![]() |
| Owner Manjareal Tina Tini, Sri Apriana Kartina. |
MANDALIKAPOST.com – Tahun 2007 menjadi titik awal perjalanan pasangan Sutiyo dan Nurlela menjaga salah satu warisan kuliner khas Tanah Samawa, jajanan khas Manjareal.
Berbekal dapur sederhana di rumah mereka di jalan Tongkol No. 15 RT 01/RW 02, Kelurahan Pekat, Kecamatan Sumbawa, mereka mulai memproduksi Manjareal, jajanan tradisional yang kala itu mulai jarang dijumpai di tengah gempuran makanan modern.
Kini usaha kecil itu berkembang. Ditangan putri tercinta mereka, Sri Apriana Kartina, usaha kecil yang dirintisnya melalui UD Tina Tini, bukan semata mencari keuntungan. Ada misi yang lebih besar, yakni menjaga agar Manjareal tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya Sumbawa.
"Sayang sekali kalau jajanan ini hilang. Dulu Manjareal merupakan hidangan istimewa yang disajikan untuk tamu-tamu kehormatan dan para raja di Sumbawa. Nilai sejarahnya sangat besar, sehingga saya ingin generasi sekarang masih bisa mengenalnya," ujar Sri Apriana Kartina, yang akrab disapa Tina, kepada Mandalika Post, Senin 6 Juli 2026.
Manjareal merupakan kudapan khas Sumbawa yang dibuat dari kacang tanah dan gula pasir. Adonan yang telah matang kemudian dicetak menggunakan daun lontar sebelum dikeringkan. Meski bahan bakunya sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelitian agar menghasilkan tekstur dan cita rasa yang khas.
Selama bertahun-tahun, Tina mempertahankan resep tradisional tersebut. Namun ia menyadari bahwa mempertahankan rasa saja tidak cukup. Agar mampu bertahan, produk lokal juga harus mengikuti perkembangan zaman, baik dari sisi kualitas, kemasan, maupun strategi pemasaran.
![]() |
| Jajanan khas Sumbawa, Manjareal. |
Kesempatan itu datang ketika dirinya terpilih mengikuti Program Bale Berdaya yang diinisiasi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) pada 2024. Program yang merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) itu memberikan pendampingan kepada lebih dari 100 pelaku UMKM di tujuh kecamatan di Kabupaten Sumbawa.
Melalui pendampingan tersebut, Tina mendapatkan pelatihan peningkatan kualitas produk, literasi keuangan, pengelolaan usaha, pengembangan kemasan, digital marketing, hingga perluasan akses pasar.
"Yang paling kami rasakan bukan hanya ilmu tentang membuat produk lebih baik, tetapi bagaimana membaca kebutuhan pasar, mengelola usaha dengan lebih profesional, dan memasarkan produk melalui media digital," katanya.
Menurut Tina, perubahan terbesar terjadi pada tampilan produk. Manjareal yang sebelumnya dikemas secara sederhana kini hadir dengan kemasan yang lebih modern tanpa menghilangkan ciri khasnya sebagai kuliner tradisional Sumbawa. Story telling tentang sejarah Manjareal sebagai kudapan para raja juga menjadi bagian penting dalam memperkenalkan produk kepada konsumen.
Hasil pendampingan itu kini mulai terlihat. Produk Manjareal milik UD Tina Tini berhasil menembus Bale Berdaya Hub, gerai UMKM yang berada di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa.
Bale Berdaya Hub sendiri menjadi etalase berbagai produk unggulan UMKM binaan AMMAN yang setiap hari dikunjungi wisatawan, pelaku perjalanan bisnis, maupun masyarakat yang datang ke Pulau Sumbawa.
"Alhamdulillah sekarang Manjareal semakin dikenal. Banyak wisatawan yang membeli karena penasaran dengan ceritanya, kemudian kembali membeli karena menyukai rasanya," ungkap Tina.
Program Bale Berdaya yang dijalankan AMMAN bersama KUMPUL pada 2024 berhasil mendampingi lebih dari 100 UMKM di Kabupaten Sumbawa. Program ini tidak hanya meningkatkan kapasitas pelaku usaha, tetapi juga mendorong peningkatan rata-rata omzet peserta hingga 100,2 persen, sekaligus memperluas akses pasar melalui berbagai kolaborasi, termasuk kehadiran Bale Berdaya Hub di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa.
Bagi Tina, keberhasilan produknya masuk ke Bale Berdaya Hub bukan sekadar pencapaian bisnis. Itu menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat jika dikemas dengan baik dan diceritakan dengan benar.
Dari dapur sederhana yang dirintis pada 2017, Manjareal kini telah menempuh perjalanan panjang. Kudapan yang dahulu hanya tersaji di lingkungan bangsawan Sumbawa itu kini menjadi buah tangan yang dibawa wisatawan ke berbagai daerah, membawa serta cita rasa dan cerita tentang Tanah Samawa.


