![]() |
| Bukber: Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin saat berikan pengarahan kepada awak media Lombok Timur di acara buka bersama, (Foto: Rosyidin/MP). |
Di hadapan para kuli tinta, Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, memberikan pesan tegas mengenai independensi pers dalam mengawal pembangunan daerah.
Bupati yang akrab disapa H. Iron ini menekankan bahwa hubungan personal yang dekat antara pejabat dan jurnalis tidak boleh menjadi alasan untuk menumpulkan nalar kritis media. Baginya, profesionalisme jurnalis jauh lebih berharga daripada pembelaan yang tidak berdasar pada fakta.
"Sebaik apa pun hubungan Anda dengan saya, ketika saya keliru, kritiklah! Jangan karena merasa keluarga atau teman dekat, lalu yang jelek dibela menjadi baik. Itu tidak adil," tegas H. Iron dengan nada serius namun santai.
Ia menambahkan bahwa peran media sangat strategis dalam membentuk opini publik. Oleh karena itu, kejujuran dalam pemberitaan menjadi kunci agar pemerintah bisa melakukan evaluasi yang tepat sasaran.
"Keadilan nyata adalah berani menyampaikan kenyataan secara lurus. Jika program pemerintah hasilnya buruk, media wajib mengatakannya buruk agar menjadi bahan evaluasi. Begitu pun sebaliknya, jika prestasi diraih, harus diapresiasi sesuai fakta," imbuhnya.
Sebagai contoh konkret pentingnya fungsi kontrol media, H. Iron menyoroti persoalan infrastruktur di wilayah Lendang Nangka Utara. Ia menceritakan pengalamannya saat meninjau langsung proyek jembatan putus yang hingga kini pengerjaannya masih mangkrak, meski telah menelan anggaran ratusan juta rupiah.
"Seperti di Lendang Nangka Utara, ada proyek jembatan putus yang 'mati suri'. Katanya dikerjakan provinsi, tapi sampai sekarang belum jadi. Hal-hal seperti ini yang harus dikritisi. Masyarakat perlu tahu siapa yang bertanggung jawab agar semuanya terang benderang," jelas Bupati.
Meski mendorong pers untuk terus mengkritik, H. Iron memberikan apresiasi tinggi kepada para jurnalis di Lombok Timur. Menurut pengamatannya selama setahun terakhir, dinamika pemberitaan di daerah tersebut dinilai sangat sehat karena berpijak pada fakta lapangan, bukan sentimen pribadi atau kebencian.
"Selama setahun saya bekerja, saya melihat teman-teman wartawan bergerak berdasarkan kenyataan. Inilah yang membantu pemerintah meluruskan informasi di tengah masyarakat," pungkasnya.
Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan tersebut ditutup dengan pembacaan pantun oleh Bupati sebagai simbol sinergi yang kuat antara pemerintah dan media untuk kemajuan Bumi Patuh Karya.

