![]() |
| Belajar: Proses belajar mengajar di salah satu sekolah di Selaparang, (Foto: Istimewa/MP). |
Hingga hari ini, siswa-siswi di SD Negeri 4 Selaparang dan SMP Negeri 1 Satu Atap Suela belum pernah sekalipun mengecap menu sehat dari dapur pemerintah. Ironisnya, lokasi sekolah mereka sebenarnya tidak jauh dari keberadaan Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).
Iman, salah seorang guru yang setiap hari mengabdi di sekolah tersebut, menceritakan suasana getir saat anak didiknya melihat mobil operasional melintas. Seringkali, debu dari kendaraan yang lewat dikira sebagai pertanda datangnya bantuan makanan.
"Sempat suatu ketika ada mobil masuk ke sekolah, anak-anak menanyakan dengan penuh semangat dan berharap diantarkan MBG. Ternyata itu mobil Kepala Sekolah. Kalau sekarang, anak-anak sudah bosan bertanya soal MBG ini," ungkap Iman saat ditemui pada Kamis (30/46) dua hari yang lalu.
Iman mengaku merasa miris ketika melihat sekolah-sekolah lain di wilayah perkotaan rutin mendapatkan distribusi makanan dari mobil dapur SPPG, sementara siswanya hanya bisa menjadi penonton.
Akses jalan yang hancur dan jarak tempuh yang jauh dari pusat desa ditengarai menjadi alasan utama distribusi enggan masuk ke wilayah ini. Padahal, hanya ada sekitar 70 siswa di sekolah gabungan tersebut yang membutuhkan perhatian gizi.
"Kami akui sudah ada beberapa pihak dapur yang meminta data anak-anak di sini, tapi setelah itu hilang tidak ada kabar. Mungkin karena alasan jauh dan akses jalan yang rusak," tambah Iman lesu.
Menanggapi masalah ini, Pelaksana Tugas (PLT) UPTD Dikbud Kecamatan Suela, Mohamad Sakban, memberikan penjelasan dari sisi birokrasi. Menurutnya, SDN 4 Selaparang dan SMPN Satu Atap tersebut tidak masuk dalam kategori sekolah reguler, melainkan kategori Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
Perbedaan klasifikasi ini diduga membuat skema pendistribusiannya berbeda dengan sekolah-sekolah di pusat kecamatan.
"Karena sekolah itu masuk kategori MBG 3T, bukan reguler. Namun demikian, komunikasi saya dengan pimpinan sebenarnya memperbolehkan untuk sementara masuk ke dapur terdekat," jelas Sakban.
Meski usulan telah disampaikan, kepastian kapan nasi kotak bergizi itu sampai ke tangan siswa Lendang Belo masih menjadi misteri. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindak lanjut nyata dari pihak terkait.
"Mohon maaf, belum ada informasi lebih lanjut dari pimpinan kapan MBG 3T tersebut akan dijalankan," pungkas Sakban.

