![]() |
| Ilustrasi: Seorang ibu warga Sembalun Lawang sedang menenun menggunakan alat tenun Gedogan, (Foto: Istimewa/MP). |
Di dalam ruang sakral Bale Adat, Komunitas Perempuan SembaluNina tengah merajut kembali benang-benang sejarah yang sempat meredup. Melalui Pelatihan Teknik Pewarna Alam, mereka berikhtiar membangkitkan kembali kebanggaan atas identitas kenakalan masyarakat Sembalun melalui pelestarian Tenun Gedogan.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah jembatan waktu. Sebuah ruang di mana ilmu dan kearifan lokal ditransfer secara utuh dari jemari terampil para maestro tenun senior kepada generasi penerus.
Pelatihan pewarnaan ini merupakan fase kedua dari peta jalan besar bertajuk "Pengembangan Ekosistem Tenun Tradisional Sembalun Berbasis Kawasan". Sebelumnya, SembaluNina telah meletakkan batu pertama lewat Focus Group Discussion (FGD) mendalam bertema "Regenerasi dan Penguatan Identitas Lokal Tenun Gedogan Kawasan Sembalun".
Langkah awal tersebut menjadi ruang pembuktian ilmiah sekaligus kultural. Dengan menggandeng Bapak Muchammadun, M.Ag., Ph.D. dari UIN Mataram untuk justifikasi akademik, serta bersandar pada tutur luhur Ketua Majelis Adat Kemangkuan Khusus Paer Sembalun, Bapak Mertawi, S.Pd., sejarah motif dan nilai filosofi tenun kawasan berhasil dipetakan. Dokumen berharga mengenai motif asli Sembalun beserta makna filosofinya kini resmi menjadi dasar kuat untuk pengusulan Indikasi Geografis (IG).
Data motif hasil FGD itulah yang kini diejawantahkan oleh 20 penenun muda. Di bawah bimbingan penuh kasih dari tokoh penenun senior, Inak Weni dan Inak Anah, para pemuda perwakilan dari Sembalun Bumbung, Sembalun Lawang, Sembalun Timba Gading, dan Sajang ini diajarkan cara mengekstrak warna dari vegetasi lokal yang tumbuh di tanah Sembalun.
Tokoh adat Sembalun Lawang, Mertawi, S.Pd., selaku Ketua Majelis Adat, menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi dari gerakan kebudayaan ini.
"Tenun gedogan ini bukan sekadar kain pengikat badan, melainkan helai-helai doa dan napas leluhur Paer Sembalun yang dititipkan kepada kita. Mengembalikan warna alam ke dalam benang-benang ini adalah cara kita merawat tanah dan menghormati Sasak (asal-usul) diri. Saya bangga melihat teruna-dedara (pemuda-pemudi) kita mau duduk bersila di Bale Adat ini untuk menjemput kembali warisan purba yang sempat layu," ujar Mertawi dengan nada takzim, Kamis (15/7).
![]() |
| Pewarna: Proses mewarnai benang menggunakan bahan alami, (Foto: Istimewa/MP). |
Ketua Komunitas Perempuan SembaluNina, Baiq Sri Mulya, SE., MSc., menegaskan bahwa integrasi antara nilai tradisi, kelestarian alam, dan kesejahteraan ekonomi adalah kunci keberlanjutan program ini.
"Alhamdulillah, seluruh rangkaian program ini sengaja kami rancang agar fondasi regenerasinya kokoh, tidak instan. Warna alam yang kita gali dari vegetasi Sembalun ini adalah identitas mutlak. Kita tidak hanya bicara soal menjaga kelestarian ekologi Rinjani, tapi juga bagaimana menaikkan nilai ekonomi tenun agar bisa bersanding manis di dalam ekosistem pariwisata Sembalun. Tenun kita harus berdaulat di tanahnya sendiri," tegas Baiq Sri Mulya penuh optimisme.
Seluruh pergerakan kebudayaan yang dinamis ini dapat terwujud berkat dukungan pendanaan dari Program Indonesia Women’s Rights Fund (IWRF) sebuah inisiatif dari Yayasan Penabulu bersama Uni Eropa yang berkomitmen menyediakan hibah bagi organisasi perempuan di Indonesia.
Sebagai platform inkubasi kepemimpinan perempuan, Komunitas Perempuan SembaluNina telah membuktikan diri. Lewat kerja kolaboratif antarakalangan akademisi, tokoh adat, dan generasi muda, pendekatan berbasis gender terbukti mampu menjadi katalisator tangguh yang memperbaiki ekosistem sosial, ekonomi, dan lingkungan di kawasan Sembalun secara berkelanjutan. Kain-kain itu kini kembali ditenun, dan bersama detak alat gedogan, identitas Sembalun terjaga ingatan.


