Sunrise Land Lombok Resmi Berganti Nama Jadi 'Sunrise Point Lombok'

Rosyidin S
Kamis, Februari 05, 2026 | 22.10 WIB Last Updated 2026-02-05T14:20:36Z
Berwisata: Kadispar Lombok Timur, Widayat saat ditemui usai konsilidasi bersama Pokdarwis Lotim, (Foto: Rosyidin/MP).


MANDALIKAPOST.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Pariwisata resmi mengumumkan perubahan nama salah satu destinasi unggulan, Sunrise Land Lombok (SLL), Labuhan Haji menjadi Sunrise Point Lombok (SPL).


Langkah branding ulang ini diharapkan mampu memperluas daya tarik destinasi hingga ke kancah nasional dan internasional.


Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Widayat, dalam agenda konsolidasi bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-Lombok Timur yang berlangsung di Selong, Kamis (5/2).


Widayat menjelaskan bahwa perubahan nama ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan strategi untuk meningkatkan nilai jual investasi. Saat ini, pengelolaan destinasi tersebut dipercayakan kepada pihak swasta dengan sistem kontrak yang transparan.


"Mudah-mudahan ini berdampak luas dan nyata bagi masyarakat. Kita tidak bisa intervensi penuh karena mereka (swasta) yang melakukan branding dan memiliki usaha tersebut. Pemda hanya memberikan pengelolaan kepada swasta, dan nilai investasi kita di sana sudah dibayar di depan," ujar Widayat.


Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tetap melakukan pengawasan ketat terhadap pengelola.


"Kita evaluasi setiap 3 bulan, 6 bulan, hingga 9 bulan. Kita lihat apakah pengelolanya bagus dan kompetitif untuk tahun-tahun berikutnya," imbuhnya.


Selain perubahan nama SPL, Widayat menyoroti pengembangan destinasi lain seperti Tete Batu. Meski sudah mendunia, Tete Batu masih menghadapi kendala infrastruktur, terutama akses jalan yang sempit. Dispar Lotim berencana mengusulkan pembangunan trotoar guna menjamin keamanan wisatawan dan menekan angka kecelakaan.


Menariknya, Tete Batu kini juga dipromosikan oleh mitra pariwisata di Bali dengan identitas baru bertajuk "Exotic Lombok".


Widayat memimpikan Tete Batu menjadi Kampung Bule yang berkualitas, di mana wisatawan tinggal lebih lama (staying period), bukan sekadar singgah.


Menyadari keterbatasan anggaran daerah, Widayat mengajak anggota dewan dan pemangku kepentingan lainnya untuk berkolaborasi dalam meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di desa wisata.


Menurutnya, kenyamanan wisatawan tidak hanya soal kebersihan, tetapi juga rasa aman dan kesiapan menghadapi potensi bencana.

"Dispar tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus memastikan wisatawan tenang dan nyaman. SDM perlu kita tingkatkan, termasuk kolaborasi terkait Desa Siaga Bencana. Bagaimana kita memastikan desa itu aman, terutama di daerah yang rentan," pungkasnya.

Dengan adanya langkah-langkah strategis ini, pariwisata Lombok Timur diharapkan tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri, tetapi mampu bersaing secara global dengan identitas lokal yang kuat.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sunrise Land Lombok Resmi Berganti Nama Jadi 'Sunrise Point Lombok'

Trending Now