Lawan El Nino, Kementan Sulap Lahan Kering Enrekang Jadi Lumbung Bawang Merah Rp40 Triliun

Rosyidin S
Minggu, April 26, 2026 | 17.18 WIB Last Updated 2026-04-26T09:18:12Z
Bawang Merah: Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, melihat langsung tanaman bawang merah, (Foto: Istimewa/MP).

ENREKANG, MANDALIKAPOST.com – Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat mengantisipasi dampak anomali iklim El Nino dengan meluncurkan program transformasi hortikultura skala besar di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. 


Melalui proyek Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP), pemerintah berupaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendongkrak ekonomi daerah melalui optimalisasi lahan kering.


Langkah strategis ini difokuskan pada penguatan produksi, teknologi irigasi, dan pemberdayaan kelembagaan petani di 10 kecamatan. Enrekang dipilih sebagai lokasi krusial mengingat posisinya sebagai sentra hortikultura dengan nilai perputaran ekonomi bawang merah yang fantastis, mencapai Rp40 triliun per tahun.


Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menegaskan bahwa HDDAP bukan sekadar bantuan teknis, melainkan upaya transformasi petani agar mampu naik kelas ke arah agribisnis modern.


“Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh, dan petani merupakan kekuatan utama. Seluruh pihak harus memiliki semangat yang sama untuk mentransformasi pertanian menuju sistem agribisnis modern,” ujar Freddy dalam rapat koordinasi di Enrekang, Selasa (21/4/2026).


Freddy menambahkan bahwa program ini mencakup 13 klaster bawang merah dan 4 klaster kentang. Selain fokus pada produktivitas, penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) akan menjadi pusat pengelolaan dari hulu ke hilir, mulai dari teknik budi daya hingga akses pasar ekspor, terutama ke wilayah Timur Tengah.


Menghadapi ancaman kekeringan, Kementan telah menyiapkan sejumlah intervensi teknologi, termasuk pengembangan irigasi berbasis pompa dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Saat ini, validasi calon petani dan calon lokasi (CPCL) untuk kentang telah mencapai 100 persen, sementara bawang merah berada di angka 95 persen.


Pemerintah Daerah Enrekang pun memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Sekretaris Daerah Kabupaten Enrekang, Zulkarnain Kara, menyebut teknologi pertanian adalah kunci bertahan di tengah perubahan iklim ekstrem.


“Kita akan menghadapi El Nino yang berpotensi menyebabkan kekeringan. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif melalui pemanfaatan teknologi pertanian. Kami menyambut baik program HDDAP sebagai solusi konkret,” tegas Zulkarnain.


Antusiasme serupa datang dari para petani di lapangan. Kadirbali, anggota Kelompok Tani Santabi, mengaku optimis bahwa infrastruktur air yang disiapkan akan menjadi "napas baru" bagi lahan kering mereka.


“Kami sangat terbantu. Dukungan seperti pompanisasi, benih, serta sarana produksi lainnya sangat penting untuk meningkatkan produktivitas lahan kering,” ungkapnya.


Di tingkat nasional, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus memberikan instruksi agar seluruh jajaran bekerja tanpa jeda. Ia menekankan bahwa kecepatan adalah kunci dalam menghadapi tantangan alam.


”Sesuai dengan peringatan dari BMKG bahwasanya ada El Nino, ini perlu langkah-langkah strategis dan percepatan. Dengan kerja cepat dan kolaborasi yang kuat, sektor pertanian Indonesia akan tetap tangguh demi menjaga ketahanan pangan nasional,” tutur Mentan Amran.


Dengan semangat Gas Poll dari tim lapangan dan dukungan infrastruktur yang masif, Kementan optimistis Enrekang tidak hanya mampu bertahan dari El Nino, tetapi juga menjadi motor penggerak ekspor hortikultura Indonesia di masa depan.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Lawan El Nino, Kementan Sulap Lahan Kering Enrekang Jadi Lumbung Bawang Merah Rp40 Triliun

Trending Now