Dari Potensi Pesisir Hingga Lereng Rinjani, Menenun Mimpi NTB Mendunia ‎

Panca Nugraha
Rabu, Agustus 12, 2026 | 12.10 WIB Last Updated 2026-08-12T04:10:07Z
NTB MENDUNIA. Tiga produk, tiga cerita, namun memiliki mimpi yang sama: mengangkat potensi lokal, memperkuat ekonomi masyarakat, dan membawa karya NTB menembus pasar yang lebih luas. (FOTO KOLASE / Mandalika Post)

‎Terasi Teluk Jor, Kopi Sajang dan Tenun Sembalun merawat warisan lokal, menggerakkan ekonomi dan membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.

‎MANDALIKAPOST.com – Pagi perlahan menyibak pesisir Teluk Jor, Desa Jerowaru, Lombok Timur. Perahu-perahu nelayan mulai kembali dari laut, membawa hasil tangkapan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.

‎Di kampung pesisir yang berada tak jauh dari kawasan Telong Elong itu, laut bukan hanya tempat mencari ikan. Dari hasil laut pula lahir sebuah warisan kuliner yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat selama puluhan tahun.

‎Namanya terasi. Aroma khasnya mungkin terasa kuat bagi sebagian orang. Namun bagi warga Teluk Jor, aroma itu adalah tanda kehidupan. Ia menjadi bagian dari tradisi keluarga nelayan, sumber penghasilan, sekaligus identitas kuliner Lombok yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

‎Sejak dulu, ketika udang rebon melimpah, masyarakat Teluk Jor mengolahnya menjadi terasi dengan cara sederhana namun penuh ketelatenan. Hasil tangkapan nelayan tidak langsung dijual seluruhnya, sebagian diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

‎Tradisi itulah yang diwariskan kepada Ahmad Turmuzi (27).

‎Ayah dua anak yang masih balita ini memilih meneruskan usaha keluarga yang telah dirintis kedua orang tuanya, Hasbi dan Aminah.


Ahmad Turmuzi dan terasi Teluk Jor.


‎Sejak kecil, Turmuzi sudah akrab dengan aktivitas membuat terasi. Ia melihat bagaimana orang tuanya menjaga kualitas produk, mulai dari memilih bahan baku, mengolah, hingga memasarkannya ke pasar tradisional.

‎"Dulu orang tua hanya menjual ke pasar-pasar sekitar. Saya kemudian berpikir bagaimana usaha ini bisa berkembang dan dikenal lebih luas," ujar Turmuzi kepada Mandalika Post, pertengahan Juli 2026.

‎Keinginan itu mendorongnya melakukan berbagai perubahan.


‎Dari yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan langsung, Turmuzi mulai mencoba memperluas pemasaran melalui jaringan pelanggan dan media digital. Langkah tersebut perlahan membuka peluang baru, hingga Terasi Teluk Jor mulai dikenal konsumen di luar Lombok.

‎"Banyak dari Jakarta dan Surabaya, Namun kalau sekarang kami fokus ke Bali. Alhamdulillah, setiap minggu penjualan bisa mencapai sekitar Rp7 juta sampai Rp10 juta," katanya.

‎Perjalanan tersebut tidak instan. Turmuzi harus melewati masa ketika usaha masih berjalan sederhana dengan pasar yang terbatas. Namun konsistensinya menjaga kualitas membuat produk warisan keluarganya perlahan mendapat tempat.

‎Bahkan, ia memiliki mimpi membuka outlet khusus di Kota Mataram agar Terasi Teluk Jor semakin mudah dijangkau masyarakat dan wisatawan.

‎"Harapannya nanti bisa punya outlet sendiri, supaya orang yang ingin mencari terasi khas Lombok lebih mudah mendapatkannya," ujarnya.

‎Meski mulai berkembang, Turmuzi tetap mempertahankan cara produksi tradisional yang menjadi kekuatan utama produknya.

Terasi Teluk Jor, Aroma Laut yang Menolak Hilang


‎Terasi Teluk Jor dibuat dari udang rebon yang dicampur sedikit ikan pilihan. Seluruh proses dilakukan secara bertahap, mulai dari pengolahan bahan baku, fermentasi, penggilingan, pencetakan, hingga penjemuran.

‎Tidak ada proses yang dilakukan secara tergesa-gesa.

‎Adonan terasi harus dijemur di bawah sinar matahari selama kurang lebih dua hari untuk mendapatkan kualitas terbaik. Proses alami tersebut yang membuat aroma dan cita rasanya tetap khas.

‎"Kalau dijemur alami, aromanya lebih keluar, warnanya bagus, dan bisa tahan lama. Itu yang membedakan terasi kami," jelas Turmuzi.

‎Keunikan rasa dan aroma itu pula yang membuat banyak pelanggan memiliki pengalaman berbeda setelah mencoba Terasi Teluk Jor.

‎"Ada yang awalnya tidak suka terasi, tapi setelah mencoba terasi khas Lombok justru menjadi suka. Karena rasanya memang berbeda," katanya.

‎Namun mempertahankan kualitas terasi tradisional bukan tanpa tantangan.

‎Perubahan cuaca menjadi salah satu persoalan yang mulai dirasakan para perajin. Perubahan iklim ikut memengaruhi aktivitas nelayan dan ketersediaan bahan baku udang rebon.

‎Saat musim hujan tiba, proses produksi juga ikut terganggu karena pengeringan sangat bergantung pada sinar matahari.

‎"Kalau hujan, proses pengeringan bisa terhambat. Kami pernah mencoba oven, tapi hasilnya tidak sama. Aroma dan warna terasi berubah," ungkapnya.

‎Karena itu, inovasi teknologi pengeringan yang tetap mampu menjaga kualitas menjadi salah satu harapan ke depan.

‎Di tengah berbagai tantangan tersebut, usaha Terasi Teluk Jor terus berkembang. Produk yang dulu hanya beredar di pasar tradisional kini mulai masuk ke pasar yang lebih luas.

‎Bahkan, setelah mendapat perhatian melalui berbagai publikasi dan liputan media, jaringan pelanggan semakin bertambah.

‎Kini, dari pesisir kecil Teluk Jor, Ahmad Turmuzi tidak hanya menjaga usaha warisan keluarga.

‎Ia sedang membawa cerita tentang tradisi nelayan Lombok, tentang ketekunan masyarakat pesisir, dan tentang sebuah mimpi besar: menjadikan produk lokal mampu dikenal lebih luas dan menjadi bagian dari semangat NTB Mendunia.

Sajang Coffee, Menyeduh Cerita dari Lereng Rinjani


‎Namun, cerita dari Teluk Jor sesungguhnya bukan cerita tunggal. ‎Di berbagai sudut Lombok Timur, potensi lokal tumbuh dengan wajah yang berbeda-beda.

‎Dari pesisir Jerowaru, masyarakat menjaga warisan rasa melalui terasi. Bergerak ke kawasan kaki Rinjani, masyarakat Sajang dan Sembalun memiliki cerita lain melalui kopi.


Andi Suhandi dan Sajang Coffee.


Andi Suhandi, Owner Sajang Coffee Sembalun, sejak 2019 mengembangkan kopi lokal sekaligus menjadikannya bagian dari pengalaman wisata. 


Berawal dari lapak sederhana untuk memenuhi keinginan wisatawan menikmati kopi asli Sembalun, usahanya kini berkembang menjadi coffee shop sekaligus produsen kopi kemasan yang dipasarkan ke berbagai daerah hingga mulai menjangkau pasar mancanegara.


Bagi Andi, secangkir kopi bukan sekadar minuman. Arabika dan Robusta Sembalun menjadi cara untuk memperkenalkan identitas, alam, dan kekayaan kawasan kaki Rinjani kepada wisatawan.


"Awalnya kami bikin dari lapak kopi sederhana, alhamdulillah sekarang berkembang cukup baik. Kopi asli Sembalun, baik Arabika maupun Robusta, memiliki aroma dan cita rasa yang diminati pencinta kopi. Itu yang membuat kami terpikir untuk mengembangkan usaha ini sebagai cara mempromosikan Sembalun dengan cara yang berbeda," ujar Andi.


‎Melalui pengembangan Sajang Coffee, kopi tidak lagi sekadar komoditas yang dijual dalam bentuk hasil panen. Ada upaya memperbaiki proses pascapanen, meningkatkan nilai produk, memperluas pemasaran, sekaligus memperkenalkan cerita kopi Sembalun kepada konsumen.


‎Kopi kemudian menjadi pintu untuk mengenalkan lebih jauh kehidupan petani dan potensi kawasan Sembalun.

Tenun Sembalun, Merajut Napas Leluhur di Tengah Zaman


Dwi Arizka dan karya tenun Sembahulun Homemade.


‎Dari kopi, cerita kemudian berpindah ke kain tenun.

Di bawah bayang-bayang Gunung Rinjani, Dwi Ariska, memilih jalan untuk menjaga warisan leluhur Sembalun melalui tenun. Baginya, kain bukan sekadar benda pakai, tetapi menyimpan identitas, sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat.


"Kalau dulu, perempuan yang tidak bisa menenun itu dilarang menikah. Istilahnya tidak laku, karena pakaian sehari-hari, sarung, dan selendang harus bikin sendiri," kata Dwi.


Namun tradisi itu menghadapi tantangan regenerasi. Para penenun kini lebih banyak berasal dari generasi tua, sementara membuat satu kain membutuhkan ketekunan dan waktu yang tidak sebentar.


Dwi kemudian berusaha membuat tenun tetap relevan dengan zaman. Melalui Sembahulun Handmade, kain tradisional dikembangkan menjadi berbagai produk seperti tote bag, dompet, tas hingga aksesori yang lebih mudah diterima pasar.


Ia juga mempertahankan penggunaan pewarna alami, seperti kulit mahoni, kunyit, daun kersen dan kulit manggis.


"Kami warnai sendiri pakai pewarna alam. Ada yang dari kulit pohon mahoni, kunyit, daun kersen, sampai kulit manggis," tuturnya.


Upaya itu membawa karya Sembahulun Handmade keluar dari Sembalun. Produk tenun bahkan mulai menjangkau pasar Australia.


Bagi Dwi, pasar yang lebih luas penting, tetapi jauh lebih penting adalah memastikan keterampilan menenun tidak ikut hilang bersama generasi tua.


"Semoga ke depan kalau ada pelatihan dari pemerintah atau siapa pun, itu tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Kami butuhnya pelatihan dan alat tenun gedogan (tradisional), bukan ATBM," harapnya.


Dari tangan Dwi, tenun Sembalun mendapatkan ruang untuk hidup di zaman yang berbeda. Tradisi tetap dipertahankan, sementara bentuk dan pasarnya terus dikembangkan.


Tiga Potensi, Satu Mimpi: Membawa Warisan Lokal ke Dunia


‎Tiga cerita tersebut memiliki bahan baku yang berbeda.

‎Terasi lahir dari laut Teluk Jor. Kopi tumbuh di lereng Rinjani. Sementara tenun lahir dari ketekunan tangan masyarakat Sembalun.

‎Namun ada satu kesamaan: semuanya berangkat dari potensi lokal yang diwariskan, kemudian membutuhkan inovasi, tata kelola, pemasaran, dan keberanian untuk membawanya keluar dari kampung halaman.

‎Di titik inilah pemberdayaan menjadi penting.

‎Sebab menjaga tradisi saja tidak selalu cukup. Warisan harus mampu beradaptasi dengan zaman agar tetap memiliki nilai ekonomi dan diminati generasi berikutnya.

‎Terasi Teluk Jor perlu menemukan pasar baru tanpa kehilangan cita rasa. ‎Kopi Sembalun harus mampu memberi nilai lebih kepada petani.

‎Sementara tenun Sembalun membutuhkan regenerasi agar pengetahuan tentang motif, filosofi, dan teknik pembuatannya tidak berhenti pada generasi tua.

‎Di antara berbagai cerita itulah, peran dunia usaha dalam pemberdayaan masyarakat menemukan relevansinya.

‎Sebagai perusahaan tambang tembaga yang beroperasi di Pulau Sumbawa, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) menjalankan berbagai program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari komitmen sosial perusahaan.

‎Di Lombok, sentuhan tersebut hadir melalui program pembinaan dan pemberdayaan kepada pelaku UMKM.

‎Bentuknya tidak selalu berupa bantuan modal atau peralatan. Penguatan kapasitas justru menjadi bagian penting, mulai dari bagaimana mengelola administrasi usaha, mencatat keuangan, mengatur arus kas, meningkatkan kualitas produk, hingga melihat peluang pasar.

‎Hal itu dirasakan langsung oleh Ahmad Turmuzi, Andi Suhandi, dan juga Dwi Ariska.


Pendampingan AMMAN membantu dirinya melihat usaha terasi tidak hanya sebagai warisan keluarga yang harus dipertahankan, tetapi juga sebagai bisnis yang harus dikelola secara lebih tertata agar dapat berkembang.

‎"Selama ini kami lebih banyak fokus produksi. Bagaimana terasi dibuat, bagaimana pesanan terpenuhi. Setelah mendapatkan pendampingan, kami mulai memahami bahwa pengelolaan usaha juga harus diperhatikan," ujar Ahmad Turmuzi.

‎Kini, usaha tersebut juga memberi dampak bagi masyarakat sekitar.

‎Sekitar 10 warga ikut terlibat dalam proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku, penjemuran, pencetakan hingga pengemasan.

‎"Alhamdulillah sekarang ada warga sekitar yang ikut bekerja. Semoga usaha ini terus berkembang sehingga semakin banyak yang bisa merasakan manfaatnya," kata Turmuzi.

‎Harapan serupa juga muncul dari pelaku UMKM lainnya di Lombok. Mereka tidak hanya membutuhkan pasar, tetapi juga pendampingan yang membantu usaha tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.

‎Vice President Social Impact PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Priyo Pramono, mengatakan pengembangan masyarakat merupakan bagian penting dari keberlanjutan perusahaan.

‎"Kami percaya masyarakat lokal memiliki potensi besar untuk berkembang. Karena itu, pemberdayaan tidak hanya soal memberikan dukungan, tetapi bagaimana membangun kapasitas agar masyarakat mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, memperkuat daya saing, dan membuka manfaat ekonomi yang lebih luas," ujar Priyo.

‎Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya diukur dari kegiatan yang dilakukan, tetapi dari perubahan yang dirasakan masyarakat.

‎"Ketika masyarakat mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, menciptakan peluang kerja, dan menjaga potensi lokal tetap hidup, maka manfaatnya akan tumbuh lebih luas bagi lingkungan sekitar," katanya.

‎Pada akhirnya, cerita Terasi Teluk Jor, kopi Sajang, dan tenun Sembalun menunjukkan satu hal sederhana: Lombok tidak pernah kehabisan cerita.

‎Ada cerita yang lahir dari laut, tumbuh dari tanah, dan dirajut dari tangan manusia.

‎Tugas berikutnya adalah memastikan cerita-cerita itu tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi mampu menjadi sumber penghidupan masa depan.

‎Dari Teluk Jor, dari Sajang, dari kaki Rinjani, mimpi itu terus bergerak—membawa rasa, aroma, karya, dan identitas Lombok menuju pasar yang lebih luas.

‎Dan dari potensi-potensi lokal itulah, mimpi besar tentang NTB Mendunia perlahan menemukan jalannya. (*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari Potensi Pesisir Hingga Lereng Rinjani, Menenun Mimpi NTB Mendunia ‎

Trending Now