![]() |
| Sambut: Antusias warga Desa Ketangga mendengarkan petuah dari pemuka agama dalam acara roah saling Tulung, (Foto: Istimewa/MP). |
Alih-alih terjebak dalam budaya konsumsi yang tinggi, masyarakat setempat sepakat kembali ke akar budaya "Saling Tulung" untuk menekan biaya hidup melalui tradisi Roah yang lebih efisien.
Tradisi Roah atau selamatan menyambut Ramadhan yang biasanya digelar secara mandiri di rumah masing-masing dengan biaya besar, kini dialihkan ke Masjid Pusaka desa setempat. Setiap keluarga cukup membawa satu dulang (nampan berisi makanan) untuk dinikmati bersama setelah zikir.
Langkah ini terbukti ampuh memangkas pengeluaran rumah tangga secara signifikan. Jika biasanya satu keluarga bisa menghabiskan dana Rp 1 juta atau lebih untuk menggelar selamatan di rumah, kini mereka hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 200 ribu untuk satu dulang yang dibawa ke masjid.
"Kami tidak ingin keberkahan Ramadhan terbebani oleh utang atau biaya hidup yang melonjak. Dengan membawa satu dulang, biaya bisa ditekan hingga 20 persen (dari biaya normal)," ujar Ibu Muhium, salah satu tokoh perempuan Desa Ketangga, Jumat (13/2) kemarin.
Menurutnya, penghematan ini memberikan ruang napas bagi keuangan keluarga, terutama untuk menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran yang biasanya meroket saat memasuki bulan puasa.
"Kita malah irit ini, jadinya (sisa uang) bisa kita pakai untuk biaya di awal puasa nanti," tambahnya.
Gerakan kesederhanaan ini juga didorong oleh pesan-pesan moral dari tokoh agama setempat. Ustadz Adi, tokoh agama di Desa Ketangga, secara aktif mengimbau jamaah agar tidak terjebak pada persiapan fisik yang berlebihan seperti renovasi rumah atau pembelian pakaian baru yang konsumtif.
"Ramadhan tahun ini kita maknai dengan kesederhanaan. Dengan meminimalisir pengeluaran yang tidak perlu, warga bisa lebih tenang beribadah dan memiliki tabungan lebih untuk kebutuhan puasa serta Idul Fitri nantinya," tutur Ustadz Adi.
Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan mampu menjadi solusi di tengah krisis harga pangan global. Pemandangan warga yang berbondong-bondong membawa dulang ke Masjid Pusaka menjadi simbol bahwa kemeriahan menyambut bulan suci tidak harus diukur dengan kemewahan materi.
"Semangat gotong royong yang dilakukan masyarakat membuktikan bahwa Ramadhan yang berkah tidak harus mahal," pungkasnya.

