![]() |
| Pemadaman: Tim gabungan Polres Lombok Timur bersama personil TNGR dan masyarakat setempat berhasil memadamkan api di kaki Gunung Rinjani, (Foto Rosyidin MP). |
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melahap sekitar 30 hingga 40 hektar lahan tersebut berhasil dikendalikan secara intensif sebelum meluas ke area lain.
Aksi cepat ini melibatkan personel gabungan dari Polres Lombok Timur, Polsek Sembalun, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II BTNGR, Pemadam Kebakaran (Damkar) Lombok Timur, tim Manggala Agni dari Mataram, hingga masyarakat setempat.
Kebakaran mulai terdeteksi sejak Jumat sore sekitar pukul 17.00 WITA berdasarkan laporan dari masyarakat setempat. Titik api menyebar di sekitar area Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung (Petung) yang masuk dalam kawasan konservasi TNGR.
Meski armada pemadam diterjunkan, petugas sempat memicu tantangan karena titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh kendaraan. Tim gabungan akhirnya melakukan aksi pemadaman secara manual menggunakan alat seadanya yakni gepok (ranting pohon) serta jet shooter.
Usaha keras tersebut membuahkan hasil. Tepat pada pukul 01.30 WITA Sabtu dini hari, kobaran api utama dipastikan padam sepenuhnya.
Kapolres Lombok Timur, AKBP Ariakta Gagah Nugraha, mengonfirmasi bahwa penanganan cepat ini sangat krusial untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap aktivitas warga maupun wisatawan.
"Alhamdulillah pada malam hari ini pukul 01.30 WITA api berhasil dipadamkan, sehingga kebakaran tidak merembet ke kawasan lainnya dan mengganggu aktivitas dari wisatawan yang hendak melaksanakan pendakian maupun warga di sekitar lokasi," ujar AKBP Ariakta Gagah Nugraha di lokasi kejadian usai pemadaman, Sabtu (8/8) dini hari.
Terkait penyebab utama kebakaran, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, meski kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan disinyalir menjadi pemicu awal.
"Penyebabnya masih dalam tahap penyelidikan, kita belum bisa mengambil kesimpulan. Namun kondisi cuaca yang ekstrem dan kering memang sangat rentan memicu terjadinya kebakaran hutan," tambah Kapolres.
Guna memastikan situasi benar-benar kondusif, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi. Prosedur pembasahan atau didinginkan (cooling down) dan pemantauan selama 1x12 jam terus diberlakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
Di sisi lain, Kepala Seksi SPTN II Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Lombok Timur, Ma'ruf Hadi, mengapresiasi tinggi kolaborasi solid lintas instansi yang bergerak cepat di lapangan.
"Kami dari Taman Nasional Gunung Rinjani mengucapkan terima kasih kepada Pak Kapolres, teman-teman Manggala Agni, Damkar, dan semua pihak yang sudah berkolaborasi malam ini. Upaya penanganan cepat seperti ini memang harus terus kita tingkatkan," ungkap Ma'ruf Hdi.
Ma'ruf mengakui bahwa keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) serta kendala sumber air di lapangan masih menjadi tantangan utama saat menjangkau titik-titik rawan. Oleh karena itu, BTNGR akan terus menambah kekuatan personel dari resort-resort terdekat, memperketat patroli di kawasan rawan kebakaran, serta memperkuat koordinasi dengan BPBD dan instansi terkait jika dibutuhkan penanganan skala besar.
Mengingat kawasan TNGR merupakan area konservasi yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga, pihak TNGR turut mengimbau masyarakat dan wisatawan agar selalu waspada dan bijak dalam menggunakan api.
"Kami mengimbau masyarakat untuk ikut berperan aktif memitigasi kebakaran hutan, seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar dan menggunakan api secara bijaksana. Laporan cepat dari masyarakat seperti hari ini sangat kami perlukan agar tim bisa langsung bergerak cepat ke lokasi," tutur Ma'ruf menutup penjelasannya.

