![]() |
| Humaria: Ketiga mahasiswa UNRAM asal Masbagik yang berhasil membuat inovasi pakan ternak, (Foto: Istimewa/MP). |
Dalam kompetisi yang diikuti oleh 25 tim dari kalangan mahasiswa dan wirausaha muda se-NTB ini, Tim Unram mengusung produk inovatif bernama "KroHerb". Produk ini merupakan pelet pakan ternak fungsional berbasis budidaya kroto yang dipadukan dengan bahan-bahan herbal alami.
Ide KroHerb lahir sebagai jawaban atas keresahan peternak terhadap mahalnya harga pakan komersial dan tingginya penggunaan antibiotik sintetis. Penggunaan bahan kimia berlebihan pada ternak dinilai berisiko menimbulkan resistensi antimikroba yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
"Kami mencoba menghadirkan solusi alternatif berupa pelet berbasis kroto dan bahan herbal yang lebih ekonomis serta ramah lingkungan," ujar Muhamad Dicky Subagia, ketua tim, Kamis (14/5).
Formulasi KroHerb memanfaatkan protein tinggi dari kroto yang dikombinasikan dengan kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale), dan daun kelor (Moringa oleifera). Secara ilmiah, bahan-bahan ini kaya akan senyawa bioaktif yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh ternak secara alami.
Setelah menyisihkan belasan pesaing dan masuk dalam jajaran 10 besar di sesi presentasi di Camoris Coffe & Resto, tim ini melenggang ke babak final yang digelar di Prime Plaza Hotel Mataram, Rabu (13/5) kemarin.
Di hadapan dewan juri dan para investor, pemaparan mereka mencuri perhatian. Tidak tanggung-tanggung, tiga investor menyatakan ketertarikannya untuk mendanai pembangunan pabrik Kroto Herbal serta pengembangan kawasan Eko-Eduwisata berbasis masyarakat.
Dicky menjelaskan bahwa visi KroHerb melampaui sekadar profit bisnis. Mereka mengonsepkan sebuah ekosistem yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat di Masbagik.
"Pembangunan pabrik pakan alternatif Kroto Herbal dan Eko-Eduwisata berbasis masyarakat hadir sebagai inovasi berkelanjutan untuk menyerap tenaga kerja lokal secara maksimal," jelas Dicky.
Ia menambahkan bahwa konsep Eko-Eduwisata ini akan memadukan kebun mangga dengan budidaya semut rangrang, baik secara alami maupun sarang buatan.
"Masyarakat tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi juga bagian dari ekosistem pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan peluang bisnis yang luas serta berdaya saing," tambahnya dengan optimis.
Pencapaian ini membuktikan bahwa inovasi berbasis riset dari mahasiswa daerah mampu memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.

