![]() |
| Luput: Lahan pertanian warga Sembalun tergenang matrial luapan sungai Dongol, (Foto: Rosyidin/MP). |
Fenomena ini bukan sekadar faktor cuaca. Tumpukan material kayu, lumpur pekat, hingga sampah yang terbawa arus menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ekosistem hulu sedang tidak baik-baik saja. Daya tampung sungai yang kian menyempit memaksa air mencari jalannya sendiri menuju sawah-sawah warga.
Kondisi ini disinyalir diperparah oleh masifnya aktivitas pengerukan di kawasan perbukitan dengan kemiringan curam. Tanpa vegetasi penahan, tanah dan material lepas dengan mudah hanyut ke hilir saat intensitas hujan meningkat.
"Fakta di lapangan hari ini seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Kerusakan lingkungan tidak lagi sekadar wacana di atas kertas, tapi sudah menghantam langsung sumber penghidupan warga," ujar seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya saat ditemui di Sembalun, Minggu (8/2).
Ia menambahkan bahwa jika endapan material ini terus dibiarkan tanpa adanya normalisasi dan penghentian aktivitas pengerukan yang serampangan, bencana yang lebih besar hanya tinggal menunggu waktu.
Dampak dari kerusakan lingkungan ini diprediksi tidak hanya berhenti pada lahan pertanian. Jika pengawasan terhadap aktivitas pengerukan tetap lemah, risiko longsoran tanah yang menutup akses jalan utama di Dusun Bebante menjadi ancaman serius bagi mobilitas warga.
Seorang petani terdampak, Ahmad (bukan nama sebenarnya), mengungkapkan kekhawatirannya saat meninjau sawahnya yang tertutup lumpur.
"Kami hanya ingin bertani dengan tenang. Tapi kalau di atas (bukit) dikeruk terus tanpa aturan, air dan tanahnya lari ke sawah kami. Jangan sampai kami menunggu akses jalan tertutup longsor baru semua pihak bergerak," tegas Ahmad dengan nada getir.
Diperlukan sinergi antara kesadaran kolektif warga dan ketegasan dari otoritas terkait. Pembangunan dan pemanfaatan lahan harus dibarengi dengan kajian lingkungan yang matang agar tidak mengorbankan keselamatan publik.
Mencegah kerusakan sejak dini melalui pengawasan ketat dan pemulihan daerah aliran sungai jauh lebih bijak dibandingkan melakukan rehabilitasi setelah bencana besar terjadi. Alam sudah memberikan peringatan, kini giliran manusia yang menentukan jawabannya.

