![]() |
| Perbankan: Kantor BRI cabang Selong, (Foto: Rosyidin/MP). |
Sejumlah warga mengaku merasa terintimidasi setelah petugas bank mendatangi kediaman mereka secara door to door. Berdasarkan penuturan warga, petugas mengetuk pintu rumah satu per satu untuk meminta pengembalian dana yang masuk secara berlebih akibat kelalaian sistem internal bank tersebut.
Andi Budiman, salah satu tokoh warga Pringgasela, menyayangkan sikap pihak perbankan yang seolah melimpahkan sepenuhnya beban kesalahan teknis kepada masyarakat. Menurutnya, tindakan petugas lapangan yang memaksa pengembalian dalam bentuk tunai menambah keraguan warga akan transparansi prosedur tersebut.
“Cara seperti ini tidak pantas. Datang mengetuk pintu rumah warga satu per satu. Bahkan ada oknum penagih yang tidak mau menerima pengembalian lewat transfer, tapi memaksa warga mengembalikan secara tunai,” tegas Andi, seperti dikutip dari satu media online, Geledeknews, pada Sabtu (14/2).
Andi menambahkan bahwa keterlambatan pihak bank dalam mendeteksi kesalahan transfer menjadi beban berat bagi masyarakat kecil. Dana yang masuk sudah terlanjur dialokasikan untuk memutar roda usaha dan kebutuhan mendesak lainnya.
“Kalau dari awal cepat ditarik, mungkin masih ada. Sekarang uangnya sudah terpakai untuk kebutuhan usaha dan rumah tangga. Dipaksa mengganti tunai jelas sangat memberatkan,” lanjutnya.
Selain metode penagihan langsung, warga juga mengeluhkan adanya penarikan dana secara otomatis dari rekening mereka tanpa pemberitahuan (notifikasi) terlebih dahulu. Ironisnya, nominal yang ditarik oleh sistem perbankan disebut-sebut melampaui jumlah dana bantuan yang seharusnya dikembalikan.
Seorang warga Pringgasela Selatan yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan kebingungannya saat mendapati saldo di rekeningnya berkurang drastis melebihi dana bantuan Rp2 juta yang ia terima.
“Harusnya ditarik satu juta (selisih ganda). Tapi saya cek, saldo saya hilang empat juta. Saya sempat mau protes ke bank, tapi antreannya sangat panjang,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Laporan serupa bermunculan dari penerima bantuan lain yang mengaku saldo mereka dikuras hingga hanya menyisakan angka minimal sekitar Rp100 ribu di rekening. Warga menilai tindakan debet otomatis tanpa penjelasan resmi ini merupakan pelanggaran terhadap hak nasabah.
Hingga laporan ini disusun, manajemen Bank BRI Cabang Selong belum memberikan keterangan resmi terkait polemik penagihan door to door maupun dugaan penarikan dana sepihak yang melebihi nominal bantuan tersebut.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas di Lombok Timur, mengingat bantuan UMKM seharusnya menjadi stimulus ekonomi bagi masyarakat kecil, namun justru berujung pada keresahan akibat lemahnya mitigasi kesalahan dari pihak penyalur bantuan.

