Mentan Amran: Pangan Adalah Alat Pertahanan, Indonesia Kini Tak Lagi Didikte Impor

Rosyidin S
Rabu, April 01, 2026 | 23.46 WIB Last Updated 2026-04-01T15:46:07Z
Pangan: Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat berikan arahan di acra saat memberikan Stadium General di hadapan Pasis SeskoAU Angkatan ke-64 di Jawa Barat, (Foto: Istimewa/MP).

LEMBANG, MANDALIKAPOST.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kedaulatan pangan merupakan instrumen vital dalam sistem pertahanan negara.


Di tengah ketidakpastian global, Indonesia diklaim telah bertransformasi dari negara yang bergantung pada bantuan luar negeri menjadi kekuatan pangan yang mandiri dan disegani.


Pernyataan tegas tersebut disampaikan Mentan Amran saat memberikan Stadium General di hadapan Pasis SeskoAU Angkatan ke-64 di Gedung Widya Mandala I, Lembang, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026).


Ia menekankan bahwa pangan bukan lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan fondasi kedaulatan yang menentukan posisi tawar sebuah bangsa di kancah internasional.


"Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan, produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat," tegas Amran di hadapan para perwira menengah TNI AU.


Strategi pemerintah dalam memacu produksi dalam negeri mulai membuahkan hasil nyata. Data dari United States Department of Agriculture (USDA) mengonfirmasi tren positif peningkatan produksi pangan Indonesia. Secara internal, Kementerian Pertanian mencatat stok beras nasional saat ini berada di angka 4,3 juta ton dan diproyeksikan segera menyentuh 4,5 juta ton.


Keberhasilan ini, menurut Amran, bukan hanya soal statistik, melainkan tentang memangkas titik lemah negara yang selama ini berada pada ketergantungan impor. Ia menyebut bahwa negara pengimpor akan selalu berada dalam posisi rentan ketika negara produsen memutuskan untuk menahan ekspor.


"Ini bukan hanya ekonomi, ini soal kedaulatan. Pangan adalah bagian dari sistem pertahanan negara. Ketahanan pangan adalah benteng utama. Kalau ini kuat, Indonesia tidak hanya aman, tapi juga berdaulat penuh," ujarnya.


Menariknya, kebijakan pengendalian impor Indonesia kini mulai memberikan efek domino terhadap dinamika harga pangan dunia. Negara-negara maju seperti Jepang, Australia, hingga Kanada dilaporkan mulai melirik dan mempelajari model strategi yang diterapkan Indonesia dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah krisis.


Selain fokus pada lumbung pangan, Mentan Amran juga menyoroti peran strategis sektor perkebunan, khususnya sawit, dalam mendukung kemandirian energi. Sebagai produsen CPO terbesar dunia dengan pangsa pasar lebih dari 60%, Indonesia memiliki modal besar untuk mengendalikan rantai nilai industri global melalui hilirisasi.


Amran meyakini, jika ketahanan pangan dikombinasikan dengan kemandirian energi dan hilirisasi mineral seperti nikel, maka posisi Indonesia sebagai kekuatan global baru tidak akan terbendung.


"Kalau pangan dan energi kita kuat, tidak ada negara yang bisa menekan kita. Yang membedakan kita adalah keberanian mengambil keputusan dan kecepatan bertindak," imbuh Amran.


Di sisi lain, penguatan sektor pertanian terbukti menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan memperkuat peran koperasi dan memangkas rantai distribusi yang panjang, petani kini mendapatkan keuntungan lebih layak sementara harga di tingkat konsumen tetap stabil.


Amran optimistis bahwa konsistensi dalam kebijakan ini akan membawa Indonesia memimpin di tingkat global. "Kalau desa bergerak, ekonomi tumbuh, negara akan kokoh," pungkasnya.


Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bahwa arah kebijakan pangan Indonesia saat ini telah menempatkan kedaulatan bangsa sebagai prioritas tertinggi di atas sekadar pemenuhan kebutuhan pasar.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mentan Amran: Pangan Adalah Alat Pertahanan, Indonesia Kini Tak Lagi Didikte Impor

Trending Now