Gelar Diskusi Antropologi Internasional, IAIH Pancor Hadirkan Peneliti Asal Jepang Kupas Tradisi 'Ngidam' Suku Sasak

Rosyidin S
Jumat, Juli 03, 2026 | 10.12 WIB Last Updated 2026-07-03T02:13:57Z
Diskusi: Wakil Rektor I Bidang Akademik IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.MPd., diskusi bersama peneliti asal Kanazawa University, Jepang, Saki Tanada, Ph.D., (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan iklim akademis dan produksi ilmu pengetahuan di kancah internasional. 


Kali ini, kampus hijau tersebut menggelar diskusi ilmiah antropologi bertaraf internasional dengan menghadirkan peneliti asal Kanazawa University, Jepang, Saki Tanada, Ph.D.


Diskusi yang mengupas tuntas realitas budaya dan antropologi masyarakat lokal ini berlangsung khidmat di Ruang Pertemuan Lantai Tiga Rektorat IAIH Pancor, Kamis (2/7).


Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.MPd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kesediaan peneliti asal Negeri Sakura tersebut untuk berbagi hasil riset mendalamnya di bumi Lombok.


"Saya selaku wakil rektor menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat datang kepada Ibu Saki Tanada, Ph.D., di IAIH Pancor yang telah memberikan waktu dan ilmunya," ujar Dr. H. Abdul Hayyi Akrom di hadapan civitas akademika.


Ia menegaskan bahwa tradisi diskusi ilmiah dengan melibatkan pakar internasional seperti ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan intensitasnya. Hal itu dinilai penting guna memperluas cakrawala berpikir mahasiswa serta dosen, sekaligus memperkuat jejaring riset global.


"Mudah-mudahan akan semakin banyak diskusi ilmiah di IAI Hamzanwadi Pancor dalam rangka kolaborasi dan produksi ilmu pengetahuan," harapnya.


Dalam pemaparannya, Saki Tanada, Ph.D., memukau peserta diskusi saat menjabarkan disertasinya yang berjudul "The Mother-Child Bonding in Pregnancy, Childbirth, and Postnatal: An Ethnographic Study of Birthing among Sasak People in Lombok".


Alumni Program Doktor Antropologi Kanazawa University ini mengungkapkan, banyak fenomena sosial di Lombok yang sering kali dianggap biasa atau sepele oleh masyarakat setempat, namun sesungguhnya menyimpan makna filosofis yang sangat mendalam jika dibedah dengan pisau analisis antropologi.


Salah satu yang disorot tajam oleh Saki adalah tradisi ngidam pada ibu hamil di kalangan masyarakat Suku Sasak. Di mata dunia barat atau masyarakat awam, ngidam kerap dianggap sekadar keinginan biologis atau psikologis sesaat dari ibu hamil. Namun, riset etnografi Saki mematahkan pandangan dangkal tersebut.


"Fenomena ngidam bukan sekadar keinginan ibu hamil, melainkan dimaknai sebagai bentuk pengenalan (recognize) terhadap bayi dalam kandungan sebagai anggota keluarga dan masyarakat," urai Saki Tanada.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tradisi ini sejatinya merupakan mekanisme sosial yang jenius dari warisan leluhur Sasak. Ngidam menjadi alarm bagi lingkungan sekitar untuk memberikan perlindungan ekstra kepada ibu hamil.


"Kegiatan ini merupakan upaya preventif dari keluarga dan masyarakat untuk memberikan perlindungan serta perhatian kepada sang ibu setelah menerima amanah dari Tuhan," tambahnya.


Tak hanya soal fase kehamilan, diskusi ini juga membedah tradisi ketemuk, yakni sebuah bentuk interaksi spiritual dan kultural antara orang yang masih hidup dengan kerabat yang telah meninggal dunia. Fenomena unik ini turut menjadi bagian penting dalam kajian antropologi budaya yang ia teliti selama di Lombok.


Di akhir sesinya, Saki menekankan bahwa riset-riset kebudayaan di wilayah berkembang seperti Indonesia, khususnya Lombok, memiliki posisi tawar yang sangat tinggi di mata dunia. Selama ini, ada kecenderungan masyarakat di negara maju memandang rendah realitas kehidupan di negara berkembang karena minimnya literasi dan publikasi ilmiah yang valid.


Melalui publikasi riset etnografi inilah, tatanan nilai dan keluhuran budi pekerti masyarakat lokal dapat terangkat, sehingga melahirkan rasa saling menghormati antarbangsa secara setara.


“Apa yang menjadi realitas kehidupan di tengah kita perlu diangkat secara ilmiah agar dunia lain tahu, sehingga mampu memberikan penghormatan terhadap orang lain,” tegas Saki.


Ia berharap institusi pendidikan seperti IAI Hamzanwadi Pancor dapat terus melahirkan peneliti-peneliti lokal yang mampu menyuarakan keunikan budayanya ke panggung global. Menurutnya, publikasi ilmiah yang konsisten mengenai keberagaman kebudayaan akan memberikan dampak psikologis yang positif bagi peradaban modern.


“Penghargaan atas perbedaan adalah penting untuk dipublikasikan guna melahirkan priming positif dalam cara pandang terhadap sesama,” pungkas peneliti ramah tersebut.


Kegiatan diskusi internasional ini menjadi bukti nyata bahwa IAIH Pancor tidak hanya fokus pada transformasi internal kampus, tetapi juga aktif membuka ruang bagi civitas akademika untuk terlibat dalam dialektika global berbasis kearifan lokal.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gelar Diskusi Antropologi Internasional, IAIH Pancor Hadirkan Peneliti Asal Jepang Kupas Tradisi 'Ngidam' Suku Sasak

Trending Now