Membangkitkan Kejayaan Emas HiKopi Arabika Gaya Hidup dan Harapan Baru Petani Milenial Di Lereng Gunung Rinjani

Rosyidin S
Selasa, Februari 17, 2026 | 16.15 WIB Last Updated 2026-02-17T08:15:31Z
Emas Hitam: Gambar kopi arabika khas Sembalun varietas Typica, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com – Di bawah bayang-bayang megah Gunung Rinjani, sebuah gerakan perubahan mulai bersemi di tengah dominasi komoditas sayur-mayur dan bawang putih. Para pemuda dan petani milenial di Sembalun kini mulai melirik potensi besar kopi Arabika, si emas hitam yang menjanjikan stabilitas ekonomi di atas lahan-lahan kering yang selama ini terabaikan.


Penggiat kopi lokal, Rusmala, mengungkapkan bahwa pergeseran minat ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan respons cerdas terhadap perubahan gaya hidup dan pesatnya pariwisata di Sembalun.


"Kopi itu tidak hanya sebagai oleh-oleh atau sekadar untuk diminum, tapi sekarang saya lihat itu menjadi gaya hidup keren. Selama empat tahun terakhir harganya tidak pernah turun, bahkan harga green bean stabil di angka Rp100 ribu hingga Rp200 ribu," ujar Rusmala, Selasa (17/2).


Keterbatasan lahan subur yang kian terkuras oleh tanaman hortikultura disiasati dengan memanfaatkan lahan kering. Rusmala menjelaskan bahwa mereka kini beralih ke varietas Ateng Super yang lebih produktif buahnya dan lebat, menggantikan varietas lokal lama seperti Typica yang produksinya mulai menurun.


Meski karakter rasa unik kopi Sembalun dipengaruhi oleh ketinggian di atas 1.000 mdpl, Rusmala menekankan bahwa kualitas akhir sangat bergantung pada ketelitian proses pasca-panen.


"Yang menentukan kualitas itu selain varietas dan ketinggian, yang paling krusial adalah proses pasca panennya. Jika salah proses, kualitasnya bisa turun drastis," tegasnya.


Transformasi ini juga membawa pembaruan teknik. Neli Pujiawan, petani milenial yang telah terjun sejak 2017, memaparkan efektivitas sistem tanam pagar.


"Dengan sistem pagar, satu hektar bisa menampung lebih dari 4.000 pohon. Jika satu pohon menghasilkan setengah kilogram, potensinya bisa mencapai 2 ton per hektar. Dengan harga pasar sekarang, pendapatan bisa menyentuh angka Rp500 juta per hektar dengan perawatan yang jauh lebih minim dibanding sayuran," jelas Neli.


Meski potensi pasar sangat menggiurkan, jalan menuju pasar internasional masih terjal. Biaya logistik dan perizinan ekspor yang selangit menjadi penghambat utama bagi petani lokal.


"Kendala kita hanya ke luar negeri. Biaya pengiriman dan izin bisa mencapai Rp160 ribu per kilo. Sangat tidak mungkin kita ekspor kalau biayanya setara bahkan melebihi harga beli. Kami berharap pemerintah mempermudah izin dan menekan biaya pengiriman agar kopi Sembalun bisa mendunia," harap Neli.

Bertani: Kopi Arabika varitas Ateng Super baru ditanam ala pagar, (Foto: Istimewa/MP).

Selain akses pasar, Rusmala juga mengkritik fokus penyuluhan yang selama ini dianggap timpang. Ia meminta Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) untuk lebih intensif mengedukasi sektor perkebunan di empat desa terutama Sembalun Bumbung, Sembalun Lawang, Sembalun Timba Gading, dan Desa Sembalun.


"PPL yang ada di Sembalun, jangan hanya fokus pada petani hortikultura saja, liriklah petani kopi juga," cetusnya.


Bagi Rusmala, optimalisasi lahan perkebunan adalah kunci. Ia menyayangkan luasnya lahan perkebunan yang hanya dimanfaatkan setahun sekali saat musim hujan.


"Potensi kopi ini sangat menjanjikan dalam waktu lima hingga dua puluh tahun ke depan. Selain peluang bisnis, kita ingin mengembalikan kejayaan sejarah kopi Arabika Sembalun puluhan tahun silam," pungkasnya.


Langkah visioner dari sayur menuju kopi ini memberikan ruang bagi petani untuk memiliki waktu luang dan pendapatan jangka panjang yang lebih terukur.


Kini, dengan semangat kolaborasi, para pemuda Sembalun tengah menyiapkan pembibitan besar-besaran untuk musim tanam 2027, membawa mimpi besar untuk mengembalikan masa keemasan pertanian Sembalun ke panggung dunia.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Membangkitkan Kejayaan Emas HiKopi Arabika Gaya Hidup dan Harapan Baru Petani Milenial Di Lereng Gunung Rinjani

Trending Now