![]() |
| ISPA: Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, H. Lalau Aries Fahrizi, (Foto: Rosyidin/MP). |
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, H. L. Aries Fahrizi, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan selama musim kemarau sangat rentan memicu penurunan imunitas tubuh jika tidak diantisipasi dengan baik.
"Kemarau dapat meningkatkan risiko dehidrasi, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare akibat kualitas air menurun, hingga penyakit kulit akibat pengelolaan lingkungan yang kurang baik," ujar Aries saat memberikan keterangan resmi.
Sebagai langkah mitigasi, Dinkes Lombok Timur mengajak masyarakat untuk aktif menerapkan pola pencegahan secara mandiri. Beberapa langkah sederhana namun krusial yang dianjurkan antara lain:
1. Mengonsumsi air mineral dalam jumlah yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
2. Mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan saat suhu udara mencapai puncaknya.
3. Memastikan kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.
4. Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal secara konsisten.
Aries menekankan bahwa penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem ini. Ia juga meminta perhatian khusus diberikan kepada kelompok yang paling rentan terhadap perubahan cuaca.
"Di musim kemarau ini, perilaku hidup bersih dan sehat sangatlah penting. Kami meminta masyarakat memberikan perhatian ekstra bagi bayi, ibu hamil, serta usia lanjut (lansia) agar mereka terhindar dari bahaya dehidrasi dan komplikasi penyakit lainnya," tambahnya.
Masyarakat juga diminta untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas kesehatan terdekat jika mulai merasakan gejala-gejala penurunan kondisi fisik yang signifikan.
"Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat ketika mengalami gejala demam tinggi, sesak napas, atau keluhan penyakit lainnya," tegas Aries.
Menyadari bahwa penanganan dampak El Niño tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja, Dinkes Lombok Timur turut menyerukan gerakan kolaboratif. Aries mengajak pemerintah desa, institusi pendidikan, pelaku usaha, organisasi masyarakat, hingga seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk bergerak bersama.
Sinergi ini diharapkan fokus pada upaya menjaga kebersihan lingkungan, menghemat penggunaan air bersih, serta masif melakukan edukasi kesehatan di tengah masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan cukup parah.
"Dengan kewaspadaan dan kerja sama seluruh pihak, risiko terjadinya peningkatan kasus penyakit selama musim kemarau dapat diminimalkan. Masyarakat bisa tetap sehat, produktif, dan terlindungi. Karena pada dasarnya, kesehatan itu dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan," pungkas Aries.

