Akselerasi Proyek HDDAP 2026: Strategi Kementan Sulap Lahan Kering Jadi Lumbung Hortikultura Nasional

Rosyidin S
Jumat, Mei 08, 2026 | 13.53 WIB Last Updated 2026-05-08T05:53:13Z
Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Hotman Fajar Simanjuntak, (Foto: Istimewa/MP).

JAKARTA, MANDALIKAPOST.com – Kementerian Pertanian (Kementan) resmi memacu akselerasi pelaksanaan Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) Tahun Anggaran 2026.


Langkah strategis ini diambil untuk mentransformasi lahan kering menjadi kawasan hortikultura produktif yang berdaya saing tinggi melalui integrasi hulu hingga hilir.


Program HDDAP tahun ini memfokuskan kekuatan pada tiga pilar utama: pembangunan infrastruktur fisik, penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), dan kemudahan akses pembiayaan bagi para petani.


Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) memimpin komando di sektor infrastruktur dengan target ambisius. Sebanyak 240 unit sistem irigasi hortikultura akan dibangun untuk mengairi sekitar 1.200 hektare lahan. Pembangunan ini mencakup berbagai teknologi mulai dari sistem perpompaan, perpipaan, embung, dam parit, hingga long storage.


Uniknya, proyek ini menggunakan pendekatan Community Participation Procurement (CPP). Pola ini memastikan kelompok tani tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat aktif sebagai aktor utama dalam proses pembangunan infrastruktur di wilayah mereka sendiri.


Di sisi pengembangan SDM, Direktorat Pembiayaan Pertanian (Ditjen PSP) meluncurkan program Financial Literacy Education (FLE). Dengan alokasi dana sebesar Rp2,47 miliar, program ini membidik 1.962 petani melalui 165 paket pelatihan intensif.


Tujuannya jelas, yakni meningkatkan kecakapan petani dalam mengelola keuangan dan membuka pintu akses ke lembaga keuangan formal. Melalui fasilitator yang telah melewati tahap Training of Trainers, petani diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih kuat dengan penyedia modal perbankan.


Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Hotman Fajar Simanjuntak, menyatakan bahwa HDDAP adalah mesin utama dalam percepatan realisasi anggaran di sektor hortikultura. Ia menekankan pentingnya kerja sama tim yang solid untuk memastikan target tercapai.


"Kita perlu langkah strategis bersama, memperkuat sinergi antara Ditjen Hortikultura, PSP, dan LIP, serta memastikan monitoring dan evaluasi berjalan optimal," tegas Hotman dalam keterangan resminya diterima, Jumat (8/5).


Senada dengan hal tersebut, Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura, Freddy Lumban Gaol, menggarisbawahi pentingnya dukungan eksternal dan percepatan di lapangan. Kementan aktif menjalin kerja sama dengan mitra internasional seperti Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD).


“Kita melakukan akselerasi kerja sama dengan mitra pembangunan seperti ADB dan IFAD, serta mengupayakan dukungan pembiayaan untuk kebutuhan sarana produksi seperti benih dan pupuk,” ungkap Freddy.


Freddy optimistis bahwa penggabungan antara infrastruktur yang mumpuni dan petani yang melek finansial akan menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh.


“Pemerintah optimistis, melalui langkah percepatan dan koordinasi lintas sektor, program ini dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani di wilayah lahan kering,” pungkasnya.


Dengan integrasi kebijakan yang kuat, proyek HDDAP 2026 diharapkan tidak hanya meningkatkan angka produksi nasional, tetapi juga menjadi fondasi keberlanjutan ekonomi bagi petani kecil di seluruh kawasan lahan kering Indonesia.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Akselerasi Proyek HDDAP 2026: Strategi Kementan Sulap Lahan Kering Jadi Lumbung Hortikultura Nasional

Trending Now