![]() |
| Lalulintas: Kepala Unit Keamanan dan Keselamatan Satlantas Polres Lombok Timur, IPDA Evi Dwi Puspa Indah. (Foto: Rosyidin/MP). |
Hal tersebut ditegaskan oleh Kapolres Lombok Timur melalui Kanit Kamsel Satlantas Polres Lombok Timur, IPDA Evi Dwi Puspa Indah, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya pada Kamis (25/6).
IPDA Evi mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap tingkat kepatuhan masyarakat Lombok Timur dalam berkendara yang saat ini dinilai masih sangat rendah.
"Jika boleh jujur, kalau dari 10 poin, bisa kami bilang Lombok Timur di bawah 50 persen. Tingkat kepatuhan masih sangat kurang. Bayangkan kalau seumpamanya di satu kecamatan setiap hari menyumbang nyawa, harus berapa nyawa yang jatuh hanya karena kelalaian tidak ingin tertib lalu lintas? Boleh dicek di unit Lakalantas," ujar IPDA Evi.
Melihat kondisi tersebut, Satlantas Polres Lombok Timur membuka pintu selebar-lebarnya bagi pemuda yang ingin membentuk komunitas kendaraan, dengan syarat mau dibina agar menjadi komunitas yang sehat dan tertib hukum. Program ini juga sejalan dengan tema "Polantas Menyapa" yang sedang digalakkan.
Pendekatan yang dilakukan pun dipastikan jauh dari kesan kaku. Petugas siap turun langsung ke lapangan, bahkan ikut nongkrong dan mengopi bersama para anggota komunitas demi memberikan edukasi keselamatan.
"Silakan bersurat ke kami atau via WhatsApp juga tidak apa-apa. Contohnya misal lagi kumpul 10 orang di Tugu Lapangan, hubungi kami, kami akan turun. Kita duduk santai sambil mungkin ngopi bareng, kita jelaskan edukasi jadi tidak harus serius," tuturnya.
Meski demikian, IPDA Evi menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan toleransi bagi komunitas yang sudah dibina namun tetap membandel dan melanggar aturan di jalan raya, terutama menjelang pelaksanaan Operasi Patuh.
"Tatkala mereka terjaring operasi, tentunya penegakan hukum tidak ada toleransi karena sudah dibina otomatis sudah mengetahui aturannya. Sebelum itu terjadi, mari kita bina. Tapi kalau sudah masuk Operasi Patuh, sudah bukan bina lagi, tapi penindakan, terutama knalpot brong. Bahkan komunitasnya bisa dibubarkan," tegasnya. Saat ini, komunitas Vespa tercatat sebagai kelompok yang paling aktif meminta pembinaan rutin.
Kondisi di lapangan semakin menantang, terutama pada akhir pekan di kawasan wisata seperti Sembalun. Berdasarkan pantauan, diperkirakan 70% remaja yang berkendara di area tersebut pada hari Sabtu dan Minggu abai terhadap keselamatan diri, salah satunya dengan tidak menggunakan helm.
IPDA Evi menyebutkan bahwa untuk menyadarkan masyarakat, kepolisian tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi dari seluruh lini, mulai dari tokoh masyarakat, aparatur desa, hingga peran media massa untuk menyebarkan edukasi secara masif.
Selain komunitas, sektor pendidikan juga menjadi fokus utama Satlantas Polres Lombok Timur. Tidak lagi sekadar sosialisasi biasa (Goes to School), kepolisian kini meningkatkan status kegiatannya menjadi Mitigasi Lakalantas demi mengevaluasi tingginya angka kecelakaan di kalangan pelajar.
Polres Lombok Timur secara tegas melarang anak sekolah yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk membawa kendaraan sendiri. Namun, kepolisian juga tidak menampik adanya dilema transportasi yang dihadapi oleh para orang tua dan pihak sekolah.
"Kami sangat dilema terkait itu. Kata Kepala Sekolah, 'Bu, tidak ada mobil angkutan umum, gara-gara kedua jarak rumah jauh'. Sementara bagi anak-anak yang belum memiliki SIM, tetap orang tua yang harus mengantar atau menggunakan angkutan umum untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan," jelasnya.
Di akhir sesi, IPDA Evi memberikan pesan menohok sekaligus tips bagi seluruh lapisan masyarakat Lombok Timur agar selalu mengutamakan keselamatan saat berkendara. Semua harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
"Lebih baik beli helm hanya Rp150 ribu, daripada biaya memperbaiki kepala itu ratusan juta. Tipsnya, mulai dari diri sendiri dan lingkungan terkecil. Terutama bapaknya, ibunya, gunakan helm agar anak-anaknya mengikuti. Setelah anaknya mengikuti, nanti dia akan mengajak temannya di komunitas," pungkasnya.

