![]() |
| Tergenang: Seorang warga Seriwe saat melihat kondisi sawahnya yang digenangi air, ) Foto: Istimewa/MP). |
Pantauan di lokasi menunjukkan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Tidak hanya rumah tinggal, banjir juga merambah lahan pertanian dan fasilitas ibadah, mengubah kawasan tersebut menjadi genangan air keruh yang bercampur sampah serta kotoran ternak.
Bagi warga terdampak, banjir ini bukan sekadar masalah genangan air, melainkan ancaman terhadap kelangsungan hidup. Ilang (58), salah satu warga yang terpaksa meninggalkan rumahnya, mengungkapkan kekhawatirannya akan dampak kesehatan jangka panjang, terutama bagi anak-anak.
"Kalau di rumah saya sudah masuk airnya, makanya saat ini kami mengungsi. Dulu hanya kawasan rumah saya, tapi sekarang semakin meluas. Sudah dua minggu lebih rumah terendam, kalau lahan pertanian sudah satu bulan," ujar Ilang dengan nada getir.
Ia juga menyoroti kondisi lingkungan yang semakin tidak higienis. "Tempat kami ini kan sudah kumuh, ditambah banjir, sampah kiriman, dan kotoran hewan juga terbawa. Kami takut anak-anak di sini nanti terkena penyakit kulit," tambahnya.
Dampak banjir juga memukul sektor pendidikan. Akses jalan utama yang terendam membuat para siswa di Dusun Kaliantan terisolasi dan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Samsul Hadi (37), warga setempat, menjelaskan bahwa pendidikan anak-anak di desanya kini terhenti total.
“Anak-anak di sini sudah lama tidak masuk sekolah karena jalan yang dilalui tergenang air. Di sekolah mereka juga saat ini masih kebanjiran,” pungkas Samsul.
Banjir ini diduga kuat dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai pada Bendungan Embung Bedah. Tanpa adanya jalur pembuangan air (outflow), bendungan tersebut cepat meluap saat debit air meningkat.
Warga kini menagih solusi konkret dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur agar segera membangun infrastruktur pembuangan guna mencegah bencana serupa di masa depan.
“Kami harapkan kepada pemerintah untuk secepatnya membuat saluran pembuangan bendungan ini. Jangan sampai menunggu kami semua tenggelam baru mereka bergerak,” tegas Samsul.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berjaga-jaga di lokasi pengungsian sementara sembari berharap debit air segera surut dan bantuan medis mulai didistribusikan ke lokasi terdampak.

