Wagub NTB Ajak BKOW se-Pulau Sumbawa Bersinergi Tekan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Ariyati Astini
Kamis, Oktober 22, 2026 | 20.41 WIB Last Updated 2026-10-23T12:41:14Z

 ‎

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, mengajak seluruh anggota Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) se-Pulau Sumbawa memperkuat sinergi dalam upaya menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. 



MANDALIKAPOST.com- SUMBAWA — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, mengajak seluruh anggota Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) se-Pulau Sumbawa memperkuat sinergi dalam upaya menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Langkah kolaboratif ini dinilai penting untuk memperluas edukasi dan meningkatkan efektivitas pencegahan di tengah masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Wagub NTB yang akrab disapa Umi Dinda saat kegiatan sosialisasi di SMKN 3 Sumbawa, Kamis (22/10/2026). Ia menyoroti kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih menjadi perhatian, dengan laporan yang banyak berasal dari wilayah Bima dan Sumbawa.

“Kita ingin melihat apakah dengan keroyokan bersama yang kita laksanakan ini akan ada penurunan angka yang signifikan,” kata Umi Dinda.

Menurutnya, data kasus yang tercatat saat ini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya. Angka tersebut hanya mencakup kasus yang telah dilaporkan, sementara jumlah kekerasan yang tidak terungkap masih belum diketahui secara pasti.

“Angka ini adalah angka yang tercatat, yang sudah dilaporkan. Kita tidak pernah tahu berapa angka yang belum dilaporkan,” ujarnya.

Karena itu, mantan Bupati Bima dua periode tersebut meminta Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) bersama organisasi perempuan lainnya di daerah untuk kembali mengintensifkan sosialisasi secara berjenjang. Edukasi pencegahan kekerasan, menurutnya, tidak cukup hanya menyasar siswa sekolah menengah atas (SMA), tetapi juga perlu menjangkau pelajar sekolah menengah pertama (SMP).

Umi Dinda berharap keterlibatan berbagai organisasi perempuan dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus menjadi upaya bersama untuk mengukur keberhasilan pencegahan kekerasan di masyarakat.

Ia menegaskan, upaya pencegahan tidak boleh berhenti pada mencari pihak yang dianggap bersalah. Pemerintah, pihak sekolah, keluarga, dan organisasi masyarakat perlu lebih fokus merumuskan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

“Kita tidak boleh lagi terus berbicara bahwa ini adalah kesalahan orang tua atau kurangnya pengawasan di lembaga pendidikan. Kalau kita terus hanya mencari siapa yang salah, maka kita akan lupa berbuat apa langkah nyata yang bisa kita lakukan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Umi Dinda juga mengingatkan pihak sekolah agar tidak menganggap remeh kegiatan sosialisasi kepada pelajar. Anak-anak yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia turut mengapresiasi peran para guru, khususnya guru Bimbingan dan Konseling (BK), yang selama ini mendampingi siswa. Menurutnya, perhatian dan dukungan sekolah harus diberikan secara merata kepada seluruh siswa, bukan hanya mereka yang memiliki prestasi akademik.

“Jangan hanya memperhatikan siswa-siswa yang prestasi akademiknya baik. Anak-anak yang belum berkesempatan mendapatkan prestasi akademik juga harus diberikan dukungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan anak tidak semata-mata diukur dari nilai akademik. Kepercayaan diri, kemampuan menghadapi tantangan zaman, serta dukungan lingkungan pendidikan juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak.

Selain lingkungan sekolah, Umi Dinda menekankan pentingnya peran keluarga sebagai tempat pertama bagi anak untuk belajar dan membangun karakter. Ia mengajak para orang tua, khususnya perempuan, untuk menciptakan suasana keluarga yang aman, nyaman, dan bahagia.

“Perempuan yang melahirkan, yang mendidik, yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita harus mampu menciptakan lingkungan terkecil yang bahagia, yaitu keluarga,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar persoalan rumah tangga tidak menjadi beban bagi anak. Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi keluarga, termasuk keterbatasan ekonomi, tidak boleh mengurangi perhatian orang tua terhadap tumbuh kembang dan pendidikan anak.

Umi Dinda menegaskan bahwa pendidikan harus tetap menjadi prioritas dalam keluarga. Keterbatasan ekonomi maupun latar belakang pendidikan orang tua tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.

“Kita boleh miskin, tapi kehidupan anak kita harus sederhana. Kita boleh tidak berpendidikan, tetapi anak-anak kita harus mengenyam pendidikan,” pungkasnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wagub NTB Ajak BKOW se-Pulau Sumbawa Bersinergi Tekan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Trending Now