![]() |
| Belajar: Suasana proses belajar mengajar di PAUD AL-Hafiz, (Foto: Istimewa/MP). |
Meski legalitas formal telah diakui dan gedung permanen mulai dicicil pembangunannya, hingga kini belum ada satu rupiah pun bantuan yang mengalir dari kantong pemerintah.
Ketua Yayasan Lima Insan Kita, Sakirman, SH, M.Pd, mengisahkan bahwa pendirian lembaga ini pada tahun 2021 silam didorong oleh rasa prihatin. Akses pendidikan anak usia dini yang jauh mencapai 1 hingga 3 kilometer dari pemukiman membuat orang tua di Dusun Temorok kesulitan, apalagi mayoritas warga adalah petani dan peternak yang terikat waktu di ladang.
"Cita-cita saya di tahun 2023 itu harus terbentuk. Kami berpikir bahwa mengabdikan diri kepada pendidikan adalah investasi jangka panjang. Saya tidak pernah berorientasi pada hasil apa yang akan saya dapatkan secara materi, tapi bagaimana mencerdaskan anak bangsa mulai usia emas 0 sampai 7 tahun," tegas Sakirman saat ditemui di lokasi pembangunan gedung, Kamis (7/5).
Perjalanan lembaga ini tergolong ajaib. Dimulai hanya dengan 7 siswa pada tahun 2023, kini di tahun ketiga, jumlah peserta didik melonjak drastis menjadi 47 anak. Padahal, hingga saat ini, kegiatan belajar mengajar masih dilakukan dengan konsep halaqah (duduk bersila) di atas tikar tanpa kursi demi memberikan ruang gerak yang luas bagi anak-anak.
Meskipun tanah bangunan seluas 3 are lokasi yayasan merupakan hibah pribadi dari Sakirman, pembangunan gedung yang dimulai sejak awal 2026 sepenuhnya mengandalkan swadaya dan donatur tidak tetap.
"Tanah ini milik pribadi yang saya hibahkan lillahi ta’ala kepada yayasan agar bisa dikelola siapapun untuk kepentingan umat. Terkait bangunan, alhamdulillah sampai hari ini belum ada sentuhan dari pemerintah. Ini murni swadaya kami sebagai pengelola yang berupaya mencari dana," tambahnya.
Kebutuhan akan air bersih di wilayah yang rawan kekeringan ini pun baru saja mendapat titik terang. Seorang donatur dari kalangan masyarakat kecil menyumbangkan sumur bor yang pengerjaannya dimulai pada 9 Mei ini. Sumur tersebut nantinya tidak hanya untuk keperluan sekolah, tapi juga dibuka untuk masyarakat sekitar.
Ironisnya, meski tim visitasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur telah turun langsung meninjau lokasi pada Mei 2025 dan memberikan respon positif, dukungan dana masih terkunci oleh urusan administratif. Izin operasional masih dalam proses kelengkapan persyaratan, yang membuat bantuan sarana maupun tunjangan guru tersendat.
Saat ini, lima orang guru yang mengabdi di Yayasan Lima Insan Cita hanya mengandalkan tunjangan seadanya dari swadaya pengurus. Sakirman berharap, pemerintah tidak pilih kasih terhadap lembaga pendidikan swasta yang nyata-nyata telah membantu beban negara dalam mendidik warga negaranya.
"Harapan kami, semoga pemerintah melek terhadap perjuangan pendidikan swasta. Jangan sampai kami dianak tirikan. Kami mendidik dengan giat tanpa anggaran yang besar. Dasar pemerintah yang baik adalah mereka yang mampu melihat dan mendukung orang-orang yang berkontribusi nyata bagi agama dan bangsa," tutup Sakirman penuh harap.
Dengan visi menjadi lembaga percontohan di Kecamatan Jerowaru, Yayasan Lima Insan Cita terus berbenah. Meski harus bertawakal di tengah proses pembangunan gedung yang masih berjalan, semangat Ikhlas dan Istiqomah yang menjadi moto yayasan tetap menjadi bahan bakar utama bagi mereka untuk terus melangkah.

