![]() |
| Kungker: Menteri Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., resmikan program revitalisasi satuan pendidikan se-Kabupaten Lombok Timur, (Foto: Rosyidin/MP). |
Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Lalu Muhammad Iqbal, Sekretaris Daerah Lombok Timur, Kepala Dinas Dikbud Lombok Timur, serta jajaran pimpinan wilayah dan daerah Muhammadiyah NTB.
Dalam sambutannya, Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa proyek revitalisasi dan digitalisasi ini merupakan amanat langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto dalam Asta Cita keempat, yaitu membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berdaya saing tinggi, dan bermartabat.
Pemerintah pusat menggelontorkan anggaran yang sangat signifikan untuk mendongkrak infrastruktur pendidikan di NTB. Untuk tahun anggaran 2025, total bantuan revitalisasi fisik di Provinsi NTB mencapai Rp527.575.712.428 yang menyasar 531 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga PKBM.
"Untuk Kabupaten Lombok Timur sendiri, alokasi revitalisasi tahun 2025 diarahkan bagi 87 sekolah dengan total nilai bantuan Rp105.948.658.922. Sedangkan untuk Kabupaten Sumbawa, total anggaran mencapai Rp38.157.840.806 untuk 37 sekolah," papar Prof. Abdul Mu’ti di hadapan para undangan.
Tidak hanya sektor fisik, intervensi digital juga masif dilakukan. Kementerian telah mendistribusikan 7.080 unit Interactive Flat Panel (IFP) ke 780 sekolah di NTB dengan total serapan anggaran Rp236.168.610.195. Khusus Lombok Timur, pendistribusian menyasar sekolah-sekolah dengan total 1.739 unit IFP senilai Rp47.179.440.000.
Prof. Abdul Mu’ti menggarisbawahi bahwa modernisasi fasilitas bukanlah muara akhir dari kebijakan pendidikan, melainkan instrumen penunjang mutu pelayanan.
"Revitalisasi dan digitalisasi itu bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan bagian dari usaha bersama untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Melalui layanan yang bermutu, kita harapkan dapat ditingkatkan mutu pendidikan dalam rangka membangun SDM Indonesia yang cerdas, terampil, mandiri, berakhlak mulia, dan memiliki komitmen terhadap kemajuan bangsa," ujar Guru Besar Pendidikan Islam tersebut.
Secara akademis dan metodologis, Kemendikdasmen membagi strategi peningkatan mutu ini ke dalam tiga pilar utama. Yakni physical infrastructure (sarana-prasarana), cultural infrastructure (budaya dan karakter), serta peningkatan kapasitas tenaga pendidik.
Di sektor tenaga pendidik, pemerintah berkomitmen menyelesaikan kualifikasi akademik guru ke jenjang D4/S1. Pada tahun 2025, dialokasikan beasiswa untuk 12.500 guru, dan melonjak drastis pada tahun 2026 dengan kuota 150.000 guru di semua jenjang melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) senilai Rp3 juta per semester.
"Teknologi itu penting, sarana dan prasarana penting, tetapi guru tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Oleh karena itu, fokus kami adalah memberikan perhatian pada guru, baik dari sisi pemenuhan kualifikasi, kompetensi, maupun kesejahteraan. Jika kualifikasi S1 terpenuhi, mereka dapat mengikuti PPG dan memperoleh tunjangan sertifikasi," imbuh Menteri.
Selain itu, penguatan cultural infrastructure diwujudkan melalui program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, kebijakan Pagi Ceria, dan penerapan deep learning (pembelajaran mendalam).
Pemerintah juga menyiapkan mata pelajaran Artificial Intelligence (AI) dan coding sebagai mata pelajaran pilihan yang nantinya diproyeksikan menjadi mata pelajaran wajib, serta mempersiapkan bahasa Inggris sebagai mapel wajib mulai kelas 3 SD pada tahun 2027.
Menteri menyimpulkan keberhasilan transformasi ini membutuhkan formula 3M dari seluruh ekosistem pendidikan, yakni Mindset untuk maju, Mental yang kuat dalam menghadapi proses, dan Misi yang tulus melalui partisipasi semesta.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Sikur, Hasbi Ahmad, dalam laporannya menyampaikan rasa bangga atas capaian prestasi sekolahnya yang sukses meraih predikat tingkat nasional di bidang Program Guru Terbaik NTB, Wirausaha Terbaik NTB, serta pembelajaran berbasis Teaching Factory (TeFA) terbaik di NTB.
Kendati demikian, Hasbi secara objektif memaparkan realitas struktural terkait rasio daya tampung kelas di sekolah yang dipimpinnya. Saat ini, SMKN 1 Sikur memiliki 51 rombongan belajar (rombel) dengan total 1.610 siswa. Namun, ketersediaan ruang kelas baru terakomodasi 29 ruangan, yang berarti ada 22 rombel harus berbagi waktu belajar.
"Dari total 11 kompetensi keahlian yang kami miliki, kami baru memiliki 3 Ruang Praktik Siswa (RPS), artinya masih minus 8 RPS. Kami sangat bersyukur atas program bantuan yang diberikan bapak Presiden Prabowo Subianto karena program revitalisasi ini sangat berdampak nyata. Kehadiran Bapak Menteri hari ini merupakan berkah yang luar biasa bagi kami untuk terus berbenah ke depan," tutur Hasbi Ahmad.
Acara peresmian tersebut diakhiri dengan prosesi penandatanganan prasasti revitalisasi sekolah untuk wilayah Lombok Timur dan Sumbawa oleh Mendikdasmen, didampingi oleh Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal dan Sekda Lombok Timur.

