![]() |
| Kegiatan Ngopi Ekraf bertema “Karya dan Sinergi Merajut Masa Depan Ekosistem Ekonomi Kreatif NTB” DI kantor Dinas Pariwisata dan ekonomi Kreatif NTB |
MANDALIKAPOST.com — Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispar Ekraf) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) melalui kegiatan Ngopi Ekraf bertema “Karya dan Sinergi Merajut Masa Depan Ekosistem Ekonomi Kreatif NTB”.
Sekretaris Dispar Ekraf Provinsi NTB, Muhamad Erwan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal pemerintah untuk membangun komunikasi yang lebih intensif dengan pelaku ekraf di seluruh NTB.
Menurutnya, komunikasi yang baik penting untuk mengetahui sekaligus memitigasi berbagai persoalan yang dihadapi pelaku ekraf. Dengan demikian, pemerintah dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator, akselerator, sekaligus regulator secara maksimal.
“Tanpa komunikasi yang baik, kita tidak bisa memitigasi persoalan-persoalan yang dihadapi para pelaku ekraf. Dengan komunikasi yang lancar, fungsi pemerintah sebagai fasilitator, akselerator, dan regulator bisa berjalan maksimal,” ujar Erwan pada Kamis (13/8/2026).
Erwan menegaskan, kegiatan Ngopi Ekraf tidak ingin berhenti sebagai sebuah acara seremonial. Dispar Ekraf NTB justru tengah mendorong agar kantor dinas dapat menjadi creative hub atau ruang kreatif bagi para pelaku ekraf.
Ia menyebut sejumlah komunitas dan pelaku kreatif nantinya dapat menampilkan karya mereka di lingkungan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB. Mulai dari pelaku usaha kopi, fotografer, komunitas film hingga musisi.
“Kita ingin bukan hanya persoalan event, tetapi setiap hari harus ada yang kita coba tampilkan dan kita fasilitasi,” katanya.
Peserta kegiatan juga tidak dibatasi pada kelompok tertentu. Dispar Ekraf NTB membuka pendaftaran secara daring bagi seluruh pelaku ekraf di NTB.
Langkah tersebut dilakukan agar kesempatan mengikuti program pemerintah tidak hanya berputar pada pelaku yang sama. Pemerintah juga tengah menyiapkan konsep Ekraf Satu Data untuk memetakan pelaku ekraf berdasarkan tingkat perkembangan dan kebutuhannya.
Erwan mengatakan, nantinya pelaku ekraf dapat dipetakan berdasarkan tingkatan tertentu sehingga bentuk intervensi pemerintah bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
“Belum tentu yang tingkat satu dengan diberikan bantuan modal besar bisa berkreatif. Harus ada tingkatan-tingkatan yang memang harus dia penuhi hak dan kewajibannya, dan pemerintah berperan di dalam tingkatan tersebut,” jelasnya.
Untuk jangka pendek, Dispar Ekraf NTB akan memulai dengan membuka ruang bagi komunitas untuk menampilkan produk dan karya secara rutin di kantor dinas.
Sementara untuk jangka menengah, pemerintah berencana menghadirkan ruang-ruang kreatif dan pusat studio di lingkungan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB.
Sedangkan dalam jangka panjang, Dispar Ekraf NTB memiliki gagasan membangun Nusa Tenggara Creative Hub yang dapat menjadi pusat kreativitas dan mempertemukan 21 subsektor ekonomi kreatif.
Menurut Erwan, keberadaan creative hub juga penting untuk memberikan ruang sekaligus kepastian bagi berbagai komunitas kreatif, termasuk komunitas otomotif dan modifikasi.
Ia menilai pemerintah perlu hadir untuk memberikan fasilitasi dan regulasi yang jelas agar kreativitas masyarakat tidak justru berbenturan dengan aturan.
“Menilai ekraf itu memang tidak mudah, karena abstrak. Itu yang menjadi situasi dan ketakutan teman-teman pelaku ekraf,” ujarnya.
Erwan menambahkan, Dispar Ekraf NTB kini berupaya lebih terbuka terhadap masukan dan kritik dari pelaku ekraf. Menurutnya, kritik terhadap pemerintah harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan dan memastikan pelaku ekraf mendapatkan fasilitasi yang dibutuhkan.
“Kami sadar, sebagai pemerintah ini tidak mudah, kritikan pasti banyak. Tapi kritikan bagi pemerintah haruslah merupakan kritikan yang membuat rakyat bisa terfasilitasi dengan baik. Karena rakyat ini milik pemerintah, pemerintah juga milik rakyat,” pungkasnya.

