![]() |
| Sanggar: Antusias anak-anak saat belajar musik tradisional di Sanggar Wayang Sasak School, Sesela. (Foto: Istimewa/MP). |
Dipimpin oleh Muhaemi, praktisi Wayang Kulit Sasak yang akrab disapa Ki Dalang Emi, komunitas ini lahir dari sebuah keresahan mendalam akan hilangnya identitas generasi muda terhadap warisan leluhur.
Keresahan itu bermula pada tahun 2014. Saat itu, pemahaman masyarakat terutama generasi muda terhadap Wayang Kulit Sasak berada di titik nadir. Menolak pasrah pada keadaan, Ki Dalang Emi bersama para tokoh budaya setempat mengambil langkah progresif mendirikan sekolah Wayang Sasak School.
"Kita di Wayang Sasak School itu mulai bangkit awalnya dari keresahan takut kehilangan jejak. Pada tahun 2014, sangat sulit sekali, sudah tidak ada pemahaman tentang wayang. Orang-orang seolah acuh karena gempuran media dari luar. Kami khawatir jika anak muda tidak peduli, bagaimana ini meneruskannya? Akhirnya kami memutuskan membuka sekolah Wayang Sasak School," kenang Ki Dalang Emi, saat ditemui di Sesela, Senin (1/6).
Langkah ini rupanya memantik kerinduan yang lama terpendam. Sebanyak 75 orang mendaftar pada angkatan pertama. Melalui proses seleksi bakat dan pengetahuan, para siswa diarahkan sesuai minat mereka, baik menjadi penata (pembuat/pemain) wayang maupun penabuh musik pengiring (seperti cupak gerantang)
Tak hanya dibekali ilmu pedalangan, sanggar ini bahkan membuka kelas Bahasa Inggris demi menyiapkan para dalang muda menyambut wisatawan mancanegara.
Meski bergerak murni secara swadaya tanpa sokongan dana pemerintah maupun lembaga donor (NGO), Wayang Sasak School berhasil membuktikan bahwa kedalaman filosofi budaya lokal memiliki daya pikat universal.
Tercatat, delegasi dari UNESCO, Amerika Serikat, Perancis, Italia, peserta Lemhannas dari 14 negara, hingga komunitas sekolah Go Green Bali pernah datang langsung untuk belajar. Bahkan, media internasional ternama seperti BBC Australia turut menyiarkan aktivitas sanggar ini secara reguler.
Sebelumnya, sanggar ini rutin menggelar pertunjukan saban hari Sabtu. Dengan sistem tiket terintegrasi, wisatawan tidak sekadar menonton, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam pembuatan cenderamata wayang serta edukasi pembuatan minyak kelapa tradisional.
"Ketika kita menghidupkan budaya, kita bisa menghidupkan budaya dan budaya itu pasti akan bisa menghidupkan kita. Ini sudah menjadi keyakinan saya. Tujuannya adalah saya menghidupkan budaya itu, dan dia akan menghidupkan masyarakat saya juga," tegas Ki Dalang Emi optimistis.
Bagi beliau, pelestarian ini bukan sekadar romantisasi masa lalu, melainkan sebuah ekosistem ekonomi kreatif yang menghidupkan perajin kulit, penata wayang, hingga pemusik.
Bagi Ki Dalang Emi, Wayang Kulit Sasak bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan hidup yang kaya akan nilai spiritual dan sosial. Konon, sejak abad ke-14 di Labuhan Carik, wayang digunakan sebagai media syiar Islam, di mana masyarakat yang ingin menonton cukup membayar tiket berupa berwudu dan mengucap kalimat syahadat.
Selain itu, pertunjukan ini memperkenalkan karakter-karakter teaterikal seperti Cupak Gerantang. Dua figur ini merepresentasikan dualisme sifat manusia. Cupak sebagai simbol keserakahan dan watak buruk, sementara Gerantang mencerminkan kesatriaan, kebaikan, dan keluhuran budi.
"Di Sasak kita mempunyai panutan yang sangat bagus. Ada Cupak Gerantang, di mana Cupak adalah watak yang tidak bagus dan Gerantang itu yang sangat bagus. Itu pengajaran terhadap kita suku Sasak," jelasnya.
Nilai kepatuhan dan tata krama juga tercermin kuat melalui penokohan figur-figur panakawan seperti Amaq Baok, Amaq Ocong, Amaq Aamat, dan silsilah karakter lainnya.
"Filosofinya adalah sopan santun dari karakter-karakter itu. Ada yang menunjukkan karakter yang bagus, sangat hormat, tawaduk, dan tunduk kepada pemerintahan untuk menjalankan aturan secara betul-betul," tambahnya.
Kendati gaung Wayang Sasak School telah mendunia, Ki Dalang Emi tidak menampik adanya ganjalan struktural. Hambatan terbesar yang dirasakan sejak 2014 adalah minimnya kehadiran dan kepekaan pemerintah daerah dalam menjembatani promosi, memfasilitasi kemitraan dengan sektor perhotelan, maupun melibatkan para pelaku budaya dalam agenda resmi daerah.
Ironisnya, di tengah jargon pemerintah provinsi yang ingin membawa NTB mendunia, para budayawan di akar rumput justru merasa berjalan sendirian. Begitu pula di tingkat Kabupaten Lombok Barat. Ki Dalang Emi, yang juga dikenal sebagai tokoh sentral penggerak seni ketangkasan Peresian (bahkan pernah mengetuai ajang bergengsi Polda Cup se-Lombok), menyayangkan minimnya pelibatan tokoh-tokoh orisinal dalam agenda-agenda daerah.
Tantangan administratif seperti pendaftaran bantuan melalui sistem online Indonesia yang baru bisa diakses pada tahun 2024 setelah proses berbelit juga kerap menyulitkan para seniman tradisional yang gagap teknologi.
"Kami di Wayang Sasak School menunggu, budayawan ini menunggu, kapan kami dikunjungi dan ditanyakan siapa saja yang datang ke sini? Kalau kita memang mendunia, ayo datang. Tinggal bagaimana pemerintah mengombinasikannya sehingga kami betul-betul mendunia," harapnya.
Menutup perbincangan, Ki Dalang Emi mengingatkan sebuah pesan penting dari mendiang gurunya, Mas Eko SB Harianto, bahwa kemandirian adalah kunci utama bertahannya sebuah tradisi. Namun, ia tetap berharap ada sinergi yang sehat demi masa depan pariwisata berbasis budaya di Lombok.
"Destinasi alam seperti pantai atau air terjun bisa saja rusak atau menyusut, namun kebudayaan yang dirawat dengan hati tidak akan pernah bisa hancur. Itulah modal utama kita," pungkasnya.

