Dua Calon Haji Embarkasi Lombok Gagal Berangkat karena Faktor Kesehatan

Ariyati Astini
Jumat, Mei 08, 2026 | 20.36 WIB Last Updated 2026-05-08T12:36:55Z

 

Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram, Herman Nugraha,



MANDALIKAPOST.com— Dua jemaah calon haji asal Embarkasi Lombok dipastikan gagal berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun ini. Keduanya dinyatakan tidak layak terbang setelah menjalani pemeriksaan kesehatan oleh Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Mataram.

Satu calon haji batal diberangkatkan karena masih positif tuberkulosis (TBC) aktif, sedangkan satu lainnya mengalami patah tulang yang membuat kondisi fisiknya tidak memungkinkan menjalani perjalanan jauh menuju Arab Saudi.

Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram, Herman Nugraha, mengatakan keputusan tersebut diambil demi menjaga keselamatan jemaah sekaligus mencegah risiko penularan penyakit selama pelaksanaan ibadah haji.

“Yang dua sudah batal. Satu karena patah tulang, satu lagi karena TBC positif,” ujar Herman saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Lombok , Jumat (8/5/2026).

Menurut Herman, jemaah dengan TBC aktif tidak diperbolehkan terbang karena berpotensi menularkan penyakit kepada jemaah lain selama penerbangan maupun saat berada di Tanah Suci.

“Kalau dia masih DTA positif memang tidak diperbolehkan berangkat. Risiko penularannya sangat cepat,” katanya.

Data BKK Mataram mencatat, hingga Kloter 13 terdapat 20 jemaah calon haji yang sempat tertunda keberangkatannya akibat kondisi kesehatan. Meski demikian, sebagian besar masih berpeluang diberangkatkan pada kloter berikutnya setelah kondisi mereka membaik.

Herman menjelaskan, dari jumlah tersebut delapan jemaah telah diberangkatkan untuk mengisi kursi kosong atau open seat pada penerbangan sebelumnya. Sementara tujuh jemaah lainnya masih menunggu jadwal keberangkatan berikutnya.

“Yang masih dalam perawatan tinggal satu orang. Sisanya menunggu kloter berikutnya setelah dinyatakan layak terbang,” jelasnya.

Ia menuturkan proses pemeriksaan kesehatan dilakukan secara ketat sejak jemaah tiba di Asrama Haji. Setiap calon haji menjalani pemeriksaan awal, dan apabila ditemukan indikasi gangguan kesehatan serius, jemaah langsung diarahkan ke ruang poli untuk observasi lanjutan.

Jika membutuhkan penanganan lebih intensif, jemaah akan dirujuk ke rumah sakit guna menjalani pemeriksaan dokter spesialis sebelum diputuskan layak atau tidak diberangkatkan.

“Kalau membutuhkan observasi lanjutan, kita rujuk ke rumah sakit. Nanti hasil dokter spesialis menjadi dasar apakah jemaah bisa diterbangkan atau harus ditunda,” ujarnya.

BKK Mataram juga masih memantau kondisi jemaah pada Kloter 14 yang hingga kini masih menjalani pemeriksaan kesehatan. Herman menyebut hasil akhir baru dapat diketahui beberapa jam sebelum penerbangan dilakukan.

Pihaknya berharap jemaah yang saat ini masih dalam pemantauan segera pulih sehingga tetap dapat diberangkatkan pada kloter terakhir.

Selain TBC, sejumlah kondisi kesehatan yang paling sering menyebabkan calon haji tertunda keberangkatannya antara lain anemia atau hemoglobin rendah, gangguan jantung, hingga penyakit yang memerlukan penanganan medis lanjutan.

“Kami berharap semuanya bisa segera pulih dan tetap diberangkatkan. Prinsipnya keselamatan dan kesehatan jemaah menjadi prioritas,” tutup Herman.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dua Calon Haji Embarkasi Lombok Gagal Berangkat karena Faktor Kesehatan

Trending Now