![]() |
| Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Ahmad Riad |
MANDALIKAPOST.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memetik hasil investasi di sektor peternakan melalui pengadaan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi penyakit pada hewan ternak yang akan dikirim ke luar daerah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Ahmad Riadi mengatakan alat PCR tersebut dibeli pada akhir 2025 dengan nilai sekitar Rp700 juta dan kini sudah mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).
“Dalam waktu dua bulan saja, yakni Maret hingga April selama masa pengiriman hewan kurban, alat ini telah melayani 1.630 pemeriksaan dengan menghasilkan PAD sebesar Rp815 juta,” kata Riadi, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, pendapatan tersebut baru berasal dari layanan PCR dan belum termasuk pemasukan dari layanan obat-obatan di laboratorium. Karena itu, investasi di sektor peternakan dinilai sangat potensial dan cepat memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
“Jadi ini sudah sangat menguntungkan dari sisi bisnis,” ujarnya.
Selain menghadirkan layanan PCR untuk mendukung kelancaran lalu lintas ternak, Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal juga membentuk satuan tugas (satgas) pengawasan lalu lintas hewan kurban.
Satgas tersebut bertugas mengatur alur dan jumlah pengiriman ternak sesuai jadwal kapal guna menghindari penumpukan di Pelabuhan Gili Mas seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Disnakeswan NTB mencatat, pada momentum Idul Adha 2026 sebanyak 24.974 ekor sapi dikirim ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Jumlah itu menjadi yang terbesar dalam empat tahun terakhir.
Perputaran ekonomi dari pengiriman ternak tersebut diperkirakan mencapai hampir setengah triliun rupiah, mencakup nilai jual sapi hingga jasa pendukung seperti transportasi dan pakan ternak.
“Kalau dirata-ratakan harga per ekor sekitar Rp20 juta, dikalikan 24 ribu lebih sapi yang dikirim, nilainya mencapai sekitar Rp499 miliar atau hampir setengah triliun,” ujar Riadi.
Ia menegaskan sektor peternakan menjadi salah satu peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di NTB karena dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

