![]() |
| Beras: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat hadiri acara Forum Pimpinan TNI di Bogor, (Foto: Istimewa/MP). |
Sinergi antara kementerian dan prajurit di lapangan dinilai menjadi faktor kunci keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan dengan angka produksi yang memecahkan rekor sejarah.
Dalam forum pimpinan TNI yang digelar di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Rabu (29/4/2026), Mentan Amran mengungkapkan bahwa keterlibatan TNI bukan sekadar dukungan simbolis, melainkan motor penggerak efektivitas program di tingkat petani.
“Kami utang budi pada TNI. Suatu capaian tidak mungkin diraih tanpa support luar biasa dari TNI, dari Babinsa sampai Panglima,” tegas Mentan Amran di hadapan Panglima TNI Jenderal Agus Subianto dan jajarannya.
Dalam paparannya, Amran membeberkan sejumlah data strategis yang menunjukkan performa impresif sektor pertanian. Produksi pangan nasional saat ini menyentuh angka 34,69 juta ton. Tak hanya itu, stok beras pemerintah tercatat mencapai **5,12 juta ton**, angka tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia.
“Dulu, pada 1984, stok kita sekitar 2,6 juta ton. Hari ini kita lebih dari dua kali lipat. Ini kerja keras bersama,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa penghentian impor beras dalam jumlah besar oleh Indonesia turut memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga pangan global.
Selain aspek produksi, indikator kesejahteraan petani melalui Nilai Tukar Petani (NTP) juga menunjukkan tren positif. Amran mengeklaim NTP saat ini mencapai level tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Keakuratan data ini, menurutnya, telah diakui oleh lembaga internasional seperti FAO dan USDA.
“Ini bukan data kami. Ini data BPS, FAO, dan Amerika. Artinya, capaian ini objektif dan terukur,” jelas Amran yang juga menekankan bahwa sektor pertanian kini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sela-sela pemaparannya, Mentan Amran sempat membagikan refleksi personal sebagai putra seorang Babinsa. Ia menekankan bahwa karakter disiplin dan loyalitas prajurit yang diwariskan kepadanya menjadi fondasi dalam memimpin transformasi pangan.
“Kami lahir miskin, dibesarkan dalam keterbatasan. Tapi kami bertekad, jangan sampai mati dalam keadaan miskin dan hina. Itu prinsip kami,” tuturnya penuh emosional.
Menutup pernyataannya, Amran mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga kedaulatan pangan dengan mengedepankan objektivitas dan kerja sama lintas sektoral, tanpa terjebak dalam sentimen negatif.
“Kita gunakan data, jangan pakai sentimen. Negara ini milik bersama. Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Mentan Amran.
Sinergi antara Kementan dan TNI diharapkan terus menjadi pilar utama guna memastikan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan krisis pangan dunia di masa depan.

