dr. Hasbi Santoso**, mengatakan kunjungan delegasi Kanada juga menjadi bagian dari evaluasi keberlanjutan Program BERANI II.
“Tahun 2025 merupakan tahun kelima tahap kedua. Karena itu, pada 2026 ini dilakukan evaluasi untuk mengambil kesimpulan apakah program BERANI II akan dilanjutkan atau tidak,” jelas dr. Hasbi.
Melihat respons positif dari Menteri Randeep, dr. Hasbi berharap dukungan Pemerintah Kanada dapat berlanjut ke tahap berikutnya.
“Kita menunggu hasil laporan kunjungan Pak Menteri dan para stakeholder. Harapannya tentu program ini bisa berlanjut ke BERANI III,” tutupnya.
Kunjungan tersebut ditutup dengan penegasan komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas DP3AKB, Dinas Kesehatan, dan Dinas BPMD, serta dukungan Ketua TP-PKK Provinsi NTB, untuk memastikan keberlanjutan perlindungan perempuan dan anak demi terwujudnya generasi NTB yang sehat, setara, dan berdaya saing.

