Di Tengah Ketegangan Global, Rinjani Tetap Jadi Destinasi Pilihan Wisatawan Mancanegara.

Rosyidin S
Rabu, April 01, 2026 | 18.36 WIB Last Updated 2026-04-01T10:36:59Z
Gunung Rinjani: Astekita, Kepala Sub Bagian Tata Usaha TNGR, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Meski situasi geopolitik di Timur Tengah tengah memanas akibat konflik antara Iran dan Zionis Israel, pesona Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB) seolah tak memudar.


Pada hari pertama pembukaan jalur pendakian, Rabu (1/4/2026), ratusan pendaki mancanegara dan nusantara tetap antusias memadati gerbang masuk Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Terutama di salah satu pintu jalur pendakian Pos Resort Sembalun.


Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasub BGTU) TNGR, Astekita, mengungkapkan bahwa konflik di Timur Tengah memberikan dampak kecil, namun tidak signifikan terhadap minat wisatawan mancanegara (wisman). Beberapa pendaki asal Eropa, terutama yang menggunakan jalur penerbangan transit di wilayah terdampak, terpaksa melakukan penjadwalan ulang (reschedule).


"Ada kemungkinan sedikit berpengaruh. Dari data yang kami peroleh, wisatawan dari Eropa mungkin ada yang melakukan reschedule jadwal mereka ataupun pembatalan karena kendala penerbangan. Namun, minat mereka tetap tinggi dan hanya menunggu waktu yang tepat," ujar Astekita saat ditemui di Resort Sembalun.


Meski demikian, data TNGR mencatat kehadiran wisman asal Belanda dan Jerman masih cukup mendominasi di hari pertama ini. Tercatat sekitar 30 pendaki asal Belanda dan 20 pendaki asal Jerman yang melakukan pendakian melalui jalur Sembalun.


"Belum lagi wisman asal Singapura, Malaysia dan negara-negara Asia lainnya," tuturnya.


Pada pembukaan serentak di enam pintu masuk ini, jalur Sembalun masih menjadi primadona dengan angka kunjungan mencapai 370 calon pendaki. Sementara itu, jalur Timbanuh mulai diminati wisatawan nusantara dengan jumlah sekitar 50 orang.


“Hari ini serentak di enam jalur dibuka. Sembalun paling ramai, hampir 370-an pendaki. Biasanya mereka naik lewat Sembalun dan nanti turun melalui jalur Torean,” tambah Astekita.


Pihak TNGR juga menekankan pengawasan ketat terhadap barang bawaan pendaki melalui aplikasi e-Rinjani. Sampah plastik sekali pakai yang tidak sesuai SOP akan disita di Pos 2 guna menjaga kelestarian alam.


Selain itu, pihak pengelola kini menyediakan opsi Asuransi Premium yang mencakup evakuasi menggunakan helikopter jika terjadi insiden darurat di atas gunung.

Pengunjung: Napak sejumlah wisatawan domestik siap-siap mendaki Gunung Rinjani lewat jalur pintu Sembalun atau bukit tiga, (Foto: Rosyidin/MP).

Antusiasme luar biasa juga datang dari pendaki domestik. Fajar Ahmad Arianto, pendaki asal Jember, Jawa Timur, mengaku telah mempersiapkan fisik selama satu bulan demi menaklukkan puncak tertinggi kedua di Indonesia ini. Ia bahkan mengaku terinspirasi oleh sosok pengamat publik, Rocky Gerung.


"Saya terinspirasi dari Rocky Gerung. Dan lagi, kata orang-orang: jangan nikah dulu sebelum ke Rinjani atau menaklukkan puncaknya," kata Fajar dengan nada sumringah saat mengurus proses check-in.


Fajar, yang mendaki bersama empat rekannya, berpesan agar seluruh pendaki menjaga kebersihan gunung.


"Gunung Rinjani bukan milik orang Lombok saja, tapi milik kita semua. Mari patuhi SOP, terutama masalah sampah agar Rinjani tetap lestari dan nyaman dikunjungi," ujarnya.


Senada dengan Fajar, Ramdani, pendaki asal Sulawesi Tengah, menekankan pentingnya kesiapan logistik dan fisik.


"Kurang lebih sebulan sebelum mendaki kami siapkan diri, baik itu logistik maupun fisik. Lari-lari kecil saja agar kondisi tetap fit," pungkasnya.


Dengan dimulainya musim pendakian ini, TNGR berharap aktivitas pariwisata alam di Lombok terus bangkit meski dibayangi ketidakpastian kondisi global, sekaligus mengingatkan pendaki untuk selalu menjaga keselamatan dan kelestarian ekosistem taman nasional.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Di Tengah Ketegangan Global, Rinjani Tetap Jadi Destinasi Pilihan Wisatawan Mancanegara.

Trending Now