Membangun Masa Depan dari Ekas: Lombok Timur Siap Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

Rosyidin S
Jumat, Februari 13, 2026 | 11.49 WIB Last Updated 2026-02-13T03:49:09Z
Serimoni: Wakil Mentri,Diktisaintek, Stella Christie didampingi Bupati Lombok, H. Haerul Warisin meletakan batu permata pembangunan gedung International Tropical Seaweed Research Center dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan di Desa Ekas, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com – Indonesia bersiap mengukuhkan posisinya sebagai raja rumput laut dunia. Langkah besar ini resmi dimulai dari pesisir Lombok Timur melalui peletakan batu pertama pembangunan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan di Desa Ekas, Kamis (12/2).

Pembangunan pusat riset internasional ini merupakan kolaborasi strategis antara Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Universitas Mataram (Unram), dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Meski diiringi gerimis dan dilaksanakan pada malam hari, momen ini menandai babak baru hilirisasi komoditas laut Indonesia.

Wakil Menteri Diktisaintek, Stella Christie, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar seremoni belaka. Pemerintah telah menggandeng raksasa riset dunia, yakni University of California, Berkeley dan Beijing Genomic Institute, untuk memastikan teknologi terbaru diterapkan di Ekas.

"Peletakan batu pertama ini bukan seremonial. Kami sudah menggandeng industri nasional agar bisa membentuk ekosistem rumput laut. Ingat, tujuan riset adalah untuk meningkatkan pengetahuan agar meningkatkan pendapatan dan perekonomian kita," ujar Stella Christie di hadapan warga dan tamu undangan.

Ia menambahkan bahwa dengan menguasai 75% pangsa pasar rumput laut tropis dunia yang bernilai sekitar Rp 198 triliun, Indonesia wajib melakukan inovasi melalui sains agar tidak hanya menjadi penonton di pasar global.

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menaruh harapan besar agar ITSRC mampu melahirkan bibit-bibit unggul yang selama ini menjadi kendala bagi petani lokal. Menurutnya, potensi laut Lombok Timur sangat besar namun belum tergarap optimal secara teknologi.

"Kehadiran peneliti di sini diharapkan menghasilkan bibit rumput laut yang lebih unggul, yang tentunya akan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar khususnya, dan Lombok Timur secara umum," harap Bupati Haerul.

Senada dengan Bupati, Rektor Unram, Bambang Hari Kusumo, menjelaskan bahwa kawasan ini akan menjadi sentra produksi sekaligus pelayanan kesehatan. Selain pusat riset, Klinik Kedokteran Spesialis Kepulauan yang dibangun akan menjadi yang pertama di Indonesia.

"Enam bulan ke depan sudah mulai membangun di lahan hibah Pemda ini. Harapan kami, masyarakat di sini terlayani kesehatannya, sekaligus mengembangkan kawasan untuk sentra produksi rumput laut," jelas Bambang.

Proyek ambisius ini juga melibatkan dunia usaha melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk memastikan aspek ketenagakerjaan dan penyerapan hasil produksi. Sebagai bentuk dukungan lokal, Bupati Lombok Timur turut menandatangani kerja sama dengan enam rektor perguruan tinggi setempat, di antaranya ITSKES Muhammadiyah, Universitas Hamzanwadi, dan IAIH Pancor.

Dengan teknologi hilirisasi yang semakin beragam mulai dari pupuk organik, plastik ramah lingkungan, hingga bio avtur Desa Ekas diproyeksikan tidak hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga jantung dari ekonomi biru Indonesia di masa depan.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Membangun Masa Depan dari Ekas: Lombok Timur Siap Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

Trending Now