Potret Pilu Suliati, Janda Dua Anak di Kaki Rinjani yang Luput dari Bansos Pemerintah

Rosyidin S
Selasa, Februari 17, 2026 | 16.45 WIB Last Updated 2026-02-17T08:54:56Z
Miris: Janda anak dua, Suliati saat ditemui awak media dikediamannya pada Senin malam, (Foto: RosyidinMP).

MANDALIKAPOST.com – Di bawah bayang-bayang kemegahan Gunung Rinjani, tepatnya di RT Lendang Belo, Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, Lombok Timur terselip sebuah kisah perjuangan hidup yang memilukan. Suliati (33), seorang ibu tunggal, harus berjuang melawan kemiskinan ekstrem di sebuah gubuk yang nyaris tak layak huni.


Malam itu, saat ditemui awak media Senin 16 Feberwari 2026, rintik hujan menambah dingin suasana di rumah Suliati. Lantainya hanya tanah, sementara dinding anyaman bambunya sudah lapuk dimakan usia. Di dalam ruangan sempit tanpa sekat kamar itu, ia tampak sibuk merawat anak keduanya yang tengah terbaring demam.


"Suami saya sudah meninggal empat tahun yang lalu. Sejak saat itu, saya dan anak-anak ditinggalkan berjuang sendiri," ungkap Suliati dengan nada lirih.


Sejak kepergian sang suami, beban ekonomi sepenuhnya berada di pundak Suliati. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia tetap memaksakan diri bekerja sebagai buruh harian lepas. Penghasilannya jauh dari kata cukup, bahkan untuk sekadar makan sehari-hari.


Kondisi rumahnya pun memprihatinkan. Tanpa atap pada bagian kamar mandi dan pintu yang layak, rumah tersebut kerap kebanjiran saat musim hujan tiba.


"Air hujan kadang masuk ke dalam rumah karena kondisi dindingnya yang sudah lama. Saya hanya mengandalkan harian lepas. Ada sedikit lahan peninggalan suami, tapi tidak cukup untuk menghidupi kami," rintihnya sambil memeluk erat anaknya.


Suliati mengaku, bantuan sosial yang dulu ia terima saat suaminya masih hidup, kini telah terputus. Saat ini, ia hanya mengandalkan bantuan BLT Kesra yang jumlahnya terbatas, sementara bantuan reguler seperti BPNT dan PKH tak lagi ia rasakan.

Perihatin: Kondisi rumah Sulianti nampak dari depan, (Foto: Rosyidin/MP).

Meski hidup dalam himpitan ekonomi, semangat Suliati untuk pendidikan kedua putrinya berusia 10 dan 13 tahun tidak pernah padam. Ia tidak ingin nasib pahit yang dialaminya menular kepada buah hatinya.


"Saya dulu tidak tamat SD. Anak saya harus lebih baik. Saya berharap ada uluran tangan yang bisa meringankan beban kami dan menjamin masa depan mereka," harapnya.


Menanggapi kondisi warganya yang viral, Pemerintah Desa Selaparang melalui Sekretaris Desa, Lalu Andi Taofik, memberikan penjelasan. Ia mengakui adanya kendala administratif pasca meninggalnya suami Suliati yang menyebabkan bantuan PKH terhenti.


"Sepengetahuan kita dia dapat PKH dulu, tapi setelah meninggal suaminya bantuannya putus. Data-data itu kan dari pendamping PKH. Kalau untuk BPNT Kesra, dia tetap dapat," jelas Lalu Andi.


Pihak desa memastikan akan segera mengambil langkah cepat untuk mendaftarkan kembali Suliati ke dalam sistem penerima bantuan sosial.


"Pak Kades dan pendamping PKH sudah ke sana kemarin. Insyaallah besok Suliati kita panggil ke kantor untuk diusulkan kembali mendapatkan bantuan," pungkasnya.


Kini, Suliati hanya bisa menunggu realisasi janji tersebut, sembari terus merajut harapan di tengah gelapnya malam di Lendang Belo, demi senyum dan masa depan kedua putrinya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Potret Pilu Suliati, Janda Dua Anak di Kaki Rinjani yang Luput dari Bansos Pemerintah

Trending Now