Iklan Yamaha

Tak Sekadar Tren, Tur Virtual Kini jadi Kebutuhan Pariwisata

MandalikaPost.com
Rabu, Maret 10 | 10.22 WIB
Tur wisata virtual./Ilustrasi.

JAKARTA - Setahun telah berlalu sejak kasus virus corona pertama di Indonesia, membuat warga berhadapan pada kenyataan hidup mereka takkan sama seperti dulu. 


Kebebasan bepergian ke mana saja tanpa mengkhawatirkan soal penularan virus yang bisa terjadi jika lalai menerapkan protokol kesehatan sudah terenggut. Tetapi manusia selalu punya jalan keluar bila berada di bawah tekanan. Inovasi bermunculan. 


Terbukti dari dunia pariwisata muncul tren tur virtual, membuat orang-orang bisa merasa bepergian dari rumah selama terhubung dengan internet. 

 

Pendiri Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief, berpendapat tur virtual bukan lagi tren, melainkan bagian yang kini tidak bisa terpisahkan dari dunia wisata.


"Saya merasa yakin tahun 2021 orang tetap menilai wisata virtual sebagai alternatif, bahkan juga bisa buat pelengkap travel-travel agent yang mau melakukan tur ke sana," ujar Ira.


Ia menambahkan tur virtual juga banyak diminta oleh sekolah-sekolah yang tidak bisa menyelenggarakan karyawisata.


Ira biasanya mengajak serombongan pelancong untuk berjalan kaki menyusuri sejumlah tempat di Jakarta dengan tema yang beragam. Menjelajahi Little India di Pasar Baru, makanan khas Timur Tengah di Cikini sampai berburu jajanan Imlek di Glodok.


Berkat internet, semuanya bisa dijelajahi dan diulik. Ira tidak cuma membuat tur virtual bertema jalan-jalan, dia juga kerap membuat tema khusus, seperti yang berhubungan dengan edukasi, disesuaikan dengan siapa pesertanya. Suatu saat bila kondisi dunia kembali pulih, dia meyakini tur virtual tetap eksis sebagai pelengkap pariwisata.


Kesempatan promosi wisata lokal

Secanggih apa pun tur virtual, memang takkan bisa menggantikan pengalaman datang langsung ke tempat yang diinginkan, mengeksplorasi semuanya dengan panca indera.


Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Alexander Reyaan mengatakan, kepuasan wisatawan ada pada pengalaman yang dirasakan panca indera ketika mendatangi tempat yang dituju.


"Tapi karena lagi pandemi, mobilitas masyarakat untuk bisa wisata dibatasi, maka untuk melengkapi kebutuhan masyarakat pada saat pandemi muncullah wisata virtual," kata Alexander.


Sepanjang masyarakat belum bisa bebas bepergian, wisata virtual menjadi kebutuhan untuk memuaskan dahaga jalan-jalan. Setelah nanti pandemi usai, dia memperkirakan tur virtual masih tetap akan ada, namun untuk kebutuhan - kebutuhan khusus.


Tapi alternatif ini merupakan peluang untuk menggenjot promosi pariwisata dalam negeri. Terlebih di tengah kondisi seperti ini memang wisatawan domestik yang bakal jadi andalan sebelum perbatasan negara bebas dibuka untuk wisatawan asing.


"Kita menganggap kalau wisata virtual ini strategi pemasaran untuk daya tarik wisata, saatnya kita provokasi wisatawan untuk datang kemudian hari," kata Chief Operating Officer Atourin, Reza Permadi Halim.


Atourin awalnya fokus membantu pemakainya untuk membuat rencana perjalanan. Saat pandemi muncul, mereka menawarkan produk baru berupa wisata-wisata virtual.


"Sekarang berkembang ke B2B, seperti anak-anak sekolah, kantor yang tidak bisa outing, kegiatannya diganti secara virtual," lanjutnya.


Berdasarkan data kuartal 4 tahun 2020, Atourin menyelenggarakan 159 tur virtual yang menjangkau 1.555 peserta. Sepertiganya, komposisi terbesar, berlatar belakang swasta atau bisnis, diikuti kalangan akademisi, komunitas dan pemerintah.


Lebih dari setengahnya berdomisili di Pulau Jawa, sisanya dari Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara. Sebagian kecil dari pulau-pulau lain, ada pula segelintir dari mancanegara. Tujuan wisata virtualnya bermacam-macam, tapi setengahnya didominasi jalan-jalan ke tempat di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.


Ketimbang mencari informasi sendirian di dunia maya, mengikuti wisata virtual yang ditemani pemandu bisa menjadi cara efektif dalam menggodok rencana perjalanan mendatang, kata Reza. Peserta bisa mengintip tempat yang ingin dikunjungi, lalu bertanya sepuasnya kepada pemandu yang berasal dari daerah setempat.


"Dengan ikut tur virtual, orang jadi lebih tahu, cukup dua jam tahu mau ke mana sampai tempat makan di mana saja. Banyak informasi yang didapat dan hemat waktu," ujar Reza.


Pergeseran cara liburan ini menjadi peluang untuk para pemandu wisata yang kehilangan pekerjaan akibat lesunya pariwisata. Mereka bisa kembali beraksi meski interaksi berlangsung secara daring. Atourin punya pemandu lokal di semua provinsi.


Ekosistem bisa tercipta dengan melatih pemandu-pemandu wisata agar tidak gagap teknologi juga operator tur yang mengurus bagian teknis sehingga kualitas tur virtual semakin bagus. Awalnya, tidak semua pemandu wisata menyambut konsep jalan-jalan virtual. Tapi belakangan sebagian besar sudah beradaptasi dan terbiasa dengan konsep baru ini.


Berdasarkan data Atourin pada kuartal 4 tahun 2020, ada 1342 orang yang mengikuti pelatihan memandu secara virtual. Tema wisata yang dikuasai rata-rata berkenaan dengan alam, juga sejarah budaya.


Perihal teknis jadi faktor penting dalam sebuah tur virtual. Tujuan yang menarik tanpa dibarengi dengan video dengan gambar kurang jelas akibat koneksi internet yang tidak bagus akan mengurangi kepuasan peserta. Oleh karena itu, kualitas gambar yang disuguhkan bakal mempengaruhi minat peserta.


"Kualitas gambar akan sangat berpengaruh terhadap ketertarikan orang dari destinasi yang saat itu menjadi objek," kata Alex, berdasarkan pengalamannya mengikuti wisata-wisata virtual selama pandemi.


Kekurangan itu dapat ditutupi dengan narasi yang mencuri hati peserta, atau metode lain agar wisatawan daring bisa tetap dimanjakan dengan pemandangan indah dari gawai yang mereka pegang.


Reza mengatakan, masalah internet memang betul-betul krusial dalam menyelenggarakan tur virtual. Para pemandu menyampaikan informasi kepada pelancong daring dengan bermacam metode, disesuaikan dengan kondisi. Dalam kondisi ideal, pemandu betul-betul mengajak peserta ikut menelusuri lokasi secara langsung.


Namun jika koneksi internet tidak bagus di daerah tersebut, pemandu bisa membuat video perjalanan yang sudah direkam sebelumnya. Baru kemudian videonya ditayangkan ketika tur dimulai.


"Di beberapa tempat, paling sering di Toraja, internet susah banget. Kalau ada yang minta (tur) Toraja, pemandu diminta ambil video dulu, nanti dia tinggal jawab pertanyaan setelah itu," jelas Reza.


Dosen Program Studi Pariwisata Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI), Dr. Diaz Pranita, meyakini wisata virtual akan berkembang seiring perjalanan waktu. Bentuknya tidak hanya seperti tur virtual saat ini, tapi akan dibumbui dengan teknologi digital yang lebih canggih serta efek-efek khusus. Pemanfaatan teknologi penting agar tur virtual jadi tidak membosankan.


"Virtual reality yang semakin mendekati reality atau bahkan nanti seperti di negeri dongeng. Who knows kita bisa membuat environment zaman purbakala atau periode tertentu?" kata Diaz.


Dia menambahkan, pemerintah saat ini bisa mendorong para pelaku usaha pariwisata untuk memanfaatkan teknologi digital dengan membuat video atau tur virtual di daerahnya.


"(Video) yang bisa diupload di media sosial secara masif untuk meningkatkan trafik di platform digital dan dibeli oleh pemerintah sehingga pelaku industri juga dapat pemasukan dan konten pariwisata semakin banyak," ujarnya. 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tak Sekadar Tren, Tur Virtual Kini jadi Kebutuhan Pariwisata

Trending Now

Iklan