Dialog Panas 118 BEM dan Mentan Amran: Dari Mafia Pangan hingga Rekor Stok Beras Terbesar Sepanjang Sejarah

Rosyidin S
Jumat, Mei 08, 2026 | 13.02 WIB Last Updated 2026-05-08T05:02:45Z
Pertanian: Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat ditemui awak media, (Foto: Istimewa/MP).

JAKARTA, MANDALIKAPOST.com – Suasana di auditorium Kementerian Pertanian mendadak riuh dengan teriakan "Hidup Mahasiswa!" dan "Merdeka!" pada Rabu (6/5/2026). Sebanyak 118 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari seluruh pelosok Indonesia berkumpul bukan untuk berdemonstrasi di jalanan, melainkan berdialog terbuka dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.


Pertemuan strategis ini menjadi ajang "uji petik" bagi para aktivis kampus terhadap program prioritas pemerintah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, hingga isu sensitif mengenai mafia pangan.


Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, Mentan Amran memaparkan langkah berani pemerintah dalam memangkas dominasi tengkulak atau middleman yang selama ini merugikan petani. Melalui Kopdes Merah Putih, rantai pasok yang tadinya terdiri dari delapan tahap akan dipangkas habis.


"Selama ini komoditas pertanian harus melalui 8 tahap untuk sampai ke konsumen, sementara dengan Kopdes nantinya memutus rantai yang selama ini dinikmati middleman hingga 336 triliun per tahun," tegas Mentan Amran di hadapan ratusan perwakilan BEM.


Tak hanya soal sistem, Amran juga menunjukkan taringnya dalam penegakan hukum. Ia mengungkapkan bahwa kementeriannya tidak berkompromi dengan praktik korupsi. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 76 tersangka dalam berbagai kasus penyalahgunaan sektor pertanian.


"Ada koruptor, kita penjarakan. Bahkan ada pejabat eselon II yang kita pecat dan penjarakan. Ini uang negara, tidak boleh disalahgunakan," ujarnya disambut tepuk tangan mahasiswa.


Menjawab kritik mahasiswa mengenai ketahanan pangan, Mentan Amran menyodorkan data yang diklaim sebagai capaian tertinggi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa stok beras nasional saat ini menembus angka di atas 5 juta ton.


"Stok kita beras tertinggi selama merdeka, 5 juta ton lebih. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dulu hanya sekitar 2,6 juta ton," jelasnya.


Amran juga meluruskan persepsi mengenai swasembada. Merujuk pada standar FAO, Indonesia telah masuk kategori swasembada karena impor pangan hanya kurang dari 5 persen dari total kebutuhan. Bahkan, khusus untuk beras medium, Indonesia mencatat nol impor sepanjang tahun 2025.


Terkait program Makan Bergizi Gratis yang menjadi sorotan publik, Amran menekankan bahwa program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan penggerak roda ekonomi desa.


"MBG ini jangan dilihat berdiri sendiri. Ini menjadi offtaker bagi 160 juta petani Indonesia. Ekonomi desa bergerak, pasar hidup, dan anak-anak kita ke depan lebih cerdas karena gizinya terpenuhi," paparnya.


Indikator kesejahteraan petani pun disebut mengalami kenaikan signifikan. Nilai Tukar Petani (NTP) per Februari 2026 mencapai 125,45, level tertinggi yang pernah dicapai. Hal ini didukung oleh kebijakan unik: penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen di tengah kenaikan harga pupuk global.


Dialog tidak berjalan satu arah. Mahasiswa melaporkan temuan langsung dari lapangan, termasuk dugaan distribusi pupuk yang bermasalah hingga peredaran bawang ilegal. Mendengar hal itu, Mentan langsung menginstruksikan jajarannya untuk memproses laporan tersebut ke jalur hukum.


Di akhir pertemuan, Mentan Amran mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga kolaborator dalam membangun kedaulatan pangan dan energi nasional.


"Negara ini tidak bisa kita bangun sendiri. Harus kolaborasi. Mahasiswa kita libatkan, kita gandeng bersama. Ini negara milik kita bersama dan masa depannya ada di tangan kalian," pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dialog Panas 118 BEM dan Mentan Amran: Dari Mafia Pangan hingga Rekor Stok Beras Terbesar Sepanjang Sejarah

Trending Now