Jelang Idul Adha, Pemprov NTB Sidak Pasar Tradisional

Ariyati Astini
Kamis, Mei 21, 2026 | 13.13 WIB Last Updated 2026-05-21T05:19:32Z

 ‎‎

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional untuk memantau harga dan memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. 



‎MANDALIKAPOST.com- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional untuk memantau harga dan memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Hasil pemantauan menunjukkan stok pangan pokok relatif aman, meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga akibat peningkatan permintaan dan biaya distribusi.

‎Sidak ini melibatkan Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog, serta Ditreskrimsus Polda NTB. Tujuannya, untuk mengendalikan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

‎Asisten II Setda Provinsi NTB, Lalu Moh Faozal, mengatakan pasokan kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan tepung dalam kondisi mencukupi. Menurut dia, kenaikan harga yang terjadi pada sejumlah komoditas bukan dipicu kelangkaan stok, tetapi dipengaruhi faktor lain seperti kenaikan biaya kemasan dan distribusi.

‎“Stok di gudang Bulog sangat cukup. Ada kenaikan sedikit pada harga beras, tetapi bukan karena bahan bakunya kurang, melainkan karena biaya kemasan, terutama harga plastik yang naik,” kata Faozal di Pasar Mandalika, Kamis, 21 Mei 2026.

‎Ia menjelaskan, harga ayam potong juga mengalami kenaikan sekitar Rp5 ribu per kilogram. Namun, lonjakan tersebut dinilai sebagai dampak naiknya permintaan masyarakat menjelang Iduladha, bukan karena gangguan pasokan.

‎Menurut Faozal, pola konsumsi masyarakat menjelang hari raya turut memengaruhi dinamika harga di pasar. Permintaan ayam disebut meningkat karena sebagian konsumen lebih memilih daging ayam dibanding daging sapi yang harganya lebih tinggi.

‎Sementara itu, harga daging sapi di pasar tradisional masih terpantau stabil di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram, tergantung kualitas. Untuk daging premium, harga berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram dengan pasokan yang disebut masih terjaga di sejumlah pasar utama seperti Pasar Kebon Roek dan Pasar Mandalika Bertais.

‎Kenaikan juga terjadi pada bawang merah, dari sebelumnya Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Pemprov menilai lonjakan harga komoditas ini dipengaruhi meningkatnya ongkos transportasi dari daerah pemasok, terutama dari Bima ke Pulau Lombok.

‎“Transportasi dari daerah sumber mengalami kenaikan, sehingga berdampak pada harga jual di pasar,” ujar Faozal.

‎Meski demikian, pemerintah daerah memperkirakan tekanan harga bawang merah hanya bersifat sementara karena dalam waktu dekat petani di Bima akan memasuki masa panen, yang diharapkan dapat menambah pasokan dan menekan harga.

‎Harga cabai merah juga tercatat naik, meski pemerintah optimistis kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena sejumlah sentra produksi mulai memasuki musim panen.

‎Di sektor energi rumah tangga, Pemprov NTB memastikan stok LPG dalam kondisi aman. Namun, Faozal menyoroti perubahan pola belanja masyarakat yang dinilai ikut memicu peningkatan permintaan tabung gas.

‎Menurut dia, sebagian masyarakat membeli LPG lebih banyak dari biasanya karena kekhawatiran stok akan berkurang, padahal distribusi masih berjalan normal.

‎“Ini lebih karena pola belanja yang berubah. Ada kecenderungan masyarakat membeli lebih banyak karena faktor psikologis,” katanya.

‎Pemprov NTB berharap stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok dapat terus terjaga hingga pelaksanaan Iduladha, sehingga masyarakat tidak menghadapi tekanan harga yang berlebihan.

‎“Pemerintah turun langsung untuk memastikan ketersediaan barang dan menjaga harga tetap terkendali,” kata Faozal.

‎MANDALIKAPOST.com- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional untuk memantau harga dan memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Hasil pemantauan menunjukkan stok pangan pokok relatif aman, meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga akibat peningkatan permintaan dan biaya distribusi.

‎Sidak ini melibatkan Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog, serta Ditreskrimsus Polda NTB. Tujuannya, untuk mengendalikan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

‎Asisten II Setda Provinsi NTB, Lalu Moh Faozal, mengatakan pasokan kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan tepung dalam kondisi mencukupi. Menurut dia, kenaikan harga yang terjadi pada sejumlah komoditas bukan dipicu kelangkaan stok, tetapi dipengaruhi faktor lain seperti kenaikan biaya kemasan dan distribusi.

‎“Stok di gudang Bulog sangat cukup. Ada kenaikan sedikit pada harga beras, tetapi bukan karena bahan bakunya kurang, melainkan karena biaya kemasan, terutama harga plastik yang naik,” kata Faozal di Pasar Mandalika, Kamis, 21 Mei 2026.

‎Ia menjelaskan, harga ayam potong juga mengalami kenaikan sekitar Rp5 ribu per kilogram. Namun, lonjakan tersebut dinilai sebagai dampak naiknya permintaan masyarakat menjelang Iduladha, bukan karena gangguan pasokan.

‎Menurut Faozal, pola konsumsi masyarakat menjelang hari raya turut memengaruhi dinamika harga di pasar. Permintaan ayam disebut meningkat karena sebagian konsumen lebih memilih daging ayam dibanding daging sapi yang harganya lebih tinggi.

‎Sementara itu, harga daging sapi di pasar tradisional masih terpantau stabil di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram, tergantung kualitas. Untuk daging premium, harga berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram dengan pasokan yang disebut masih terjaga di sejumlah pasar utama seperti Pasar Kebon Roek dan Pasar Mandalika Bertais.

‎Kenaikan juga terjadi pada bawang merah, dari sebelumnya Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Pemprov menilai lonjakan harga komoditas ini dipengaruhi meningkatnya ongkos transportasi dari daerah pemasok, terutama dari Bima ke Pulau Lombok.

‎“Transportasi dari daerah sumber mengalami kenaikan, sehingga berdampak pada harga jual di pasar,” ujar Faozal.

‎Meski demikian, pemerintah daerah memperkirakan tekanan harga bawang merah hanya bersifat sementara karena dalam waktu dekat petani di Bima akan memasuki masa panen, yang diharapkan dapat menambah pasokan dan menekan harga.

‎Harga cabai merah juga tercatat naik, meski pemerintah optimistis kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena sejumlah sentra produksi mulai memasuki musim panen.

‎Di sektor energi rumah tangga, Pemprov NTB memastikan stok LPG dalam kondisi aman. Namun, Faozal menyoroti perubahan pola belanja masyarakat yang dinilai ikut memicu peningkatan permintaan tabung gas.

‎Menurut dia, sebagian masyarakat membeli LPG lebih banyak dari biasanya karena kekhawatiran stok akan berkurang, padahal distribusi masih berjalan normal.

‎“Ini lebih karena pola belanja yang berubah. Ada kecenderungan masyarakat membeli lebih banyak karena faktor psikologis,” katanya.

‎Pemprov NTB berharap stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok dapat terus terjaga hingga pelaksanaan Iduladha, sehingga masyarakat tidak menghadapi tekanan harga yang berlebihan.

‎“Pemerintah turun langsung untuk memastikan ketersediaan barang dan menjaga harga tetap terkendali,” kata Faozal.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jelang Idul Adha, Pemprov NTB Sidak Pasar Tradisional

Trending Now