![]() |
| Pose: Sekda Lombok Timur, Dr. H.M Juaini Taofik berfoto bersama Ketua DMI NTB dan Ketua DMI Lombok Timur beserta jajarannya, (Foto: Rosyidin/MP). |
Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Kak Ofik ini menekankan pentingnya sinergi yang lebih dalam antara pemerintah daerah dan para pengurus masjid.
Menurutnya, masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan kekuatan besar untuk menyelesaikan masalah sosial, termasuk persoalan kesehatan seperti stunting.
Sekda menjelaskan perbedaan mendasar antara kerja sama, kolaborasi, dan sinergi. Ia berharap hubungan DMI dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) berada pada level sinergi, di mana semua pihak bergerak menuju tujuan yang sama meski dengan waktu dan cara yang berbeda.
"Sinergi ini kita bekerja sama tanpa ada kesepakatan tertulis yang kaku, tanpa waktu yang sama, tetapi tujuan kita sama. Mungkin pemerintah bekerja dari jam 8 sampai jam 5 sore, sementara pengurus masjid bekerja di waktu-waktu salat bahkan sampai malam. Kita ingin mencari harapan yang sama agar umat bahagia di dunia dan akhirat," ujar Kak Ofik.
Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah keterlibatan tokoh agama dalam menekan angka stunting di Lombok Timur melalui inisiatif "SIPTAS". Sinergi Peran Tokoh Lokal dalam Akselerasi Penurunan Stunting. Kak Ofik menilai, faktor komunikasi dari tokoh formal saja tidak cukup untuk mengubah perilaku masyarakat.
"Mengapa stunting di Lombok Timur ini sulit berkurang? Variabel terbesarnya adalah faktor komunikasi. Masih hanya tokoh formal yang membicarakan. Rekomendasinya, kita harus melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat untuk bersama-sama bersinergi," tegasnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS), Lombok Timur memiliki kekuatan luar biasa dengan jumlah 1.435 masjid dan 2.833 mushola, dengan total mencapai 4.268 titik. Potensi ini dinilai sangat efektif jika pengurusnya memiliki loyalitas dan struktur yang kuat hingga tingkat desa/kelurahan.
Mengenai keterbatasan sumber daya, Kak Ofik berpesan agar pengurus tidak berkecil hati. Ia mencontohkan banyak pondok pesantren besar yang justru tumbuh dari keterbatasan namun tetap bertahan karena keistiqomahan.
"Jangan melihat ke atas kalau berbicara material, tidak akan ada puasnya. Namun lihatlah pesantren, banyak yang berawal dari keterbatasan tetapi karena istiqomah, mereka tetap eksis. Makanya, pengukuhan ini penting agar jelas siapa pimpinan dan pengurusnya. Loyalitas di dalam organisasi harus dipelihara agar efektif mencapai tujuan, bukan untuk gagah-gagahan," tambahnya.
Ketua DMI Lombok Timur, Ustadz Husni Mubarok, menyampaikan rasa syukur, bangga, dan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Lombok Timur serta dinas terkait atas amanah yang diberikan kepada jajaran pengurus DMI.
"Mudah-mudahan amanah ini bisa kami laksanakan dengan penuh tanggung jawab. Kami juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengurus DMI Lombok Timur sebelumnya yang telah meletakkan pondasi kuat sebagai mitra pemerintah selama ini," ujarnya.
Ustadz Husni menegaskan bahwa visi utama DMI Lombok Timur adalah mewujudkan masjid sebagai pusat peradaban. Untuk mencapai visi besar tersebut, ia menekankan empat langkah strategis.
Ia menyoroti tradisi masyarakat yang gemar berzakat melalui masjid. "Seringkali zakat tersebut hanya dijadikan kas masjid, padahal seharusnya segera disalurkan kepada para mustahiq (penerima zakat). Kita harus berani melihat sisi sosial ini tanpa mengesampingkan pembangunan fisik maupun struktural masjid," jelas legislator dari Partai Gerindra tersebut.
Visi tersebut diupayakan melalui peningkatan manajemen dan fasilitas masjid agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh jemaah.
DMI berkomitmen menjadikan masjid sebagai tempat yang nyaman bagi anak-anak melalui pendidikan Al-Qur’an. "Sering kita dapati anak-anak dilarang ke masjid meskipun hanya untuk bermain. Padahal, pendidikan awal yang terbaik adalah mengenalkan mereka dengan masjid sejak dini," tuturnya.
DMI Lombok Timur berkomitmen bersinergi dengan Pemda, Kemenag, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyelaraskan program kerja demi mewujudkan cita-cita Lombok Timur SMART.
Menutup arahannya, Ustadz Husni mengutip firman Allah SWT mengenai hakikat manusia sebagai Khalifah di muka bumi. Ia menjelaskan bahwa peran khalifah mencakup kepemimpinan dan upaya memakmurkan.
"Makna khalifah itu luas, mulai dari memimpin diri sendiri, keluarga, hingga negara. Namun bagi kita yang hari ini dikukuhkan, fokus utama tugas kekhalifahan kita adalah mengurusi dan memakmurkan masjid," pungkasnya.
Acara diakhiri dengan ucapan selamat kepada seluruh jajaran pengurus DMI Lombok Timur yang baru. Diharapkan, kepengurusan periode ini mampu membawa masyarakat Lombok Timur menjadi lebih religius, sejahtera, dan mewujudkan visi Lombok Timur SMART.

